Posted by: alimtiaz | February 6, 2013

DARI BALIK BENTENG, AKU MENULIS

buku - tawanan benteng lapis tujuh, novel biografi ibnu sina-500x500Sebuah novel yang berjudul Sajin Qal’ah al-Aswar al-Sab’ah atau dalam edisi Indonesianya adalah Tawanan Benteng Lapis Tujuh karya Husayn Fattahi bercerita tentang riwayat hidup Ibnu Sina, seorang dokter dan filsuf muslim yang hidup pada abad 10 Masehi. Di Barat Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicenna. Salah satu karya monumentalnya, al-Qanun fi al-Thibb, pernah menjadi rujukan utama untuk keilmuan kedokteran selama beberapa abad di dunia Eropa. Beberapa karya lainnya juga lahir dari tangan dingin Ibnu Sina seperti al-Syifa’,. Ia dikenal sebagai ilmuan yang produktif. Tidak hanya itu, pada masa ia hidup, banyak ilmuan yang ingin bertemu dan berguru kepada beliau. Ibnu Sina dianggap sebagai sosok yang turut mempengaruhi ilmu kedokteran modern saat ini. Ya dialah Ibnu Sina.

Abu Ali Ibnu Sina atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Syaikh al-Rais tumbuh besar sebagaimana anak-anak yang lainnya. Ia bermain, belajar, dan juga berbakti kepada orang tua. Satu hal yang mungkin membedakannya dengan yang lain, bahwa ia adalah anak yang tumbuh besar dengan tingkat kecerdasan melebihi rata-rata anak-anak yang hidup di sekitarnya pada masa itu. Awal pendidikanya dimulai dengan menghafal al-Qur’an. Oleh ayahnya, Abdullah, Ibnu Sina kemudian dititipkan kepada seorang guru untuk menghafal al-Qur’an. setelah beberapa saat, gurunya berkomentar, “Ibnu Sina adalah anak yang cerdas. Ia bisa mendahului teman-temannya dalam menghafal al-Qur’an. Ia sangat cerdas.”  Ibunya, Sattarrah, sangat senang mendengar hal itu.  Setelah selasai menghafal al-Qur’an, Ibnu Sina langsung dianjurkan untuk menuntut ilmu kepada siapa saja yang berilmu. Ia kemudian melalangbuana menuntut ilmu kepada syaikh-staikh yang terkenal pada masa itu.

Tradisi yang berkembang pada masa itu adalah bahwa seseorang yang ingin belajar maka ia akan datang secara langsung kepada guru yang dia inginkan. Misalkan si A ingin belajar kepada si C, maka si A akan langsung datang menghadap kepada si C. Jika masih kanak-kanak, maka ia akan diantarkan oleh ayah/wali untuk diserahkan kepada gurunya. Kalau di Indonesia mungkin seperti tradisi pesantren. Sowan gitu lah.. Dan begitulah yang dilakukan oleh Ibnu Sina. Ia belajar dari satu guru ke guru yang lain. Ia belajar ilmu-ilmu agama seperti ushul fikih, tafsir, hadis, sastra arab dan lain-lain. Setelah menguasai itu semua, ia kemudian belajar matematika, handasah, ilmu mantiq (logika), filsafat (hikmah), ilmu hayat, dan lain-lain. Rasa haus akan ilmu selalu membayangi sosok Ibnu Sina. Ia tidak pernah puas dengan satu ilmu, satu guru saja. Ia berpindah dari satu ilmu ke ilmu yang lain sesuai dengan guru yang ia datangi.

Menarik jika membaca pengalaman Ibnu Sina dalam menuntut ilmu. Semenjak kecil hingga dewasa rasa ingin taunya tak pernah pudar. Ia ingin belajar dan terus belajar. Ia belajar dari satu kota ke kota yang lain. Setiap kali ia datang kepada seorang guru, ia tidak akan berpindah ke guru yang lain sebelum ia menguras habis ilmu dari guru tersebut. Ibnu Sina akan berguru kepada yang lain ketika sudah mendapat pesan, “Wahai Ibnu Sina, aku sudah tidak punya ilmu lagi yang dapat kuajarkan kepadamu. Ilmu yang kumiliki sudah kau kuasai seluruhnya. Silahkan kau cari guru yang lain yang dapat memberikanmu ilmu yang lebih banyak.” Semua gurunya berucap demikian kepada Ibnu Sina. Sungguh Ibnu Sina adalah seorang yang sangat cerdas dan sangat loba terhadap ilmu.

Kecerdasan Ibnu Sina ini ternyata tidak lepas dari pantauan kerajaan yang berkuasa di daerahnya pada masa itu. Ketenaran Ibnu Sina sudah sampai ke telinga raja pada masa itu. Dan ia pun kemudian diharapkan dapat mengabdi pada kerajaan. Untuk memberikan masukan-masukan, ide-ide, dan nasihat-nasihat kepada raja. Awalnya ia hanya diminta untuk menjadi dokter pribadi raja, tetapi kemudian ia dipercaya menjadi penasihat raja. Ia juga dipercaya untuk mengelola perpustakaan kerajaan. Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Ibnu Sina bersedia mengabdi pada kerajaan. Dapat memanfaatkan perpustakaan kerajaan bagi penelitian-penelitian yang tengah ia lakukan. Penawaran ini tidak disia-siakannya. Ibnu Sina kemudian lebih sering berada di perpustakaan, disamping juga sebagai penasihat kerajaan.

Dalam perjalanannya, beberapa keputusan yang ditawarkan oleh Ibnu Sina mendapat penolakan dari kalangan elite kerajaan. Ibnu Sina dianggap merusak tradisi kerajaan dan berusaha mengubah hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kerajaan. Salah satunya adalah pemotongan gaji prajurit kerajaan. Ini ditolak oleh para pembesar kerajaan lainnya. Ibnu Sina kemudian diisukan sebagai sosok yang berkepentingan untuk mendapatkan pengaruh dari rakyat. Ia difitnah oleh orang-orang kerajaan yang tidak suka padanya. Dan akhirnya rajapun percaya. Ia kemudian hendak dihukum, tetapi melarikan diri ke tempat lain dibantu oleh para murid-murid dan teman-temannya.

Peristiwa ini tidak hanya sekali dialami oleh Ibnu Sina. Ia beberapa kali diminta oleh raja untuk mengabdi dan membantu kerajaan. Dan ini terjadi dalam wilayah kekuasaan yang berbeda-beda. Setelah ia berpindah ke tempat lain, ada sebuah kerajaan, dan merekapun meminta Ibnu Sina agar bersedia membantu kerajaan. Semua ini tidak lain adalah karena kecerdasan Ibnu Sina. Kepintarannya dalam bidang kedokteran dan beberapa bidang ilmu lainnya menjadikannya sebagai sosok yang disegani dan dihormati. Sebenarnya ia keberatan jika harus terlibat dalam lingkar kerajaan, karena menurutnya disana terletak berbagai macam manusia dengan berbagai bentul kepentingan. Tetapi ia memiliki semangat untuk merubah. Semangat untuk menjadi lebih baik. Itulah mengapa ia bersedia.

Betapapun Ibnu Sina hidup di lingkar kekuasaan, tetapi hidupnya tidak pernah tenang. Selalu saja ia berbuat dibawah tekanan. Ia merasa tidak bebas. Apa yang ia lakukan selalu berada dibawah kontrol. Oleh sebab itu Ibnu Sina tidak pernah bertahan lama hidup di lingkungan kerajaan. Sehingga ia seringkali berpindah dari suatu wilayah kekuasaan ke wilayah kekuasaan yang lain untuk menghindari pengejaran karena dianggap berkhiat oleh kerajaan. Kadang ia menetap di rumah sabahatnya. Kadang ia menginap di tengah jalan. Kadang ia bertempat di rumah seorang ilmuan terkemuka yang baru dikenalnya.

Pernah dalam sebuah peristiwa, sebelum akhir hayatnya, Ibnu Sina tertangkap dan dikurung di benteng (baca: penjara). Ia dianggap berkhianat kepada raja karena sudah menjalin kerjasama (dalam hal tulis-menulis) dengan kerajaan yang lainnya. Ibnu Sina melarikan diri tetapi berhasil ditangkap. Ia dikurung. Hanya satu aktifitas yang boleh ia lakukan, yakni menulis. Selebihnya ia hanya dapat melihat tembok-tembok menjulang tinggi mengelilingi dirinya. Ia diberi makan dan minum, tetapi sekedarnya saja.

Dan tidak lama setelah itu, Ibnu Sinapun meninggal dunia. Ia pergi dengan meninggal sejumlah tulisan yang kemudian menjadi rujukan-rujukan primer bagi orang-orang yang hidup setelahnya. Iya dialah Ibnu Sina yang menulis karyanya dari dalam penjara.


Responses

  1. penulis tertarik ketika membaca akhir paragraf ketujuh dari tulisan ini, dimana dituliskan jika “Sebenarnya ia (Ibnu Sina) keberatan jika harus terlibat dalam lingkar kerajaan, karena menurutnya disana terletak berbagai macam manusia dengan berbagai bentuk kepentingan. Tetapi ia memiliki semangat untuk merubah. Semangat untuk menjadi lebih baik”…. ketertarikan penulis dalam hal ini lebih kepada pengaitannya dengan isu-isu politik yang lagi gencar dalam beberpa hari terakhir. artinya (jika merujuk pada kehidupan Ibnu Sina), secara tersirat memunculkan adanya suatu dilema antara memasuki lingkar kerajaan (lingkup politik/pemerintahan) dengan semangat untuk merubah untuk menjadi lebih baik.
    bagi penulis sendiri, terlibat dalam lingkup politik/pemerintahan merupakan satu jalan untuk membuat perubahan besar yang lebih baik (sebagaimana keinginan Ibnu Sina yang tersirat dalam tulisan ini). namun, disisi lain, niat baik Ibnu Sina justru dihadapkan pada berbagai bentuk kepentingan dan bahkan kebaikannya itu memenjarakan dirinya.
    tanpa mengesampingkan kapasitas keilmuan Ibnu Sina. penulis berpikir jika kita juga perlu untuk melihat kembali sejarah kehidupan Ibnu Sina dalam linkar kerajaan sebagai salah satu referensi dalam menjalani kehidupan. khususnya bagi individu yang ingin terlibat langsung dalam lingkup politik. dalam hal ini, bukan untuk mengikuti jejak Ibnu Sina yang “dipenjarakan”, namun lebih kepada ingin mengetahui “intrik-intrik” politik saat itu sehingga kita bisa terhindar dari hal tersebut ketika menghadapi hal yang serupa…. btw, makasih sahabatq sudah berbagi informasi……

    • wah.. wah.. terimakasih bang komentarnya. panjang sekali dan saya sangat senang sudah diberikan komentar. saya sangat sepakat dengan komentar anda. memang perlu melihat sisi lain dari sosok Ibnu Sina, dalam hal ini adalah praktik politik yang pernah ia jalani. Sebaiknya Ibnu Sina tidak hanya dilihat sbagai ilmuan melainkan juga sebagai politikus, walaupun sebnarnya ia tidak tertarik dengan itu. ia hanya ingin melakukan perubahan dengan terlibat di wilayah kekuasaan/kerajaan. Tidak hanya Ibnu Sina saya pikir, tokoh-tokoh lain juga perlu dilihat bagaimana keterlibatannya dengan kekuasaan/pemerintahan yang ada di zaman ia hidup. jika dapat memahami itu semua, maka kita tidak akan keliru di dalam memahami sejarah…

      ‘ala kulli hal’ asykuruka ‘ala kulaimaat…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: