Posted by: alimtiaz | May 30, 2012

CINTA DAN KEHIDUPAN (Review Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye)

            Aku adalah pengagum berat Darwis alias Tere Liye, penulis novel yang produktif, imajinatif, dan inspiratif. Beberapa karyanya sudah selesai ku baca. Setiap kali ada karya baru, setiap kali pula aku berusaha segera membacanya. Kisah-kisah yang disampaikan di dalam novel seringkali menyentuh hati terdalam dari para pembaca. Sangat menggugah. Menjelaskan sisi-sisi lain dari kehidupan. Tidak sedikit yang meneteskan air mata ketika membaca novel-novelnya. Aku sendiri mengambil banyak sekali pelajaran tentang kehidupan dari karya-karyanya. Bagaimana hidup sederhana. Bagaimana hidup dengan keterbatasan. Bagaimana hidup dengan keikhlasan. Tere Liye luar biasa. Dan kali ini, alhamdulillah aku bisa menyelesaikan bacaan atas novel terbarunya yang berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (2012). Lagi-lagi aku harus mengatakan Tere Liye luar biasa dengan karyanya ini. Walaupun mengangkat tema percintaan, tetapi ia mampu meramunya dengan kisah kehidupan lainnya sehingga tampak lebih hidup dan bernilai. Ia menyuguhkan dengan warna yang berbeda. Lalu, bagaimana kisah sesungguhnya?        

            Borno, itulah namanya. Ia adalah pemuda lulusan SMA yang tengah kebingungan. Bingung karena belum dapat kerja, bingung mau kerja apa, dan bingung mau kerja dimana. Ia hidup hanya berdua dengan ibunya. Abahnya sudah lama meninggal, ketika ia masih kecil. Tanpa diketahui oleh Borno, peristiwa kewafatan abahnya memiliki hubungan dengan lika-liku cinta yang akan dijalaninya dikemudian hari. Dahulu, abahnya dikenal banyak warga kampung karena bekerja sebagai penarik sampit, pekerjaan utama warga pesisir sungai Kapuas. Sampit adalah perahu kecil yang digunakan untuk menyeberang sungai Kapuas. Setiap pagi ia standby di dermaga untuk menyeberangkan para penumpang. Ada anak sekolahan, ibu-ibu, guru, dan pelawat. Berinteraksi dengan mereka para penumpang sudah merupakan rutinitas para penarik sampit.

Karena keadaan yang mengharuskan Borno mencari uang, maka ia kemudian bersedia bekerja dimana saja asalkan halal. Sebenarnya ia punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia sangat ingin berkuliah. Ia ingin menjadi sarjana. Namun apa daya tangan tak sampai. Borno tidak punya biaya untuk masuk ke perguruan tinggi. Untuk sekedar hidup saja ia masih kekurangan. Sehingga ia harus menyimpan dalam-dalam niat tulusnya ini. Nanti kalau sudah mampu, barulah dipanggil kembali. Ia beberapa kali berpindah kerja. Alasannya macam-macam, karena tidak enak lah, tidak nyaman lah, tidak cocok lah. Ia tidak pernah enjoy dengan pekerjaannya yang kemudian pada akhirnya ia mau pada pekerjaan yang paling dihindarinya, yakni menarik sampit. Borno juga masih ingat pesan abahnya sebelum meninggal dunia. Ia dilarang menjadi penarik sampit seperti abahnya. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Semua saudara mendukungnya. Teman-teman lama abahnya pun turut membantunya. Jadilah Borno sekarang seorang yang bekerja.

Rutinitas sebagai penarik sampit pun ia jalani sepenuh hati. Pergi dari rumah pagi hari dan baru pulang ketika malam hendak menyapa. Ia ikhlas. Ia menikmati pekerjaan barunya ini. Hari-hari mengalir lebih baik dan penuh keceriaan. Saling sapa antar penarik sampit membuatnya lebih bersemangat. Jumlah penumpang sampit yang setiap saat penuh menjadikannya lebih mantap menatap masa depan. Perjuangan Borno ini selalu didukung oleh orang-orang seperti Pak Tua (teman abah Bonar), Bang Togar (kepala dermaga sampit), Jupri, Koh Acong , dan Andi (sahabat karib). Mereka tidak punya hubungan darah, tetapi sangat akrab.

Kisah cinta Borno dimulai dari sampit. Ya benar sekali, s-a-m-p-i-t. Rupa-rupanya Borno semenjak menarik sampit sudah memperhatikan seorang wanita yang cantik yang sering menjadi penumpangnya. Mei namanya. Butuh waktu cukup lama bagi Borno untuk sekedar mengetahui namanya. Setiap kali ingin bertanya, lidahnya selalu kaku. Ia tampak “kikuk” ketika berhadapan dan berbicara dengan penumpang specialnya ini. Semua pertanyaan yang tersimpan di kepalanya hilang seketika tatkala bertemu dengan Mei. Perkenalan ini kemudian menjadi sebuah “pertemanan” yang sangat akrab. Borno pun mulai tertarik dengannya. Borno mulai memperhatikan jadwal keseharian si wanita, jam pergi dan pulang. Ia selalu berusaha agar Mei menjadi penumpang sampitnya.

Pada suatu hari Borno menemukan sepucuk surat di dalam sampitnya. Ia mengambil dan bertanya-tanya di dalam hati, siapakah pemilik surat ini. Apakah surat ini terjatuh atau sengaja ditinggalkan untukku. Ia bertanya kepada orang-orang terdekatnya. Alhasil, ia tahu bahwa pemilik surat itu adalah Mei. Orang yang selama ini ditaksirnya. Ia kemudian berniat untuk mengembalikannya kepada Mei. Barangkali terjatuh dari tasnya. Beberapa kali ia pergi ke rumah Mei, tidak dilihatnya orang di sana. Ia akhirnya memutuskan untuk menyimpannya. Barangkali suatu saat nanti bisa dikembalikan. Sejak saat itu Borno selalu mengingat Mei. Apa gerangan Mei meninggalkan surat di sampitnya? Adakah ia ingin menyatakan sesuatu? Tetapi kenapa harus surat? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengganggu pikirannya untuk beberapa saat. Inilah awal cerita cinta itu. Cinta bang Borneo (nama asli Borno). Benih-benihnya mulai tumbuh dan sebentar lagi akan mekar. Getarannya sampai ke relung jiwa.

Cinta itu perjuangan. Itulah nasihat pak Tua kepada Borno yang sedang galau. Cinta Borno cukup sulit dan berliku-liku. Ia harus berpisah dengan Mei ketika cinta itu mulai tumbuh. Ia harus pergi ke Surabaya untuk sekedar berjumpa dan mengungkapkan cinta. Ia harus berjibaku dengan perasaannya sendiri. Di tengah kegalauan, muncul orang lain yang seakan ingin mengatakan bahwa “aku adalah pengganti Mei”. Dan ternyata cinta Borno juga berkaitan dengan peristiwa kematian abahnya, beberapa tahun silam. Apakah Borno dapat bertahan dengan ini semua? Bagaimana Borno memahami c-i-n-t-a?

Selain itu, novel ini tidak hanya bercerita tentang cinta, tetapi juga sisi lain dari kehidupan seperti kekeluargaan, persahabatan, kesungguhan dan ketulusan. Borno dikelilingi oleh orang-orang yang perhatian kepadanya. Pun demikian sebaliknya, ia sangat ikhlas dalam berbuat. Ia sering membantu teman-temannya. Ia sering menolong orang-orang yang meminta bantuannya. Sehingga antar sesama warga selalui hidup beriringan. Layaknya keluarga yang satu sama lain saling mendukung dan mengayomi. Pak Tua (teman abah Bonar), Bang Togar (Bos dermaga sampit), Jupri, Koh Acong , dan Andi (sahabat karib) di antara orang-orang yang ada di sekitar Borno.                

            Borno juga menjalin persahabat yang sangat erat dengan Andi, anak seorang mandor bengkel. Bersamanya Borno mencapai kesuksesan dalam bekerja. Ia diajak oleh ayah Andi untuk membuka sebuah usaha bengkel yang besar. Ayah Andi tahu bahwa Borno menyimpan bakat terpendam dalam hal bongkar-pasang mesin. Hal ini karena Borno sempat bekerja bersamanya beberapa saat. Kesempatan inilah coba dimanfaatkan oleh ayah Andi. Dan tawaran ini tidak bertepuk sebelah tangan. Borno, setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, menerima untuk “berkongsi” dengan ayah Andi. Bersama-sama mendirikan sebuah usaha bengkel. Ia akhirnya berhenti menjadi penarik sampit dan menjual sampit kesayangannya. Sampit yang merupakan pemberian dari hasil sumbangan warga kampong Borneo yang dikomandani oleh bang Togar. Borno, bersama-sama dengan Andi dan ayahnya, memajukan bengkelnya ini.

Yang tidak kalah penting dari cerita dalam novel ini adalah sosok Borno yang pantang menyerah. Anak muda yang punya semangat juang tinggi. Ketulusan dan keikhlasan dalam berbuat merupakan bagian yang tak terpisahkan darinya. Beberapa kali ia harus berganti pekerjaan, tetapi ia tetap semangat dan tulus dalam menjalani hidup. Cinta yang tak pernah  diketahui bagaimana akhirnya, tetapi ia tetap mampu menahan terjangan badai dan ombak. Kepalanya selalu tegak lurus menatap kehidupan yang penuh lika-liku. Kesadaran bahwa kita dan orang lain adalah saling membutuhkan membuatnya selalu ringan tangan. Ia meyakini bahwa kesungguhan itu akan membuahkan hasil. Berbutalah dahulu, baru akan ada hasilnya. Untuk itu, bagi para pembaca yang budiman, segera miliki novelnya. Bagi anda penggemar Tere Liye harus baca…  Dan selamat membaca!

 


Responses

  1. Jadi penasaran nie…^_~

    • hehehe… mau? nant saya belikan yaa. biar sampean baca ceritanyaa.. tapi ada syaratnya yaa. hehe

  2. membaca ceritanya, sepertinya tidak jauh berbeda dengan Negeri 5 Menara atau 9 Summers-nya Iwan ya dalam hal mengejar mimpi dan kekuatan kesungguhan? Kira-kira apa bedanya secara spesifik dari kedua novel itu ya? Salam kenal😀

    • ya benar sekali, ide besarnya sama tentang kesungguhan dalam berbuat. Namun karya Tere Liye ini lebih menonjolkan kisah cinta. Kisah cinta yang rumit dan penuh pengorbanan. tetapi tidak lebay.. hehe. Dan juga menampilkan sisi-sisi lain dari kehidupan… Berbeda dengan N5M atau 9 Summers yang mengangkat tema kesungguhan menggapai mimpi…

      salam kenal juga kawan. terima kasih atas komentarnya dan sudah mengunjungi blog saya…

      • salam kenal….
        ngomong tere liye itu orang mana ya???
        kok datanya susah dicari,,

      • salam kenal mas Fasmi el-Maturidi

        Tere Liye itu nama penanya… klu nama aslinya Darwis. sudah banyak kok karya bg Darwir… di internet juga gampang nyarinya.. trimakasih atas kunjungannya…

  3. klo setahuku ya…
    bysanya book review itu ditulis: judul buku, nama pengarang (atau penyunting), nama penerbit, tahun terbit, kota tempat penerbitan, jumlah halaman, dan harga buku, dll, sebelum memberi ringkasan n penilaian.
    gmn?

    • iya mb Aidha benar sekali… detailnya seperti itu dan brngkali akan lebih baik jika semua itu dituliskan. klu saya hanya mengmbil bbrapa item yg menurut saya paling penting. biar ga klhatan kaku kali yaaa… hehe..
      terimaksih atas kunjugan dan masukannya ya mb…

  4. oke bang mumtaz,,terimakasih….

    • sama2 terimakasih bg…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: