Posted by: alimtiaz | June 6, 2012

5 (LIMA) TAHUN SILAM…

Beberapa hari yang lalu, 31 Mei 2012, aku menghadiri acara wisuda adikku Adib Ibnu Yasa yang diadakan di Anjong Mon Mata, komplek pendopo gubernur. Acara ini merupakan seremonial atas kelulusan siswa akhir (kelas XII), setelah beberapa hari yang lalu menerima pengumuman UN. Agenda utama dalam wisuda ini adalah pembacaan nilai seluruh siswa dan pengalungan mendali sebagai tanda kelulusan. Ada beberapa yang lain seperti pembacaan prestasi yang dicapai sekolah, laporan kegiatan kepada pemkot, dan pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi. Aku datang bersama ibuku. Ketika sampai di lokasi, para wali siswa sudah ramai berdatangan. Tempat duduk satu per satu mulai terisi. Di luar ruangan, terdengar suara angin berderu. Cuaca kemarin pagi kurang bersahabat karena hujan turun dan tiupan angin sangat kencang. Sedikit mengganggu, tetapi tidak menghalangi jalannya acara.

Ketika acara baru saja akan dimulai, aku teringat peristiwa lima tahun yang lalu. Ya lima tahun lalu di pondok tercinta Darunnajah, Jakarta Selatan. Ketika itu, sama seperti adikku sekarang, aku baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas (MA). Peristiwa yang ku maksud adalah haflatul ikhtitam atau wisuda kelulusan seperti yang tengah dijalani adikku. Sepanjang acara wisuda, aku terus berusaha mengingat-ingat memori yang masih terekam di dalam pikiranku. Aku mulai menata krnonologis acara demi acara dengan menjadikan acara wisuda adikku sebagai acuan.Aku juga berusaha mengingat-ingat siapa saja yang hadir dalam acara haflah. Aku mencoba untuk mengingat semua yang terkait dengan acara itu. Karena bagiku haflah adalah bagian penting dari perjalanan hidupku saat ini. Penuh kenangan…  

Haflatul ikhtitam menjadi acara yang sangat mengharukan, tidak hanya bagi kami para santri dan unsur pesantren, tetapi juga para wali santri yang turur hadir. “Akhirnya anak-anakku dapat menyelesaikan studinya di Darunnajah”. Ketika itu, barangkali ada beberapa orang yang tidak kedatangan wali, khususnya teman-temanku yang berasal dari luar daerah jabodetabek, termasuk aku. Ayah dan ibuku tidak datang. Aku bersama beberapa temanku hanya bisa melihat mereka yang kedatangan bapak/ibu dan saudara-saudara dengan penuh kerinduan. Rindu akan kebersamaan dengan keluarga. Tetapi itu tidak terlalu “ngaruh”. Karena aku sudah sering mengalami keadaan semacam ini. Keadaan dimana seharusnya bersama keluarga, tetapi malah dalam kesendirian.

Haflatul Ikhtitam adalah saat-saat dimana perpisahan akan datang. Setelah beberapa tahun (ada yang 3,4, dan 6 tahun) bersama-sama, tibalah saatnya untuk berpisah. Perpisahan ini tidak hanya antara aku dan teman-teman, tetapi juga dengan seluruh orang yang pernah berinteraksi denganku selama aku berada di DN (tiga tahun). Pimpinan pesantren, ustaz/ustazah, pekerja, dan pak satpam. Diantara ustaz/ustazahku adalah ustaz al-mukarram KH. Mahrus Amin (Pendiri dan Pimpinan) dan ustaz Sofwan Manaf M.Si (Pimpinan), ustaz Agus Sugianto, ustaz Muhibbin, ustaz Ghurfron, ustaz Khadafi, ustaz Mardhani, ustaz Sulaiman, ustaz Aunur Rofiq, ustaz Musthafa Hadi Chirzin, ustaz Lambri Jiddi (alm), ustaz Nur Hamid, ustaz Romli, ustaz Wahyu, ustaz Ibnu Hajar, ustaz Salim Muslim, dan masih banyak yang lain belum aku sebutkan. Mereka sudah menjadi bagian penting dalam membentuk “aku” saat ini. Ya Allah berikanlah kesehatan kepada mereka dan keluarga mereka semua. Ya Allah ampunilah dosa-dosa mereka. Ya Allah berilah mereka kekuatan dalam menghadapi cobaanMu. Ya Allah jadikanlah surga sebagai tempat mereka. Ya Allah berilah kemanfaatan terhadap ilmu-ilmu yang telah mereka berikan. Ya Allah berilah kepada kami keselamatan di dunia dan akhirat.    

Haflatul ikhtitam is mengharukan. Aku sempat meneteskan air mata dalam acara ini. Setelah acara sambutan pimpinan, sambutan dari santriwan/santriwati (perwakilan dalam bahasa arab-inggris), laporan kegiatan, pemberian hadiah bagi yang berprestasi, dan pengalungan mendali, ada acara penutup yakni salam-salaman dengan seluruh ustaz/ustazah. Di sinilah moment-moment paling mengharukan. Aku masih ingat sampai sekarang. Seluruh santri berbaris kemudian satu persatu bersalaman dengan ustaz/ustazah diiringi dengan lantunan selawat. Ketika sampai giliranku, suara isak tangis sudah pecah menyeruak. Dan ketika bersalaman dengan salah satu ustaz favoritku, ustaz Muhibbin, tangisku pun pecah. Tak bisa ditahan lagi. Aku dipeluk erat-erat oleh beliau. Bukan apa-apa, tangisku ini adalah tangis ucapan terimakasih. Terimakasih atas dedikasi kalian semua wahai para guru yang telah menghantarku pada pintu kelulusan/kesuksesan. Dan tangis itu pun masih belum berhenti ketika bersalaman dengan teman-teman seperjuangan. Bahkan seakan semakin menjadi-jadi. Sebentar lagi kita akan berpisah teman. Selamat menggapai mimpi. Selamat meraih sukses. Suata saat nanti kita akan kembali bertemu. Ntah kapan, aku pun tak tahu. 

Diantara sabahat-sahabatku adalah Maksusi, Hendar, Adit (alm. semoga amal baikmu diterima di sisi Allah kawan. Aku selalu mendo’akan sahabat-sahabatku. Kau adalah salah satu sahabat terbaikku), Isa, Rizal Mahmudi, Qadar, Sohih, Rajif, Kamal, Sifrul, Dida, Fayol, Syahid, Yoga, Basyir-Basyar, Faiz, Reja, Hanif, Ye Saleh, Ikhsan R, Zumar, Saidiman, Ihsan Ja’far, Fajar C, Imam W, dan masih banyak lagi yang lain. Hai kawan-kawan ku semua…, dimanakah kalian sekarang? Sudahkah kalian sukses? Sudahkah kalian mencapai mimpi yang dulu pernah sama-sama kita impikan? Sudahkah kalian menikah kawan? Wahai sahabat-sahabatku, masihkah kalian mengingatku?Kapan kita dapat bertemu lagi? Sebagian besar sahabatku berdomisili di Jakarta sehingga barangkali teman-teman yang di Jakarta sering berkumpul. Sedang aku, jauh di Aceh, tak tahu kapan bisa kembali ke Jakarta.           

Lima tahun sudah berlalu. Selama itu pula aku belum bertemu dengan sebagian besar teman-temanku. Suatu saat nanti kita akan bertemu dan kembali menceritakan masa lalu yang pernah kita jalani bersama-sama. Kembali kita bernostalgia. Cerita-cerita lucu. Cerita-cerita konyol. Cerita-cerita sedih dan mengharukan. Cerita-cerita yang menggugah hati kita. Kita juga akan menceritakan apa-apa yang telah kita capai saat ini. Siapa pasangan hidup kita. Apa pekerjaan kita. Berapa gaji kita sebulan. Dan kita akan kembali ke Darunnajah untuk menunjukkan kepadanya bahwa saat ini kita telah menjadi ini. Kau lah dahulu yang mengajariku. Kau lah dahulu yang telah mendidikku. Sekarang aku ingin kau lebih sukses, aku ingin kau lebih maju. Kapan kah itu? Aku pun tak tahu. Tapi aku sudah bermimpi. 20 tahun lagi barangkali. Allahu a’lam. Acara wisuda Adikku, Adib, telah kembali mengingatkanku akan masa laluku di Darunnajah. Ya benar sekali… lima tahun silam.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: