Posted by: alimtiaz | August 12, 2012

APA SYUKUR ITU…

PENDAHULUAN

Syukur adalah rasa terimakasih. Sering kita mendengar dalam bahasa arab ucapan “syukran”, yang artinya adalah terimakasih. Biasanya ucapan terimakasih disampaikan bilamamana kita menerima sesuatu dari seseorang. Dan itu merupakan hal yang lazim dilakukan.

 Bila hal di atas ditarik pada ruang yang lebih sempit, artinya bahwa bila berbicara tantang syukur di dalam Al Quran, maka tidak terlepas dari Allah SWT dan nikmat-Nya. Allah selaku sang Khaliq tidak akan membiarkan hambanya hidup dengan kesengsaraan. Ia pasti akan selalu memberikan nikmatnya yang tak terhingga jumlahnya agar hamba-hamba-Nya dapat hidup dengan baik.

Namun, menurut hemat penulis Allah memberikan nikmat tersebut dengan keinginan agar hambanya pandai dalam mensyukuri nikmat. Sehingga arti syukur sejalan dengan keterangan yang diatas. Adakalanya rasa syukur tersebut berbentuk ucapan dan bisa juga berbentuk perbuatan.

Kata syukur dengan berbagai bentuknya ditemukan di dalam Al Quran sebanyak enam puluh enam kali. Nah, sejauh mana Al Quran berbicara tentang syukur dan bagaimana sikap ideal seorang hamba dalam mensyukuri nikmat Allah SWT. Di dalam makalah ini, penulis akan sedikit berbagi pengetahuan berkenaan dengan hal yang diatas. Semoga dapat menambah pengetahuan kita bersama.

PEMBAHASAN

Al Quran Surat Ibrahim (14): 7:

øŒÎ)ur šc©Œr’s? öNä3š/u‘ ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã ӉƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Tafsir mufradat:[1]

Ta`azdzdana                : memaklumkan.

Syukur                         : menampakkan, memuji kepada Allah, mengarah kepada hal yang    hak, cinta kebaikan untuk manusia, dan mengarahkan seluruh   anggota tubuh serta semua nikmat yang diperoleh kepada ketaatan-  Nya. [2]

Kufur                          : lawan kata syukur, mengingkari dan menyembunyikan.

Al Maraghi dalam bukunya -Tafsir Al Maraghi- mengawali pembahasan ayat ini dengan perkataan “Dan ingatlah, hai bani Israil, ketika Allah memaklumkan janji-Nya kepada kalian dengan berfirman jika kalian mensyukuri nikmat penyelamat dan lain-lain yang aku berikan kepda kalian, dengan menta’ati Ku dalam segala perintah dan larangan, niscaya Aku akan menambah nikmat yang telah Ku berikan kepada kalian”.

Beliau menganalogikan syukur sebagai berikut: “Bila anggota tubuh dilatih terus menerus untuk bekerja dan berbuat, maka dapat dipastikan akan bertambah kuat dan sehat. Tetapi apabila diberhentikan, maka akan melemahlah ia dan berkuranglah tenaganya. Sama halnya dengan syukur nikmat, bila kita terus menerus mensyukurinya, maka kita akan merasakan hal yang lebih besar dan banyak. Tetapi bila kita berhenti -tidak bersyukur-, maka ia akan berkurang.[3]

Intinya bahwa barang siapa bersyukur kepada Allah atas rezeki yang dilimpahkan kepadanya, maka Allah akan melapangkan rezekinya. Barang siapa bersyukur atas nikmat kesehatan, maka Allah akan menambah kesehatannya. Dan begitulah seterusnya.

Tidak jauh berbeda dengan Al Maraghi, Hamka  di dalam bukunya -Tafsir Al Azhar- juga menjelaskan bahwa yang menjadi mukhatab dari ayat di atas adalah Bani Israil setelah dibebaskan dari penindasan Fir’aun. Kebebasan ini merupakan hal yang patut disyukuri. Dalam beryukur tetaplah berusaha guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Hamka menyebutkan bahwa kaum Bani Israil harus dapat bangkit kembali tanpa mengeluh atas nikmat yang menurut mereka sangat sedikit dan terbatas. Bila mengeluh -ini kurang, itu tidak cukup- maka itulah yang disebut dengan kufur, melupakan nikmat Tuhan, tidak tau terimakasih.[4]

Sementara Quraish Shihab dalam buku tafsirnya “Tafsir Al Misbah” menafsirkan ayat ini dengan memulai perkataan Musa kepada kaumnya: “Dan ingat jugalah nikmat Allah kepada kamu semua tatkala Tuhan  pemelihara dan penganugerah aneka kebajikan kepada kamu memaklumkan: “Sesungguhnya Aku, yakni Allah bersumpah demi kekuasaan-Ku, jika kamu bersyukur pasti Aku tambah nikmat-nikmat-Ku kepada kamu karena sungguh nikmat-Ku amat melimpah. Karena itu berharaplah yang banyak dari-Ku dengan mensyukurinya dan jika kamu kufur, yakni mengingkari nikmat-nikmat yang telah aku anugerahkan, dengan tidak menggunakan dan memanfaatkannya sebagaimana Aku kehendaki, maka akan Aku kurangi nikmat itu bahkan kamu terancam mendapat siksa-Ku sesengguhnya siksa-Ku dengan berkurang atau hilangnya nikmat itu, atau jatuhnya petaka atas kamu akan kamu rasakan amat pedih.[5]

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa jika bersyukur maka pasti nikmat Allah akan ditambah, tetapi ketika berbicara tentang kufur nikmat, tidak ada penegasan bahwa pasti siksa-Nya akan jatuh. Ayat ini hanya menegaskan bahwa siksa Allah amatlah pedih. Dengan demikian, penggalan akhir ayat ini dapat dipahami hanya sekedar ancaman. Di sisi lain, tidak tertutup kemungkinan  keterhindaran dari siksa duniawi bagi yang mengkufuri nikmat Allah, bahkan boleh jadi nikmat  tersebut ditambah-Nya dalam rangka mengulur kedurhakaan.

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat antara lain menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Ini berarti setiap nikmat yang dianugerahkan Allah, menuntut perenungan, untuk apa ia dianugerahkan-Nya, lalu menggunakan nikmat tersebut dengan tujuan penganugerahannya.

Al Quran Surat Luqman (31): 12:

ô‰s)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±tƒ $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o„ ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ӊ‹ÏJym ÇÊËÈ

Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Tafsir mufradat:[6]

Luqman                       : dia adalah seorang tukang kayu, kulitnya hitam dan termasuk diantara penduduk Mesir yang berkulit hitam, hidupnya sederhana, dan Allah telah memberina hikmah dan menganugerahkan kenabian kepadanya.

Hikmah                       : kebijaksanaan dan kecerdikan.

Ayat ini terkait dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya Allah menjelaskan kerusakan aqidah orang-orang musyrik dan mengatakan bahwa orang musyrik adalah orang yang zalim, lalu melanjutkan dengan penjelasan nikmat-nikmat Tuhan yang tampak maupun yang tidak. Dan semua itu menunjukkan ke-Esaan-Nya. Dan Allah talah memberikan ilmu dan hikmah kepada sebagian hamba-hamba-Nya, seperti Luqman.

Tafsiran Al Maraghi: Dan sesungguhnya Allah telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu selalu bersyukur dan memuji kepada-Nya atas apa yang telah diberikan kepadanya dari karunia-Nya, karena sesungguhnya hanya Dialah yang patut untuk mendapat puji dan syukur itu. Di samping itu, Luqman selalu mencintai kebaikan untuk manusia dan mengarahkan semua anggota tubuhnya sesuai dengan bakat yang diciptakan untuknya.

Dan bagi yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya manfaat dari syukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnyya Allah akan melimpahkan kepadanya pahala  yang berlimpah sebagai balasan dari-Nya, atas rasa syukurnya dan Dia kelak akan menyelamatkannya dari azab. [7]

Dan bagi siapa yang kafir atas nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, maka dia sendirilah yang menanggung akibat buruk kekafirannya, karena sesungguhnyya Allah akan menyiksanya karena kekafirannya terhadap nikmat-nikmat-Nya. Dan kekufuran hamba tidak akan mengurangi kebesaran kerajaan-Nya.

Quraish Shihab menyebutkan bahwa ayat ini berisikan tentang Zat yang menjadi tujuan hamba-Nya bersyukur. Segala bentuk kesyukuran harus ditujukan kepada Allah SWT sebagai sang Pemberi nikmat. Akan tetapi tidak dilarang untuk bersyukur (berterima kasih) kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah.

Kata hikmah di dalam ayat diatas memiliki beberapa makna. Pertama, hikmah berarti mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan. Ia adalah ilmu alamiah dan amal ilmiah. Ia adalah yang ilmu didukung oleh amal, dan amal yang tepat didukung oleh ilmu. Kedua, hikmah adalah sebagai sesuatu yang bila digunakan atau diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang lebih besar dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar.[8]

Seseorang yang memiliki hikmah harus yakin sepenuhnya atas pengetahuan dan perbuatan yang dilakukan, sehingga ia melakukan sesuatu dengan penuh percaya diri dan tanpa ragu-ragu.

Kemudian berkenaan dengan penggunaan fi’il mudhari’ pada kata yasykuru dan fi’il madhi pada kata kafara, menurut penulis Quraish Shihab telah memberikan keterangan yang cukup jelas. Ia menyebutkan bahwa Al Biqa’i memperoleh kesan dari penggunaan bentuk mudhari’ itu bahwa siapa yang datang kepada Allah pada masa apapun, Allah menyambutnya dan anugerahnya senantiasa tercurahkan kepadanya sepanjang amal yang dilakukannya. Disisi lain kesyukuran itu hendaknya ditampilkan secara bersinambung dari saat ke saat. Sebaliknya, penggunaan kata kerja masa lampau pada kafara adalah untuk mengisyaratkan bahwa jika itu terjadi, walau sekali maka Allah akan berpaling dan tidak akan menghiraukannya. Berbeda dengan Al Biqa’i, Thabatha’i memperoleh kesan lain. Menurutnya penggunaan kata kerja mudhari’ pada kata syukur, mengisyaratkan bahwa syukur baru bermanfaat jika bersinambung, sedang mudharat kekufuran telah terjadi walau baru sekali.[9]

Hamka, salah seorang mufassir Indonesia menyebutkan bahwa Luqman telah diberikah hikmah oleh Allah SWT. Sehingga ia akan terlepas dari kesesatan yang nyata. Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa tiap-tiap orang yang telah diberi taufiq oleh Allah sehingga perbuatannya sesuai dengan pengetahuannya, atau amalnya dengan ilmunya, itulah orang yang telah mendapatkan karunia hikmah.

Syukur, sebagaimana disebutkan Quraish Shihab, mencakup tiga sisi. Petama, syukur dengan hati (kepuasan batin atas anugerah). Kedua, syukur dengan lidah (mengakui anugerah dan memuji pemberinya). Ketiga, syukur dengan perbuatan (memanfaatkan anugerah sesuai dengan tujuan pemberian anugerah tersebut).

Melihat dua ayat di atas beserta penafsiran-penafsirannya, penulis berasumsi tidak ada hal yang perlu dikomentari lebih lanjut. Hanya saja, yang perlu adalah bagaimana membentuk diri sejalan dengan yang diinginkan Al Quran berdasarkan penafsiran-penafsiran yang ada. Dan bila memungkinkan, dapat menjadi seperti Luqman dan bahkan lebih. Karena kita sering terlena dengan nikmat-nikmat Tuhan tanpa menyadari bahwa itu semua bukanlah semata-mata hasil usaha kita, akan tetapi merupakan nikmat pemberian Tuhan.

Banyak hamba-hamba Allah yang tidak menyadari kehadiran nikmat Allah. Dan biasanya seorang hamba akan merasakan nikmat tersebut bilamana ia sudah dicabut dari dirinya. Seperti nikmat sehat, kita baru akan merasakan alangkah nikmat sehat itu bila ia sudah diambil atau sudah merasakan sakit. Dan begitulah yang lainnya.

Ayat-ayat lain yang berbicara tentang syukur:

 Al Quran Surat Al Kahfi (18): 78:

tA$s% #x‹»yd ä-#tÏù ÓÍ_øŠt/ y7ÏZ÷t/ur 4 y7ã¤Îm;tRé’y™ È@ƒÍrù’tGÎ/ $tB óOs9 ìÏÜtGó¡n@ ÏmøŠn=¨æ #·Žö9|¹ ÇÐÑÈ

Artinya: Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Al Quran Surat Al Ahqaf (46): 15:

$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ $·Z»|¡ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $\döä. çm÷Gyè|Êurur $\döä. ( ¼çmè=÷Hxqur ¼çmè=»|ÁÏùur tbqèW»n=rO #·öky­ 4 #Ó¨Lym #sŒÎ) x÷n=t/ ¼çn£‰ä©r& x÷n=t/ur z`ŠÏèt/ö‘r& ZpuZy™ tA$s% Éb>u‘ ûÓÍ_ôãΗ÷rr& ÷br& tä3ô©r& y7tFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥’n?tã 4’n?tãur £“t$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm9|Êös? ôxÎ=ô¹r&ur ’Í< ’Îû ûÓÉL­ƒÍh‘èŒ ( ’ÎoTÎ) àMö6è? y7ø‹s9Î) ’ÎoTÎ)ur z`ÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÊÎÈ

Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa syukur merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhannya. Syukur dapat berupa ucapan, seperti lafadz alhamdulillah dan bentuk-bentuk lainnya. Syukur juga dapat berupa perbuatan, seperti menjaga kesehatan dengan cara makan teratur pada waktunya, tidur secukupnya, dan lain sebagainya.

Hal lain yang dapat disimpulkan adalah perintah untuk bersikap proporsional. Artinya adalah kita selaku hamba Tuhan harus dapat melakukan seuatu berdasarkan ilmu-ilmu yang mantap. Dan mampu meletakkan sesuatu sesuai dengan fungsinya.

Demikianlah makalah ini disusun semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua atau paling tidak menjadi sebuah pancingan untuk mengkaji lebih dalam tentang ayat-ayat Al Quran khususnya tentang syukur.

DAFTAR PUSTAKA

Al Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al Maraghi terj. Al Humam MZ. Semarang: Toha Putra, 1974.

Hamka. Tafsir Al Azhar.  Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Shihab, M. Quraish. Wawasan Al Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2007.  

 


[1] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi 12  terj. Al Humam MZ (Semarang: Toha Putra, 1974), hlm. 222.

[2] Quraish Shihab yang mengutip dari buku Maqayis Al Lughah karya Ahmad Ibnu Faris menyebutkan ada empat arti dasar dari kata syukur, pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Kedua, kepenuhan dan kelebatan, seperti kalimat syakarat al syajarah. Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan, atau alat kelamin.

[3] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi 12  terj. Al Humam MZ, hlm. 226.

[4] Hamka, Tafsir Al Azhar juz XIII-XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 122.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran Vol 7 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 14.

[6] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi 27  terj. Al Humam MZ, hlm. 145.

[7] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi 27  terj. Al Humam MZ, hlm. 147.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran, hlm. 121.

[9] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran…., hlm. 123.

 

Disampaikan dalam kuliah Tafsir Akidah yang diampu oleh Bapak Dr. Mahfudz Masduku, MA pada tahun 2009.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: