Posted by: alimtiaz | October 19, 2016

HEI PIDI BAIQ, KENAPA BANG DILAN DAN KAK MELIA PUTUS?

“Bang, bisa nitip buku ga? Kemarin aku ga sempat mampir ke toko buku.” Demikian tanya adikku. Kujawab, “bisa, buku apa Dib? Judulnya?”. Adib adalah nama adikku. Ia baru saja menyelesaikan sarjananya di Bogor. Bulan depan ia akan melakukan ritual akademik yang bagiku melelahkan dan juga “norak”. Seharian duduk nontonin orang dipanggil, setelah itu bubar photo-photo. Belum lagi “gaya solek” yang unik-unik dan sebagian “ga jelas”. Hahaa… Ia kemudian menjawab, “Milea bang. Buku Pidi Baiq”. Ohhh yaa, aku tau, Pidi Baiq. Aku tau adikku punya beberapa karya Pidi Baiq. Jadi aku ga heran kalau ia pesan buku Pidi Baiq. “Oke Dib. Insyaallah nanti abang belikan”. Kujawab dengan singkat dan kuyakikan adikku bahwa aku akan membelikan untuknya.

Demikian kurang lebih percakapanku dengan adikku yang kemudian juga “memaksaku” untuk membaca novel Milea karya Pidi Baiq. Aku tau Pidi Baik. Ya tau aja. Tau namanya. Tau beberapa karyanya. Tapi tidak ada satupun karyanya yang selesai kubaca. Aku lupa tahun berapa pertama kali mendengar nama Pidi Baiq. Mungkin sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu.

Aku tau Pidi Baiq dari adikku. Dia yang suka baca buku-buku Pidi Baiq. Aku ga yakin apa adikku mengoleksi semua buku-buku Pidi Baiq. Tapi seingatku ia suka punya sekitar 5-6 karya Pidi Baiq. Bisa jadi lebih. Aku ragu. Nanti lah aku tanya adikku lagi. Menurut adikku, Pidi Baiq, sudah barang tentu karyanya juga, itu unik. Maksudnya ia punya gaya menulis yang khas, berbeda dengan penulis lain. Yang pernah disebut adikku, kalau ga salah ya, Pidi Baiq itu bahasanya cenderung keremajaan gitu. Maksudnya memang buku-buku Pidi Baiq itu ditargetkan untuk remaja. Begitulah kira-kira.

Dan akhirnya kubeli novel yang berjudul Milea itu. Awalnya ketika kutanya di salah satu toko buku di Jogja, penjualnya bilang sudah habis. Lagi diorder, dan itupun sudah ada yang pesan. Wooowww…! dahsyat juga ne bukunya. Banyak yang beli harus pake antri gitu. Aku cari di tempat lain. Dan alhamdulillah masih ada. Waktu itu tinggal dua lagi. Mungkin kalau aku terlambat datang, juga bakalan habis. Sebetulnya di gramedia ada, tapi aku enggan beli kesana. Karena ga ada diskonnya. Kalau semisal kayak Toga Mas dan Social Agency Baru, pasti ada diskonnya, minimal 15%. Lumayanlah. Ini awal ketertarikanku. Bukunya cepat habis dan banyak yang order.

Tadinya aku juga ingin beli novel sebagai bacaan ketika di rumah (ini ceritanya aku mau mudik dari Jogja ke Banda Aceh, liburan idul adha). Novel kan ringan, bacanya ga pake mikir keras. Juga sebagai pelarian dari keadaaan hati yang tengah ga jelas. Ntah gimana rasanya waktu itu, ga bisa aku jelaskan. Pokoknya waktu itu, ketika mau pulang ke Banda Aceh, hatiku benar-benar rusak. Ga pernah kualami sebelumnya. Ga tau penyakit apa. Semacam remuk gitu. Yang jelas waktu itu yang kepikiran sama aku, obatnya adalah membaca novel. Ada sih obat lain, tapi waktu itu kayaknya ga mungkin. Jadilah.. karena diminta beli, novel itu lah yang jadi pilihanku. Aku ga perlu cari novel yang lain. Dan akupun berkenalan dengan Pidi Baiq, karyanya yang berjudul Milea.

Milea: Suara dari Dilan merupakan serial ketiga dari dua sebelumnya yakni Dilan: Dia adalah Dilanku 1990 (buku pertama) dan Dilan: Dia adalah Dilanku 1991 (buku kedua). Aku baru tau setelah membeli Milea. Ketika mulai membacanya, ternyata ada beberapa keterangan yang merujuk pada buku pertama dan kedua. Ini adalah bukti bahwa aku memang tidak mengikuti karya Pidi Baiq. Ini juga memaksaku untuk membaca seri pertama dan kedua. Kamu bisa bayangkan gimana rasanya baca buku, terus ga nyambung karena ga baca cerita sebelumnya. Ga asyik kan..!! Dan aku baru membaca serial Dilan-Milea ini setelah balik ke Jogja. Adikku ternyata sudah khatam membaca dua seri sebelumnya. Makanya ia hanya pesan Milea.

Itulah awal aku berkenalan dengan seri Dilan-Milea. Juga itu adalah awal aku berkenalan dengan tulisan Pidi Baiq. Selanjutnya aku akan bercerita ulang tentang Dilan-Milea, tentu menurut perspektifku. Setelah membaca, merenungi, dan berkaca pada pengalaman pribadi dan orang lain, aku punya pendapat sendiri. Aku tidak menceritakan secara detail. Aku akan bercerita secara umum, yang menurutku unik, menarik, dan sesuatu. Kalau mau tau cerita detailnya, silahkan baca aja bukunya.

Seri Dilan-Melia ini terdiri dari tiga buku. Dua buku pertama merupakan cerita versi Milea. Maksudnya kedua buku itu berisi tentang kisah Dilan-Milea yang diceritakan oleh Milea. Semua apa yang diingat dan yang ingin diceritakan oleh Milea ada di buku itu. Pidi Baiq menggunakan Milea sebagai orang pertama di dalam kedua buku itu. Seakan-akan Milea yang berbicara dan menuturkan pengalamannya bersama Dilan. Sedangkan buku yang ketiga adalah cerita versi Dilan. Pada buku yang ketiga giliran Dilan yang bercerita tentang kisahnya dengan Milea. Ada beberapa hal yang belum disampaikan oleh Milea, oleh Dilan disampaikan di buku ketiga. Sehingga ceritanya menjadi lebih komprehensif. Cara menulis novel seperti ini, bagiku, unik dan lebih bijak. Di mana kedua belah pihak yang terlibat dalam cerita diberikan kesempatan yang sama untuk bercerita tentang apa yang sudah mereka alami bersama.

Berdasarkan pengakuan Pidi Baiq, novel ini ditulis berdasarkan riset. Artinya pihak-pihak terlibat dalam cerita ini, real adanya. Terutama Dilan dan Milea. Cerita di novel ini benar-benar terjadi. Lalu siapa sebenarnya Dilan dan Milea? Itu bukan urusanku. Hehee.. Novel ini banyak bercerita tentang Bandung, tentang kehidupan anak remaja SMA, dan juga geng motor. Persahabatan dan keluarga juga merupakan tema yang banyak mengambil tempat di dalam novel ini. Aku secara keseluruhan menikmati hidangan kang Pidi Baiq.

Buku ini bercerita tentang cinta-kasih anak remaja SMA tahun 90an, Dilan-Milea. Mereka berpacaran. Saling telepon, menggunakan telepon rumah atau telepon umum. Belum ada handphone/smartphone. Berposes. Keluarga saling kenal. Tapi akhirnya mereka putus. Kemudian berjauhan. Tidak pernah berkomunikasi. Punya pacar baru. Dan akhirnya, Milea bertunangan dengan orang lain, bukan Dilan. Melalui novel ini, baru diketahui ternyata terjadi salah paham di antara keduanya. Ketika pertama kali berkonflik. Awal mulanya adalah karena Milea melarang Dilan gabung dengan geng motor. Karena baru saja salah seorang anggotanya dikeroyok hingga tewas. Milea mencemaskan Dilan. Ia menyuruh Dilan keluar dari geng motor. Karena Dilan enggan mengikuti Milea, akhirnya dia diputus. Setelah beberapa hari, ada gosip tentang Dilan yang sudah punya pacar lagi. Semacam ada cemburu karena mengira setelah putus langsung punya pacar. Milea juga sempat kedapatan oleh Dilan dijemput oleh seorang pria di rumahnya. Ya. Keduanya beranggapan demikian. Lalu? Apakah keduanya benar-benar langsung berpacaran dengan yang baru setelah putus? Silahkan baca novelnya.

Mereka masih saling merindu. Sudah beberapa tahun setelah putus, ketika kuliah, rupanya mereka berdua masih “penasaran” dengan apa yang terjadi ketika putus. Awal putus. Siapa wanita yang bersama Dilan? Siapa pula laki-laki yang bersama Milea? Saling curiga. Semacam ada magnet yang menuntun mereka untuk mencari tau. Bukan untuk kembali lagi. Tapi sekedar tau saja. Kok bisa putus kemudian tidak ada komunikasi lagi. Jarak mereka yang berjauhan, Milea kuliah di Depok dan Dilan d Yogyakarta, membuat mereka semakin jarang berinteraksi.

Ketika masih hangat-hangat baru putus, bunda Dilan pernah meminta Dilan untuk memperbaiki hubungannya dengan Milea. Karena bunda Dilan sangat kenal dan dekat dengan Milea. Udah kayak anaknya. Begitu juga sebaliknya, Dilan juga dekat dengan Ibu dan keluarga Milea. Tapi tampaknya ketika itu, karena ego dan gengsi yang masih tinggi, maklum anak remaja, tidak bisa ketemu. Mereka ngobrol, saling bercerita, tetapi tidak untuk kembali berpacaran. Mereka masih menyimpan rasa, ya rasa yang sangat dalam, tapi keadaan pada saat itu menghendaki mereka untuk selesai.

Buku pertama berisi tentang pertemuan Milea dengan Dilan. Mulai tertarik dengan Dilan. Begitu juga Dilan mulai PDKT dengan Milea. Akhirnya ingin saling mengenal lebih dekat. Dan kemudian berpacaran. Seperti biasa, dalam proses pacaran ini, selalu terlibat pihak ketiga. Ntah itu dari Dilan atau Milea. Ada rasa cemburu dan semacamnya. Wajarlah, namanya aja cinta. Buku kedua, berisi tentang yang manis-manis, indah-indah, juga yang sedih-sedih, menyakitkan. Saling perhatian, saling mengingatkan, sering bersama. Mulai kenal lebih dekat dengan keluarga. Mulai ada cemburu, mulai membatasi. Ada peristiwa Akew yang meninggal karena dikeroyok. Milea mutusin Dilan. Mereka galau, gengsi untuk mulai ngobrol sebenarnya ada apa. Dilan pura-pura mengaku punya pacar. Dan Dilan berpendapat bahwa Milea sudah punya pacar. Mereka benaran putus. Berpisah…!! Cerita ini versi Milea. Mereka berpisah tapi masih saling mencari kabar. Kalaupun tidak mencari, mereka ingin tahu kabar masing-masing. Ungkapan Aku rindu Dilan, Aku rindu Milea, masih sering terucap walau jarak memisahkan mereka. Di akhir buku kedua, setelah menjelaskan keadaannya saat ini, ia bersama dengan orang lain dan sudah dikaruniai anak, Milea mengatakan;

Dilan, kalau dulu aku pernah berkata bahwa aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataanyang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak hanya sampai di hari itu, melainkan juga di hari ini dan untuk selama-lamanya. Karena, sekarang aku mungkin bukan aku yang dulu, waktu membawa aku pergi, tetapi perasaan tetap sama, bersifat menjalar, hingga ke depan!

Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu! Terimakasih, Dilan, kau pernah mau kepadaku. Dan kini, biarkan aku ingin tau kabarmu! Aku rindu kamu! Itu akan selalu.

Selanjutnya, cerita versi Dilan. Buku ketiga. Milea: Suara dari Dilan. Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Di dalam buku ketiga ini Dilan hanya akan menjelaskan beberapa hal yang belum disebutkan oleh Milea. Lebih khusus lagi, Dilan hanya akan memberi respon terhadap buku yang kedua, di mana mereka pacaran lalu putus. Ada beberapa hal yang spesifik yang tidak dijelaskan oleh Milea, oleh Dilan dijelaskan dengan baik. Misalnya, di buku kedua, ketika ayah Dilan meninggal, Milea datang takziyah bersama pacarnya. Di sana ia melihat Dilan bersama seorang perempuan berdiri berdekatan. Pada saat itu Milea berpikir itu adalah pacar Dilan. Itu menutup keinginan Milea untuk menanyakan banyak hal, termasuk perihal “hubungan” mereka. Tapi kemudian di buku ketiga Dilan menjelaskan bahwa perempuan itu adalah sepupunya yang juga datang ke Bandung, ke rumahnya, untuk takziyah. Jadi sifatnya konfirmasi dari buku yang kedua.

Ada juga pengakuan Dilan yang berharap Milea menghubungi duluan ketika baru saja diputusin. Tetapi ketika itu Dilan merasa itu tidak mungkin. Karena mana mungkin Milea yang mutusin lalu dia yang mulai menghubungi. Akhirnya Dilan datang ke rumah Milea. Tetapi ketika sampai, ia melihat Milea dijemput oleh seorang laki-laki. Dilan menyangka itu adalah pacar Milea. Akhirnya keinginan untuk membangun komunikasi lagi kandas sia-sia.

Dilan banyak bercerita tentang kelahpahaman di antara mereka berdua. Dan itu baru diketahui ketika Dilan ngobrol panjang dengan Milea, yang ketika itu keduanya sudah memiliki pacar. Bahkan Milea akan segera bertunangan. Ntah gimana ceritanya waktu itu, aku lupa, Dilan dan Milea akhirnya saling berbagi cerita dan kabar. Mengkonfirmasi hal-hal yang dulu belum sempat dikonfirmasi ketika konflik dan putus. Dan mereka hanya bisa tertawa bersama karena semuanya adalah salah paham. Ya karena keduanya “gengsi” untuk memulai obrolan. Ya karena keduanya hanya melihat yang tampak saja, tanpa bertanya langsung kepada yang bersangkutan.

Ada banyak sekali cerita-cerita detail yang lewat dari ketiga novel ini. Apa yang aku ceritakan ini hanya garis besarnya saja. Jika ingin tau lebih detail, aku sarankan baca saja bukunya. Tidak mengecewakan. Hanya saja, ada beberapa bagian, ketika dialog Dilan dan Milea, terasa garing, tidak renyah, dan terlihat seperti alay. Tapi maklum, cerita anak remaja tahun 90an. Overall sangat enak dibaca untuk tema percintaan remaja.

Di akhir buku ketiga, Dilan mengatakan:
Lia, di mana pun kau berada. Aku tahu bukan itu yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Ini bukan hal yang baik untuk merasakan sebuah perpisahan, tapi sekarang bagaimana caranya kita tetap akan baik-baik saja setelah itu. Menerimanya dengan ikhlas, akan lebih penting daripada semuanya.

Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian, dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. Mudah-mudahan kita kuat, ya Lia, sekuat kehidupan, cinta, dan pemahaman. Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.

Dan sekarang, yang tetap di dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu selalu.

Terima kasih, Lia. Terimakasih kau dulu pernah mau.

Demikian penutup dari Dilan. Dilan dan Milea punya rasa yang sama. Yang ingin kutanyakan dan meminta pertanggungjawaban Pidi Baiq adalah kenapa mereka harus putus? Mereka kan cocok. Hehee… Entah kenapa, aku merasa apa yang dirasakan Dilan dahulu juga pernah aku rasakan dengan perbedaan dalam beberapa hal. Apa yang dialami oleh Bang Dilan, juga aku aku alami. Berpisah dengan orang terkasih. Akupun sama seperti Bang Dilan, sering mengigau secara sadar ataupun tidak dan berucap, “Lia, bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik ya. Aku rindu kamu, Lia.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: