Posted by: alimtiaz | March 9, 2016

Dari Jogja yang Galau; Catatan Gerhana Matahari (09 Maret 2016)

Pagi ini, 09 Maret 2016, seluruh masyarakat Indonesia dapat menyaksikan fenomena alam yang langka, yakni gerhana matahari. Gerhana ini dapat disaksikan secara langsung ataupun melalui televisi. Gerhana juga terjadi secara utuh (total) ataupun sebagian (parsial), tergantung tempat. Di Jogja misalnya, hanya bisa melihat gerhana matahari parsial, sekitar 85%. Di tempat lain, misalnya Palu, Sulawesi Tengah, dapat melihat gerhana total. Ini tergantung kepada posisi perputaran bulan yang menutupi matahari. Proses gerhana ini terjadi kurang lebih 100an menit, dari awal yang hanya tertutup sedikit, hingga tertutup semua bagian matahari, dan kemudian terbuka lagi seperti awalnya. Puncak dari gerhana total terjadi hanya sekitar dua menit saja. Itulah moment yang paling ditunggu-tunggu. Moment keilmuan, moment narsis, moment dimana sebagian daerah menjadi gelap gulita.

Tentu peristiwa ini akan memberikan cerita banyak hal dikemudian hari. Akan menjadi catatan sejarah dikemudian hari, sejarah keilmuan, sejarah kebudayaan, sejarah dalam berbagai aspek. Saya sendiri, beberapa hari yang lalu, sempat membaca beberapa informasi yang ada di surat kabar tentang gerhana matahari yang pada intinya mengatakan jangan sampai melewatkan kesempatan ini. Para ilmuan, peneliti, turis, wisatawan dari belahan dunia datang tumpah ruah ke Indonesia. Mereka pada umumnya datang ke daerah yang terjadi gerhana matahari total, seperti Palu, Bangka Belitung, Palembang dan Halmahera. Dari berita di televisi, di beberapa titik tampak tumpukan manusia menunggu gerhana matahari ini. Juga terlihat di beberapa tempat pusat studi astronimi, juga terjadi lonjakan pengunjung. Alat-alat khusus disediakan mulai dari kacamata yang sederhana hingga teropong yang canggih.

Di sisi lain, ada juga berita yang menunjukkan sebagian besar umat Islam, yang menjadi mayoritas di Indonesia, melaksanakan shalat gerhana matahari, dalam istilah agamanya dikenal dengan shalat kusuf, dibedakan dengan shalat gerhana bulan, yang istilahnya adalah shalat khusuf. Jauh-jauh hari sudah dianjurkan oleh pemuka agama agar diadakan shalat kusuf. Di media sosial, tersebar secara viral bagaimana tata cara shalat kusuf, yang memang berbeda dengan shalat yang biasanya. Di tempat saya tinggal, semalam, pengumaman sudah disampaikan melalui masjid. Isi pengumannya adalah anjuran untuk masyarakat untuk dapat datang ke masjid menunaikan shalat kusuf. Saya sendiri datang ke masjid terdekat. Walaupun hukumnya tidak wajib, tetapi saya melihat banyak masyarakat yang antusias. Di Mesjid tempat aku menunaikan sahalat kusuf nyaris penuh.

Disini dapat kita lihat, ada dua fenomena atau praktik. Pertama, praktik keilmuan atau sains. Ada peristiwa gerhana matahari yang merupakan peristiwa alam dimana ia dapat diamati, diteliti. Orang bule, luar Indonesia, tidak sedikit yang datang khusus ke Indonesia untuk menyaksikan gerhana matahari secara langsung. Bahkan dianatar mereka ada yang datang untuk misi keilmuan, sains. Dan kedua, praktik keagamaan. Sebagian umat Muslim Indonesia melaksanakan shalat kusuf sesuai dengan perintah Rasulullah. Lalu masalahnya apa?

Saya ingin “mengulang” diskusi tentang agama (Islam) dan alam (selanjutnya saya menyebutnya sains). Saya katakan “mengulang” karena diskusi tentang agama (Islam) dan sains sudah lama ada, berabad-abad yang lalu. Dan saya melihat cenderung stagnan, tidak banyak perkembangan. Paham yang dominan berkembang di tengah masyarakat saat ini adalah bahwa agama dan sains itu terpisah, tidak mungkin berjalan beriringan. Hal ini bisa diperhatikan ketika ada yang menyatakan bahwa ilmu agama itu lebih baik daripada ilmu sains. Atau jangan belajar ilmu sains karena ia adalah produk kafir. Di beberapa tempat masih ditemukan pandangan semacam ini.

Dalam Islam, yang saat ini berkembang di Indonesia, setidaknya ada dua arus pemikiran yang berkembang terkait dengan bagaimana pola hubungan antara agama Islam (Qur’an)  dan sains. Yang pertama berada pada aliran Islamisasi ilmu. Bahwa sains, ilmu-ilmu yang modern yang berkembang saat ini, harus diislamkan. Ini diwakili oleh Nuqaib al-Attas. Bagaimana caranya, kita akan diskusikan dalam kesempatan yang lain. Yang kedua, kelompok yang berpandangan pada pengilmuan Islam (Qur’an). Ini diwakili oleh Kuntowijoyo. Dua kelompok ini sampai saat ini masih terus berkembang dengan masing-masing pengikutnya.

Disini saya hendak menawarkan satu perspektif lain, yang belakangan sudah memiliki pengikut yang relatif kuat. Saya tidak bermaksud mengkompromikan kedua pandangan di atas atau menafikan keduanya. Saya ingin membawa para pembaca pada model pemikiran lain yang menurut saya lebih pas dan tepat. Perspektif yang saya maksud adalah paradigma integrasi-interkoneksi yang digagas oleh Amin Abdullah. Sederhananya paradigma ini mengusung sebuah cara pandang yang mengintegrasikan dan menginterkoneksikan agama dan sains. Agama dan sains berada pada posisi yang setara dimana satu dengan yang lain saling membtuhkan dan saling melengkapi. Beragama dengan dan sains, begitu juga sebaliknya. Agama membutuhkan sains, dan sebaliknya, sains membutuhkan agama.

Misalnya saja peristiwa gerhana matahari yang kita alami tadi pagi. Jika menafikan peran sains, maka kita tidak mungkin tahu kapan akan terjadi gerhana tersebut. Kita baru akan tahu ketika peristiwa itu terjadi. Keadaan semacam ini, tentu akan berdampak pada banyak hal. Informasi, kesiapan, dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk mengumumkan. Ibadahpun tidak maksimal. Tetapi kita libatkan sains dalam beragama, maka ibadah akan lebih maksimal. Dengan sains, beribadah lebih mudah. Begitu juga sebaliknya, jika tidak ada agama (dalam hal ini Islam), maka tidak akan ada yang namanya shalat kusuf. Tidak ada yang namanya penghambaan diri kepada Allah, pengakuan bahwa segala kuasa hanyalah milik Allah. Bahwa peristiwa ini tidak akan terjadi kecuali atas kehendakNya dengan perantara alam yang diciptakannya.

Contoh lain adalah penggunaan sains dalam ibadah shalat. Waktu shalat yang terpampang di setiap masjid dan kelender-kelender adalah hasil dari sains. Jika tidak menggunakan sains, maka kita harus melihat pergerakan (posisi) matahari setiap hari. Kita bisa bayangkan bagaimana repotnya. Sudah barang tentu ini memberatkan. Disini sains membantu kita dalam beribadah. Saya yakin seluruh masyarakat Indonesia tidak ada yang menolaknya. Semuanya sepakat.

Tapi anehnya, ada perbedaan dengan penentuan awal bulan puasa ramadhan, idul fitri, dan juga idul adha. Ada semacam ketidak-konsistenan, dalam hal ini adalah pemerintah. Seharusnya, jika sepakat dengan pandangan di atas, tentang penentuan awal waktu shalat dengan menggunakan perhitungan sains, maka demikian pula halnya dengan penentuan awal bulan puasa ramadhan, idul fitri, dan juga idul adha. Sains bisa membantu kita dalam menentukannya. Memang jika merujuk pada nash agama (hadis), cara menentukannya adalah dengan melihat (langsung) bulan. Tetapi, bukankah itu akan “mempersulit” kita dalam menjalankan ibadah. Akan ada ketidakpastian disana. Belum lagi melihat tradisi di Indonesia yang suka mudik. Faktor lain seperti ekonomi, transportasi, dan lain sebagainya harus menjadi pertimbangan. Saya agak heran dengan pemerintah yang belum mau menggunakan sains sepenuhnya dalam penentuan awal bulan ramadhan, idul fitri dan idul adha. Padahal sudah jelas-jelas itu mempermudah. Dan sudah barang tentu lebih akurat. Yang menggunakan sains ada kepastian dan yang tidak menggunakan sains tidak ada kepastian. (diskusi masalah ini sudah banyak ditulis orang secara lebih lengkap dan komprehensif).

Hal yang semacam ini, ketidak-konsistenan, yang perlu diperbaiki dan direnungkan. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti mengapa pemerintah tidak ingin menggunakan sains secara utuh. Masih setengah-setengah. Padahal jikapun pemerintah menggunakan, mereka tidak akan rugi. Bahkan mereka tidak perlu repot mengadakan sidang istbat dan mengutus bawahannya untuk meneropong bulan. Itulah, salah satu alasan, kenapa saya menulis catatan ini. Harusnya dengan peristiwa gerhana matahari ini, pemerintah dapat lebih melek. Merenungkan kembali alasan mereka “menolak” sains. Ternyata masih banyak orang yang berada pada paradigma klasik, bahwa sains dan agama tidak bisa saling melengkapi. Sains itu harus dimanfaatkan untuk kemudahan beribadah kepada Allah.  Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: