Posted by: alimtiaz | November 9, 2012

MENUJU POLITIK PRAKTIS; SEPENGGAL CERITA DARI THARIQ MODANGGU

Minggu lalu aku baru saja mengikuti sebuah diskusi yang diadakan oleh LISAfa (Lingkar Studi Agama, Budaya, dan Filsafat) di gedung Hall lantai satu pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. LISAfa merupakan satu kelompok diskusi milik pascasarjana (Agama dan Filsafat) yang berkonsentrasi pada kajian-kajian agama, budaya, dan filsafat. Penggerak dari kelompok disukusi ini adalah teman-teman mahasiswa pascasarjana sendiri. Diantara agenda rutinnya adalah diskusi publik yang diadakan setian tri mingguan. Dalam kesempatan kali ini LISAfa mengangkat tema tentang Demokrasi Indonesia; Belajar Demokrasi dari Kab. Gorontalo Utara. Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini adalah Bapak Thariq Modanggu, salah seorang calon bupati yang pernah maju dan “dikalahkan” oleh keputusan MK. Beliau saat ini juga tengah menempuh pendidikan doktor di UIN Sunan Kalijaga.

Bagiku menarik mengenal sosok Thariq Modanggu ini. Awalnya aku tidak kenal siapa beliau. Aku hadir dalam acara diskusi karena tanggungjawab dan kebutulan temanya juga lumayan menarik. Tetapi setelah mengikuti diskusi selama kurang lebih dua jam dan kemudian sempat berbincang-bincang setelah acara, aku melihat ia sebagai pribadi yang visioner, intelek, punya keinginan untuk merubah ke arah yang lebih baik, sungguh-sungguh, bertanggungjawab, dan juga agamis. Mungkin terlalu dini, dalam waktu hanya 2 jam lebih sedikit, aku menyimpulkan hal ini. Bisa jadi. Tetapi tak tau kenapa aku punya pandangan demikian. Dan aku juga sudah bertanya kepada beberapa teman diskusi yang hadir pada saat itu yang berasal dari daerah yang sama dengan beliau. Semua mereka berkomentar positif. Dan yang menarik juga adalah bahwa beliau adalah satu-satunya calon bupati yang maju dari kalangan akademisi. Beliau maju sebagai calon pada periode 2008-2013. Dan beliau berkata bahwa ia diminta lagi untuk maju pada periode selanjutnya, yakni 2013-2018.

Menurut pengakuan beliau, dalam sikap politiknya, ia banyak terpengaruh oleh pemikir islam kontemporer  yakni Asghar Ali Engineer. Ini terjadi ketika ia mengikuti sebuah seminar international yang diadakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia banyak berdiskusi dengan Engineer dan beliau terpengaruh oleh teologi pembebasan yang diusung oleh Engineer. Karenanya, Thariq Modanggu ingin sekali menyelamatkan rakyat-rakyatnya yang tertindas, yang belum terbebas dari kemiskinan, dari kebodohan, dan dari diskrimasi. Menurutnya kalau hal ini terus dibiarkan saja tanpa upaya perbaikan, mereka tidak akan pernah keluar dari lingkar setan, “miskin-bodoh-sakit”. Mereka harus diselamatkan. Mereka harus memutus lingkar tersebut dan membuat lingkar lain yang lebih baik.

Thariq mengambil keputusan masuk ke dunia politik bukanlah sebuah kebetulan. Ia sebagai seorang akademisi, kerapkali harus berpikir keras dan berulang-ulang tentang pilihannya ini. Ia menjelaskan bahwa politik adalah kendaraan paling “mujarab” dan “ampuh” serta “cepat” dalam rangka mencapai sebuah perubahan yang ideal. Politik adalah kekuasaan. Dengan kekuasaan anda bisa apa saja. Mau baik atau buruk. Mau ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang, anda punya otoritas. Karenanya kekuasaan itu harus dipegang oleh orang-orang baik, bertanggungjawab, dan amanah. Jika tidak, kacaulah negeri ini, kacaulah daerahnya. Baginya politik adalah sarana pencerahan yang paling baik.

Ada tiga hal yang penting dalam berpolitik, yakni how to get, how to use, and how to control. Ini adalah proses yang mesti ditempuh secara baik. Di sinilah etika berpolitik bermain. Yang tidak punya etika, punya 1001 cara untuk memenuhi hasrat politiknya. Uang? Bukanlah masalah. Dan hal inilah yang dialami oleh Thariq Modanggu. Beliau mengakui politik saat ini adalah money oriented. Apa-apa uang. Tidak ada uang pulang saja. Haa.. Untuk menang itu ada tiga syaratnya, yakni mengisi pikiran, mengambil hati, dan mengisi kantong. Nah, yang ketiga ini yang susah. Tidak semua orang bisa. “Klu isi kantongnya sedikit, mana ada orang mau milih”. Demikian menurut Thariq. Lebih lanjut ia menyeburkan, “Di sinilah sebenarnya posisi saya. Bagaimana saya bisa mengubah paradigma ini. Sulit memang. Tetapi bukan tidak bisa. Saya sangat yakin bisa. Kita orang sekolah kok. dah master lagi. Sebentar lagi mau doktor. Masa’ iya intelek tidak bisa mengalahkan politisi yang sebagian besar tidak sekolah.” (hahaha… disambut tawa para peserta diskusi yang berjumlah sekitar 30 orang). Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Pada pemilihan sebelumnya, seharusnya Thariq memenangi pemilu. Tetapi setelah penghitungan selesai, ada pengaduan dari pihak yang kalah ke MK dan akhirnya beliau harus kalah atas keputusan MK. (waaw.. apa masalahnya).

Ada satu problem pelik yang ada di masyarakat. Dan ini menurut beliau tidak hanya terjadi di Gorontalo Utara tetapi di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Apa itu? Bahwa masyarakat belajar agama tetapi tidak belajar bagaimana beragama yang benar. Akibatnya apa? “Banyak orang milih itu bukan karena calonnya, tetapi karena apa yang ia dapatkan. Ini terjadi. Saya sedih kalau melihat orang-orang yang seperti ini. Makanya saya ingin merubah ini semua. Saya sangat yakin bisa.” Demikian beliau menyatakan dengan penuh optimisme.

Dalam diskusi ini juga ada beberapa hal yang ditanyakan kepada Thariq. Seputar stategi, trik, apa nilai tawarnya, apa yang bisa dijanjiakan, dan beberapa hal yang lainnya. Bagiku ada satu hal yang cukup menarik yang dilakukan oleh Trariq dalam menarik simpatik masyarakat. Biasanya para calon bupati atau gubernur memasang baleho besar bergambarkan calon dan bertuliskan nama diikuti dengan visi-misi. Berbeda dengan Thariq. Ia tidak melakukan itu. Ia hanya menuliskan namanya di papan baleho yang backgroundnya berwarna hitam. Namanya ditulis dengan warna putih. Menarik. Orang akan bertanya-tanya, siapa dia. Maksudnya apa. Apa tawarannya. Dan secara tidak langsung, nama Thariq lebih sering disebut-sebut sehingga ia familiar di tengah-tengah masyarakat. Dan ini menurut Thariq merupakan sebuah kesuksesan untuk membangun opini tentang “Thariq”. Hehehe… cara yang unik memang.

Dan akhirnya, dengan segala optimism beliau akan maju kembali pada pemilkada periode 2013-2018. Bagi beliau, perjuangan belem berakhir. Walau sebagai akademisi, nalar dan hasrat politik beliau sangat kuat dan tajam. Sepintas beliau adalah sosok yang visioner. Menginginkan perubahan besar bagi kemakmuaran masyarakat. Beliau memiliki kemampuan cipta (opini dan ketergantungan) dan kemampuan generalis yang menjadikan beliau banyak tahu tentang apapun. Selamat berjuang Pak..!

NB: Ini adalah blog beliau http://thariqmodanggu.wordpress.com


Responses

  1. Waow.. akademisi mencoba wilayah politis, why not,, sangat menarik!! patut djadikan contoh sekaligus motivasi bagi yg berminat..*_^
    Trimakasih Bang, semoga tlisannya membawa pencerahan…hehe^_^

    • hehee… pertanyaanny adalah.. Why Not??? buktinya pak Thariq bisa kan… apakah anda berminat Zee? hee… iya sama2 Zee. terimakasih juga sudah sering membaca tulisan2ku… salam bloggers!

  2. Good Luck My Brother…

  3. selamat berjuang sobat, kami mendukungmu. Jangan sampai terulang lagi, kebaikan dan kebenaran dikalahkan kejahatan yang diorganisir dan terstruktur.

  4. Slamat berjuang pak,kami segenap rakyat gorut khususnya sumalata timur,menginginkan perubahan di daerah ini. Good luck..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: