Posted by: alimtiaz | July 19, 2012

SUKU PEREMPUAN DI PAPUA

Beberapa hari yang lalu aku baru menonton sebuah film yang berjudul “Lost in Papua”. Film ini dirilis pertama kali pada Maret 2011 yang disutradarai oleh Irhamacho bahtiar yang dibintangi oleh Fanny Fabriana (Nadia) dan Fauzy Baadillah (David) serta beberapa yang lain. Film ini menceritakan tentang pertualangan seorang perempuan (Nadia) beserta beberapa temannya di pedalaman hutan rimba  papua. Berawal dari rasa penasaran dan juga keingintahuannya atas peristiwa yang menimpa tunangannya, Rangga (Edo Borne), tiga tahun silam, mereka melakukan perjalanan. Pada saat itu, Rangga beserta timnya hendak menjalankan sebuah misi eksplorasi mencari titik tambang. Namun karena terlalu asyik, tanpa disadari mereka telah memasuki wilayah terlarang yang dikenal dengan sebutan RKT 2000, lokasi yang belum pernah dijelajahi oleh siapapun bahkan warga lokal setempat.  Dan setelah itu, Rangga dan teman-temannya tidak pernah kembali lagi hingga saat dimana Nadia akan memenuhi rasa penasarannya pergi ke Papua. Mereka hilang di tengah hutan belantara papua. Nadia melakukan ini semua, mau masuk ke hutan papua yang “mistis”, karena satu hal yaitu Ce-I-eN-tE-A.

            Singkat cerita, Nadia akhirnya siap-siap untuk berangkat ke Papua. Awalnya ia bersama Kayla (Fahrani)  ditugaskan oleh bosnya Pak Wijaya (Didi Petet) ke Papua. Tetapi sebenarnya Nadia sudah menyiapkan agenda lain, dan tampaknya lebih penting yaitu menggungkap misteri kehilangan Rangga bersama timnya, seperti yang telah disebutkan di atas. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, Nadia bersama beberapa temannya akhirnya berangkat. Sebelum itu, kakek Nadia (Piet Pagau) menitipkan sebuah cinderamata kepada Nadia untuk diberikan kepada untuk kepala suku Korowai yang pernah menyelamatkan nyawanya di masa perjuangan lalu.  Di papua sudah ada orang yang menjemput rombongan Nadia ini.

Sesampainya di Papua, Nadia langsung jatuh hati dengan keindahan alam papua. Lautan, hutan, dan juga budaya setempat membuat Nadia semakin betah untuk tinggal lebih lama di Papua. Namun, betapa pun demikian ia tetap tidak lupa dengan misi awalnya. Ia kemudian mencari-cari informasi seputar peristiwa yang telah terjadi tiga tahun lalu. Ia bertanya ke beberapa warga pribumi tentang wilayah, jalan yang bisa ditempuh, dan lain-lain. Dan akhirnya ia menemukan seorang pribumi yang mau menemaninya untuk sampai ke wilayah dimana Rangga dan timnya hilang. Sebuah daerah yang berada di pedalama Papua. Di sana ada tinggal sebuah suku, Korowai namanya. Menurut informasi, di suku itu lah terakhir kali Rangga istirahat bersama timnya sebelum kemudian hilang ketika melanjutkan perjalanan ke wilayah berikutnya.  Tanpa pikir panjang, Nadia memutuskan untuk secepatnya beergerak. Baru saja beberapa hari menginap di Papua, Nadia nekat untuk pergi ke tempat tersebut.

Perjalanan ini cukup berat. Itulah yang harus benar-benar dipahami oleh Nadia dan kawan-kawan. Tidak hanya harus menghadapi medan yang cukup berat, mereka juga akan bertaruh nyawa dengan suku-suku yang ada di tengah hutan. Salah-salah bersikap, salah-salah berkata, maka akan dibunuh. Hutan Papua yang masih cukup lebat membuat mereka harus ektra hati-hati dalam menentukan arah perjalanan. Jika tidak, maka akan tersesat dan tidak akan pernah kembali lagi. Demikian pendapat yang berkembang. Keadaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nadia, mengingat dia memang sosok yang suka bertualang. Apalagi kali ini misinya adalah cinta, ingin menunjukkan kesetiaan cintanya pada Rangga, tunangannya.

Tujuan utama perjalanan Nadia kali ini adalah sampai di suku Korowai. Sebuah suku yang hidup di pedalaman hutan papua, belum tersentuh modernitas, pakaian koteka, bahasa lokal, dan berada di wilayah paling ujung hutan. Suku ini adalah tempat terakhir bagi mereka yang berpetualang di hutan papua. Wilayah yang berada setelahnya adalah tempat terlarang, tidak boleh masuk. Beberapa pengalaman orang yang mencoba masuk, tidak pernah kembali lagi. Dan itulah yang terjadi kepada tim Rangga.

Singkat cerita, akhirnya mereka sampai juga di suku Korowai. Sudah ada seorang Papua yang memahami bahasa Korowai yang menjadi penerjemah untuk Nadia N friend’s. Kedatangan mereka diterima oleh kepada suku dengan hangat dan suka cita. Apalagi Nadia juga membawa sebuah cinderamata yang dulu pernah diberikan oleh kepala suku Korowai kepada kakeknya. Kini cenderamata itu dikembalikan lagi sebagai bukti persahabatan. Setelah beberapa saat, keadaan yang harmonis ini harus terusik dengan kedatangan David. Ia, yang semenjak awal selalu mengikuti Nadia karena tergila-gila padanya, menembak mati salah seorang warga Korowai karena berusaha menghalanginya merebut Nadia. Mereka marah bukan main. Mengambil tombak, panah, dan senjata lainnya lalu kemudian mengejar Nadia, David, dan teman-temannya. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi, penerjemah Nadia langsung memberikan instruksi untuk segera melarikan diri sejauh mungkin. Setelah sampai di wilayah terlarang, suku Korowai berhenti mengejar dan membiarkan Nadia dan kawan-kawan pergi. Sepertinya mereka, warga Korowai, tahu kalau wilayah itu tidak aman untuk dilewati.

Dengan keadaan seperti ini, tidak ada pilihan bagi Nadia N friend kecual 2 saja; pertama, kembali ke suku Korowai dengan resiko terburuknya adalah dibunuh dan kedua terus berjalan ke dalam hutan yang lebat sembari mengandalkan kompas untuk mencari jalan turun (baca: keluar). Setelah berdiskusi panjang-lebar, Nadia nekad memutuskan untuk terus jalan ke tengah hutan. Mencari jalan baru untuk pulang. Mereka sama-sama tahu kalau wilayah tersebut adalah terlarang. Apapun yang terjadi mereka sudah siap menanggung resikonya. Dalam pada itu, sebenarnya Nadia memilih untuk masuk ke dalam hutan karena satu hal, ia ingin mencari Rangga sebagaimana disebutkan diawal.

Benar saja, baru beberapa puluh meter berjalan mereka melihat sebuah perkampungan. Mereka sedikit lega. Tapi anehnya isi dari perkampungan itu perempuan semua. Tidak ada laki-laki. Mereka kemudian saling pandang dan bertanya-tanya, jangan-jangan ini adalah perkampungan suku perempuan yang banyak diceritakan orang-orang. Sejauh ini hanya cerita, belum ada yang bisa membuktikannya. Sementara mereka berdiskusi memutuskan masuk atau tidak, dari belakang mereka sudah dihadang oleh beberapa orang perempuan menggunakan tombak. Mereka tertangkap. Dan tidak ada pilihan bagi Nadia, dkk selain mengikuti perintah dari para perempuan-perempuan itu.

Dan apa yang terjadi? Mereka ditahan di dalam kandang. Laki-laki dan perempuan dipisah. Nadia dengan teman wanita satu tempat. Dan David dengan 2 orang teman laki-laki di tempat yang lain. Awalnya mereka tidak menaruh curiga. Semuanya akan aman-aman saja. Tetapi setelah malam tiba, mereka baru sadar bahwa para suku perempuan ini sengaja memisahkan antara laki-laki dan perempuan yang ditangkapnya. Tujuannya satu, yakni membuahi para perempuan-perempuan yang sudah matang. Mereka teman-teman Nadia yang laki-laki dipaksa untuk bersetubuh, tidak hanya dengan seorang perempuan tetapi beberapa orang. Dan itu terus dilakukan hingga seorang ahli kehamilan (baca: dukun) mereka menyatakan bahwa perempuan ini sudah hamil, perempuan itu sudah berisi. Tentu saja ini membuat David, dkk stress. Tidak tahan. Tidak kuat. Dan ingin segera melarikan diri. Tetapi mereka tidak punya celah untuk kabur. Dan ternyata ritual ini tidak berhenti disitu saja, mereka para laki-laki yang sudah sukses memberi pembuahan harus segera dibunuh. Kenapa? Agar tidak ada laki-laki di antara mereka. Laki-laki harus dibunuh. Salah seorang teman Nadia dibunuh di depan mata mereka dan dagingnnya dimakan mentah-mentah. Waaw… kanibal men. Sedangkan para perempuan hasil tangkapan dibiarkan saja. Barngkali mereka akan dijadikan bagian dari kaum tersebut atau dijadikan babu.

Sejenak Nadia merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka ditangkap dan dikurung. Teman laki-lakinya dipaksa melayani perempuan-perempuan. Dengan jumlah banyak dan terus menerus. Dan barusan saja, salah seorang temannya dibunuh. Ia kemudian terbayang-bayang peristiwa 3 tahun silam. Inikah yang dialami oleh Rangga? Beginikah akhir dari perjalanan Rangga dan tim sehingga mereka tidak pernah kembali lagi? Jika memang demikian, ini bararti Rangga dan tim memang tidak ada lagi. They passed away. Tragis. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang berputar-putar di dalam pikiran Nadia.

Lalu bagaimana akhir dari perjuangan Nadia dan kawan-kawan? Apakah mereka mengalami hal yang sama seperti Rangga, dkk yang tidak pernah kembali lagi? Atau apakah dapat selamat dan menjadi orang yang pertama yang selamat dari wilayah terlarang? Ayo mari tonton filmnya. Kalau tidak punya filenya, bisa hubungi saya. Haa..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: