Posted by: alimtiaz | January 20, 2014

AGAMA ITU SEPERTI “CELANA DALAM”

Sebelum saya menulis lebih jauh, perlu saya sampaikan disini bahwa tulisan ini terinspirasi dari status facebook dari salah satu teman sekaligus guru saya, mas Sigit. Teman kuliah di Yogya, tetapi beliau sudah senior dibanding saya, dari segi umur maupun keilmuan. Ketika itu ia update status dengan judul yang kemudian menjadi judul tulisan ini. Ketika membaca, saya merasa tertarik. Statusnya unik, “dalam”, dan penuh makna. Menganalogikan agama itu seperti “celana dalam”. Ahh… aku tidak tau apakah analogi ini salah, benar, setengah benar/salah. Yang penting saya tertarik dan ingin bercerita saja. Ingin menulis omong-omong yang bermanfaat. Mungkin. Barangkali bisa menjadi inspirasi bagi para pemangku jabatan untuk penyelesaian konflik-konflik keagamaan yang sering terjadi di Indonesia. Lagi-lagi mungkin. Celana dalam, kenapa ia “disamakan” dengan agama?

Pada tau kan apa itu celana dalam. Sederhananya mungkin pakaian yang ada di bagian dalam. Atau yang secara langsung menutup bagian-bagian “penting” dari tubuh kita ini. Mungkin yang dibawah pusar dan atau yang di atasnya. Ya pokoknya itulah. Celana dalam itu adalah budaya. Celana dalam itu unik. Ia adalah hasil kreasi akal manusia yang berpikir dan berkembang. Kita bisa lihat manusia zaman purba tidak memakai celana dalam. Tidak ada satu helaipun yang menutupi tubuh mereka. Gambaran manusia purna ini bisa ditemui di museum-museum arkeologi, misalnya saja museum Manusia Purba Sangiran yang terletak di Sangiran, Jawa Tengah. Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkunjung kesana. Agak “kaget” dan “risih” sebenarnya bersama-sama dengan teman-teman yang lain melihat patung manusia purba yang “tanpa baju”. “Itu-itu”nya kelihatan, baik yang laki ataupun yang perempuan. Haa.. Mungkin kalau ngeliatnya sendiri sih ga masalah. ^_^. Tetapi setelah gerasi mereka punah, manusia kemudian lebih berbudaya. Yang “itu-itu”nya mulai ditutupi. Mulai dari dedaunan sampai kain sepertinya kita gunakan saat ini. Beberapa tempat di dunia, bahkan di Indonesia sendiri masih ada yang menutup “itu-itu”nya dengan selain kain (benang), biasanya sih daun. Kenapa terjadi proses perubahan? Sudah pasti karena ada proses berpikir. Dan proses ini masih terus berjalan sampai saat ini. Model-model, bentuk-bentuk, akan terus dibuat agar lebih baik dan nyaman dari yang sebelumnya. Bisa dilihat di pasaran berbagai macam merek “celana dalam”. Mulai yang pulahan ribuan hingga ratusan ribu. Banyak deh macamnya. Barangkali menarik kalau dilakukan penelitian tentang “Sejarah Celana Dalam”. Akan kelihatan tu bagaimana perjalanan celana dalam dari masa ke masa. Celana dalam pak presiden, pak jendral, pak guru, bu presiden, bu jendral, bu guru, dan lain-lain. Hihiiii…

“Celana Dalam” memang unik. Pernah ga sih kita sibuk ngurusin “celana dalam” orang. Pernah ga sih kita komentar tentang “celana dalam” orang lain. Misalnya, “eh celana dalam kamu warna apa? Kok pake warna itu? Warna itu jelak? Pake warna ini aja”. Atau misalnya, “celana dalam kamu mereknya apa? Kok ga pake merek ini aja? Merek ini lebih bagus”. Dan masih banyak pertanyaan yang lainnya. Saya rasa kita tidak pernah peduli dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kalaupun ada kita tidak pernah memaksanya untuk memakai seperti apa yang kita pakai. Sekedar berbagi pengalaman, berbagi informasi saja. Yang jelas pada intinya adalah entah warnanya apa, berenda atau tidak, merek mahal atau murah, sudah berapa lama dipakai, sudah dicuci atau belum, atau mungkin sudah sobek sana sini. Itu urusannya sang pemakai dan celana dalamnya. Tidak ada urusan dengan orang lain. Emang ga ada kerjaan yang lebih menarik daripada ngurusin celana dalam orang. Apalagi sampai maksa-maksa harus menggunakan celana dalam seperti apa yang dia pakai. Ya celana dalam itu memang unik. Celana dalam bukan urusan publik, ia urusan masing-masing pribadi.

Lalu apa kaitannya dengan agama? Barangkali seperti celana dalam tadi, agama adalah urusan pribadi masing-masing orang. Agama tidak berada pada wilayah publik, tetapi ia wilayah privasi. Kita ga usah repot dengan agama orang lain. Pun demikian juga orang lain ga perlu repot dengan agama kita. Boleh bertanya-tanya, tetapi sifatnya sharing saja, tidak lebih. Kenapa kita harus ribut, misalnya, ada orang lain memeluk agama bermerek A. Atau teman sekelas kita memeluk agama B. Atau memeluk agama A tetapi tidak sama dengan yang lain yang juga memeluk agama A dalam menjalankan agamanya. Apa urusan kita. Itu kan urusan si dia dengan agamanya. “Itu kan urusan dia dengan celana dalamnya”. Orang lain tidak perlu ribut, ngurusi, bertanya atau apalagi mencoba meluruskan. Tidak memakai celana dalam pun tidak apa-apa. Kan resiko kejepit resleting, digigit semut, atau apapun itu ditanggung masing-masing? Juga kita tidak perlu pamer-pamer celana dalam kayak superman, toh memang selama ini kita tidak pernah melihat orang pamer-pamer celana dalam kan?

Demikian ini apa yang saya pahamai dari status teman saya “agama itu seperti celana dalam”. Saya tidak tau persis apakan teman-teman sekalian bisa memahami logika berpikir di atas. Atau apakan teman-teman sekali bisa menerima analogi dan logika berpikir di atas. Karena ada sebagian orang berpendapat bahwa menganalogikan sesuatu dengan sesuatu itu tidak mudah. Dan sudah barang tentu tidak sama. Tetapi bagi saya, seperti yang sudah disebutkan diawal tadi, ini adalah omong kosong yang bermanfaat. Bukan cerita atau hasil akhir yang saya inginkan. Tetapi proses untuk terus berpikir dan merenung bagaimana “agama” dan atau “celana” dalam tidak diributkan lagi. Dari zaman dulu sampai sekarang, agama selalu saja diributkan. Antara A dan B, B dan C, dan begitu seterusnya. Dan kemudian akhir dari status teman saya tadi diakhiri dengan, “Jadi beruntunglah orang yang berakal dan berilmu, yang dalam pencarian itu selalu ber-tanda tanya, karena bertanda seru dan titik itu adalah tanda orang yang ingkar nikmat akal dan ilmu. Lalu nikmat mana lagi yang kau dustakan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: