Posted by: alimtiaz | September 21, 2013

TEMBORO; POTRET KEHIDUPAN PADA MASA RASULULLAH DAN SAHABAT?

Beberapa waktu yang lalu, “sahabat” karibku, Dinda, mengajakku untuk mengunjungi sebuah pondok pesantren yang ada di Jawa Timur, dikenal dengan nama Pesantren Temboro. Ya Temboro. Temboro merupakan nama kampung dimana pesantren tersebut didirikan. Temboro berada di kabupaten Magetan, Jawa Timur. Nama resmi pondok ini adalah Al-Fatah. Tetapi orang sudah jamak menyebut pesantren ini dengan sebutan nama kampungnya. Sehingga tidak asing lagi. Penyebutan nama pesantren dengan nama kampung tempat ia berada adalah lazim dilakukaan di Indonesia, terutama di Jawa Timur.
Pagi itu, aku berangkat bersama Dinda dari Jogjakarta. Rutenya sederhana saja, naik bus dari Jogja-Surabaya. Ada banyak pilihan bus jika ingin ke Surabaya, ada Eka, Sugeng Rahayu, Mira, dll. Nanti turun di terminal Maospati, Magetan, sebelum terminal Madiun. Trus nanti naik bisa ojek sekitar 3 KM untuk sampai ke pesantren tersebut.. Tetapi kebetulan, di sana ada kenalan Dinda, ustaz Abdul Wahid. Jadi kami dijemput oleh beliau. Eunaaak kan. Dah ada yang jemput. hehe.. alhamdulillah. Dan beliau ustaz Abdul Wahidlah yang menjadi guide kami sepanjang kami di sana. Dari semenjak turun bis sampai nanti naik bus lagi. Hehe.. Asykurukum jazilan ya ustaz. Dan rihlah ubudiyyah kamipun dimulai.

Di dalam perjalanan dari terminal ke stasiun aku banyak bertanya kepada ustaz Abdul Wahid, tidak saja perihal pesantren Temboro, tetapi juga kampung Temboro, bagaimana masyarakatnya, penghasilan utamanya, dll. Dan diskusi ini ternyata tidak berhenti disitu saja. Walaupun Cuma sehari aku berada disana, ada banyak informasi dan pengalaman yang aku dapatkan. Pengalaman-pengalaman itulah yang hendak aku sampaikan melalui tulisan sederhana ini. Menurutku ada banyak hal yang dapat dipelajari dari sana yang tidak semua orang pernah merasakan seperti apa yang kurasakan. Hahaa… gayaa..

Yang pertama kali menarik perhatianku ketika sampai di sana adalah cara berpakaian warga (santri) pesantren Temboro. Bisa dibilang kostum mereka berada diluar kelaziman orang Indonesia pada umumnya. Bagi pria, kostumnya adalah jubah dan sorban. Udah kayak orang-orang Arab lah pokoknya. Terus yang wanitanya pakai jubah wanita (hitam) ditambah dengan cadar (niqab). Udah kayak cewe2 d Arab deh. Hehe.. Jika boleh berpendapat, mereka para penghuni pesantren Temboro dalam hal berpakaian ini merujuk pada tradisi Arab India-Pakistan. Lebih jauh lagi, berdasarkan pengakuan mereka, kostum ini adalah sebagaimana diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah.

Di rumah juga demikian. Ada hijab yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga. Tamu laki-laki tidak bisa seenaknya masuk ke dalam rumah. Kalau tamu perempuan boleh masuk, malah harus. Tidak boleh di ruang tamu. Tamu laki-laki hanya boleh berada di ruang tamu. Boleh masuk ke ruang keluarga kecuali sudah mendapat izin dari kepala keluarga. Ketika seorang istri ingin memberikan hidangan kepada tamu, maka hidangan tersebut disorong melalui hijab sehingga Ibu tetap berada di ruang keluarga. Dan Ayah yang mengambilkannya. Bagiku, dan juga orang Indonesia pada umumnya, ini tampak tidak lazim. Karena di hampir seluruh rumah di Indonesia ini tidak demikian. Tidak ada pake hijab. Tidak ada tutup-tutupan. Menarik sekali.

Demikian juga tradisi makan. menarik. Di sana kalau makan itu beramai-ramai mengunakan nampan. Nampan itu diperuntukkan 4-6 orang (tetapi tergantung ukuran nampannya juga sih). Ada berkah di dalam kebersamaan. Bisa juga untuk menghilangkan sekat-sekat sosial di antara sesama jamaah. Mereka menyakini bahwa begitulah dahulu Rasulullah melakukakannya. Sehingga itu adalah sebuah sunnah dan berpahala serta past ada keberkahannya. Aku pernah ikut makan bersama-sama di atas satu nampan. Asyik memang. Bersama-sama. Tiada sekat.

Dari segi ajaran atau paham, mereka mengaku dari Nabi Muhammad. Kelompok ini atau komunitas Temboro ini sering disebut dengan Jama’ah Tabligh. Dan Temboro merupakan pusat segala aktifitas daripada Jamah Tabligh, selanjutnya disebut dengan JT, Indonesia. Jika membaca sejarah, JT pertama kali muncul di India. Mereka punya ajaran dan paham tertentu. Di antara yang paling mendasar adalah upaya memakmurkan mesjid. Karena bagi mereka mesjid merupakan pusat kegiatan sebagaimana pada masa Rasulullah. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang ada di Temboro adalah bagian kecil dari apa yang ada di India. Saat ini sudah ada ratusan ribu bahkan jutaan pengikut daripada JT ini.

Ada empat hal dasar yang mereka amalkan. Pertama adalah dakwah. Dakwah menjadi modal penting untuk menyebarkan agama Islam. Mengajak untuk mengenal Islam. Dan dakwah merupakan keharusan bagi setiap pribadi muslim. Makanya mereka ada konsep khuruj, keluar untuk berdakwah yang berpusat di mersjid. Kedua adalah ta’lim wa ta’allum. Adalah keharusan untuk mengajar dan belajar. Sehingga semuanya akan terus berputar dan aka nada transfer keilmuan. Ketiga yang juga paling penting adalah zikir. Zikir mengingat Allah. Inilah yang selalu merka praktikkan. Ada konsep i’tikaf, berdiam di mesjid. Yang dimaksudkan untuk melakukan zikir. Dan yang terakhir adalah khidmat. Menikmati, melayani, dan berbuat baik serta akhlak yang benar adalah pesan daripada khidmat ini. Keempat point ini harus menjadi dasar pegangan setian anggota Jamaah. Sehingga akan menjadi pribadi yang sempurna menurut pandangan mereka.

Sebagai catatan saja, bahwa semua akitifitas yang mereka lakukan, yang tampak tidak lazim bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, adalah memiliki landasan filosofis yang sangat mereka yakini. Misalkan tentang memberi hijab di rumah sebagai pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Bisa jadi ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kehormatan wanita-wanita yang ada di dalam rumah. Menjaga pandangan memata anatar lawan jenis adalah hal yang paling penting. Makanya yang wanita semuanya menggunakan cadar. Sama halnya dengan makan bersama yang di dalamnya ada pesan kebersamaan yang itu menunjukkan persatuan umat Islam.

Catatan lain yang mungkin juga “kritik” saya pribadi, bahwa mereka kurang –jika tidak ingin mengatakan tidak sama sekali- memperhatikan kebersihan. Di mesjid debunya luar biasa tebal. Nasi ada dimana-mana. Pakiannya juga tampak sudah kurang cerah. Ketika makan juga begitu. Hal ini penting. Kenapa? Karena ini akan menentukan banyak hal. Misalnya kesehatan para Jama’ah. Bersih itu adalah kesehatan. Tata cara makan bersama-sama juga sebenarnya secara pribadi, bagi saya itu identik dengan tidak bersih. Kita tidak tahu apakah teman kita itu lagi sakit atau bagaimana. Bisa saja tertular. Karenanya itu perlu menjadi perhatian.

Dari sisi budaya, ada banyak hal yang menarik dan saya kira perlu ditindaklanjuti dalam bentuk yang lebih serius, semacam penelitian. Karena disana sendiri bisa dikatakan tengah membangun “peradaban”. Tidak hanya sosial-budaya-agama, dari sisi ekonomipun ada dinamika. Bagaimana kemudian ruko-ruko berdiri. Bagaimana kemudian rumah makan ada dimana-mana. Bagaimana kemudian harga tanah di sekitar kampung Temboro menjadi mahal, seperti harga di kota-kota besar. Padahal di desa tentangga, harganya masih relatif murah. Orang dari seluruh Indonesia datang berkumpul di sana. Ada ribuan santri yang mondok disana. Bagi saya ini menarik sekali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: