Posted by: alimtiaz | April 14, 2012

”BAYANI” SEBAGAI SEBUAH EPISTEMOLOGI ILMU DALAM ISLAM

I. PENDAHULUAN

Di dalam Filsafat Ilmu dikenal beberapa aliran dalam bidang kajian epistemologi.  Di dunia barat, paling tidak ada tiga aliran yaitu rasionalis, empirisme, dan intuisisme. Ketiga aliran ini berbeda cara bekerjanya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang jika disatukan menjadi sebuah epistemologi yang kokoh. Di dalam pemikiran filsafat Hindu dikenal juga tiga istilah, yaitu  teks suci, akal, dan pengalaman pribadi. Inipun sama halnya dengan yang filsafat barat, bahwa masing-masing terminologi memiliki cara kerja yang berbeda pula. Pun di dalam Islam, ada tiga aliran epitemologi yang sampai saat ini dikenal di tengah-tengah para intelektual, khususnya yang mendalami keilmuan filsafat. Ketiga aliran itu adalah bayani, burhani, dan irfani.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa bayani adalah tekstual-epistemologi, artinya bahwa sumber dari ilmu pengetahuan itu adalah teks. Peran teks lebih dominan  daripada yang lainnya, termasuk akal. Burhani adalah demonstratif-epistemologi, artinya bahwa dalam aliran ini akal lebih dominan dibandingkan dengan teks dan lebih bersifat rasional. Teks hanyalah sebagai ’penguat’ dari apa yang dihasilkan oleh akal. Dalam aliran ini akallah sebagai pemeran utama dalam menentukan sebuah ilmu/sebagai sumber ilmu. Irfani (gnostik) adalah mistikal-epistemologi, artinya bahwa sumber pengetahuan diperoleh dari ilham, pengalaman spiritual. Aliran ini lebih menekankan pada penggunaan rasa atau dzauq dengan bukti-bukti yang sulit untuk dipertanggungjawabkan secara empiris. Hal ini biasanya dialami oleh para sufi yang menyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan kasyf atau ilham.[1]

Terkait dengan trilogi kerangka berfikir (epistemologi) yang dikembangkan oleh Abed Al Jabiri ini, para pemikir Muslim memberikan respons positif akan eksistensinya. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai tanggapan dan bahkan elaborasi lebih jauh terhadap gagasan itu.

Di dalam makalah sederhana ini, pembahasan akan lebih terfokus pada kajian tentang bayani (tekstual-epistemologi). Penulis akan mencoba sedikit menggambarkan bagaimana epistemologi ini dibangun dan pada kajian apa sajakah ia dapat masuk dan diaplikasikan. Disamping itu, penulis juga menyebutkan perbedaan diantara trilogi diatas yang sekiranya dapat mempermudah dalam pemahaman dan dapat melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing epistemologi. Terakhir ucapan terimakasih saya kepada Bapak Fachruddin Faiz selaku dosen pengampu dalam mata kuliah ini yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyusun makalah ini.. Dan tidak lupa kepada teman-teman sekalian, yang selalu setia bersama. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita, atau paling tidak sebagai bahan pancingan untuk dapat lebih mendalami kajian ini. Wallahu a’lam bi al shawab.

II. SELAYANG PANDANG SEPUTAR ”BAYANI”

Berbicara tentang klasifikasi epistemologi keilmuan, terdapat beberapa istilah yang berbeda- beda. Di dalam kajian epistemologi Barat terdapat, paling tidak, tiga aliran pemikiran, yaitu empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Di dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi. Sedangkan dalam pemikiran Islam juga dikenal tiga aliran, yang dalam hal ini merupakan pembagian yang ditawarkan oleh Abed al- Jabiri, intelektual Muslim yang berasal dari Maroko. Ketiga epistemologi itu adalah bayani, burhani dan irfani. Ketiga tema besar ini dibahas secara panjang lebar di dalam bukunya bunyah al aql al ‘arabi. Sebagaimana telah disebutkan di dalam pendahuluan bahwa makalah sederhana ini akan mencoba mengenalkan bayani sebagai sebuah epistemologi keilmuan di dalam Islam.[2]

Bayani (explanatory) secara etimologis mempunyai pengertian penjelasan, pernyataan, dan atau ketetapan. Sedangkan secara terminologis bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.[3]

Senada dengan hal ini, sebagaimana dikutip oleh M. Zuhri, dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga, bahwa Amin Abdullah menggambarkan bagaimana besarnya dimensi teks di bumi Arab klasik sebagai hadrah al nash. Posisi teks sangat menentukan peradaban Arab-Islam dan juga disisi lain pemosisian teks seperti itu pula dapat membawa pada titik terendah dari peradaban.[4]

Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa sumber pengetahuan bayani adalah teks (nash), yang dalam hal ini adalah Al Quran dan Hadis (walaupun pada kajian selanjutnya tidak hanya terbatas pada Quran dan Hadis). Kerena itu epistemologi bayani menaruh perhatian yang besar dan teliti dalam proses transmisi teks (nash) dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Karena benar dan salahnya proses transmisi menentukan kebenaran dan kesalahan sebuah ilmu yang dikutip atau diambil dari teks tersebut. Bilamana proses transmisi dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya, maka teks tersebut dapat digunakan sebagai dasar ilmu. Akan tetapi sebaliknya, jika kevalidan proses transmisi tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka teks tersebut tidak dapat dijadikan dasar ilmu. Sehingga tidak heran mengapa pada masa kodifikasi (tadwin), khususnya penulisan hadis, para ulama sangat teliti dan ketat dalam menyeleksi teks-teks, terutama hadis-hadis Nabi agar dapat diterima sebagai teks yang valid.

Dalam ranah epitemologi bayani ini lebih mengedepankan pemahaman wahyu atau nash secara tekstual. Sehingga bagaimana teks itu berbunyi, maka begitulah kesimpulannya. Dalam ha ini wahyu atau nash menguasai akal atau rasio.

III. MEMBACA KONSTRUK EPISTEMOLOGI ”BAYANI”

Berdasarkan hal yang di atas, bahwa bayani berkaitan dengan teks, maka persoalan pokoknya adalah sekitar lafadz-makna dan ushul-furu’. Misalnya, apakah suatu teks dimaknai sesuai konteksnya atau makna aslinya, bagaimana menganalogikan kata-kata atau istilah yang tidak disinggung dalam teks suci, dan bagaimana memaknai istilah-istilah khusus dalam al-asma al-syar’iyah, seperti kata shalat, shiyam, zakat.

Selanjutnya, untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayani menempuh dua jalan.[5] Pertama, berpegang pada redaksi (lafadz) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahwu dan sharaf. Kedua, berpegang pada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa.

Pada jalan yang kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara. Pertama, berpegang pada tujuan pokok (al-maqashid al-dharuriyah) yang mencakup lima kepentingan utama, yakni menjaga keselamatan agama (al din), jiwa (al nafs), akal (al ’aql), keturunan (al nasb) dan harta (al mal). Caranya dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqra’ al-ma’wi) dan disitulah tempat penalaran rasional.

Kedua, berpegang pada illah teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya illah suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut ‘jalan illah’ (masalik al-illah) yang terdiri atas tiga hal, (1) illat yang telah ditetapkan oleh nash, seperti illah tentang kewajiban mengambil 20% harta rampasan untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al Hasyr, 7). (2) illah yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya illah menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. (3) Al-sibr wa al-taqsim (trial), dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan illah pada asal (nash), kemudian illah itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa illah itu bersifat begitu atau begini. Cara kedua ini lebih lanjut memunculkan metode qiyas (analogi) dan istihsan, yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu.

Ketiga, berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Misalnya, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kuliah pada mahasiswa, tujuan sekunder memberikan tugas. Adanya tugas akan mendukung pemahaman kuliah yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah istidlal, yakni mencari dalil dari luar teks; berbeda dengan istimbat yang berarti mencari dalil pada teks.

Keempat, berpegang pada diamnya Syari` (Allah dan Rasul). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilkukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Misalnya, hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashl fi al-mu`amalah al-ibahah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori istishab, yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/dalil yang menunjukkan perubahannya.

Untuk disiplin ilmu yang dapat masuk dalam kajian epistemologi bayani diantaranya adalah filologi, ilmu hukum (fikih), ulumal-Quran (interpretasi, hermeneutika, dan eksegesis), teologi dialektis (kalam), dan teori sastra nonfilosofis. Sebagai tambahan informasi, bahwa kerangka bayani ini sangat menarik bagi para ahli kalam karena beberapa alasan.[6] Pertama, epistemologi ini tidak bersifat saling melengkapi adakan tetapi lebih bayan bersifat dialogis dan lebih-lebih polemis. Kecenderungan untuk tidak saling melengkapi dan polemis mengakibatkan sering terjadinya klaim kebenaran sepihak. Kedua, meskipun terdapat ahli kalam yang mengedepankan akal, akan tetapi pada titik tertentu masih memanfaatkan atau bahkan memanipulasi wahyu dengan memberikan interpretasi sebaliknya dari interpretasi pihak lain atau pihak lawan. ini bukan dimaksudkan untuk melepaskan akal darinya, akan tetapi lebih sebagai counter terhadap lawannya. Ketiga, ahli kalam lebih suka menggunakan analisis yang bersifat retoris sebagai upaya untuk memberikan keseimbangan (balance) atau bahkan mengalahkan pihak lain. Kritik-krtik yang disampaikan tidak ditujukan sebagai perbaikan, akan tetapi untuk menunjukkan adanya hegemoni salah satu pihak terhadap pihak yan lain. Dan keempat, sebagai upaya untuk membela diri baik karena jauhnya jarak, tingkat pemahaman, atau referensi yang digunakan.

Berikut ini beberapa hal yang terkait dengan epistemologi bayani, baik sumber, penekatan, metode dan lain-lain:[7]

  • Sumber dan Pendekatan

–          Sumber epistemologi bayani adalah nash (teks).

–          Pendekatan epistemologi bayani adalah lughawiyah.

  • Prinsip Bayani

–          infisal (diskontinu) atau atomistik.

–           tajwiz (tidak ada hukum kausalitas).

–          muqarabah (keserupaan atau kedekatan dengan teks).

  • Kerangka dan Proses Berpikir

–          Kerangka berpikir cenderung deduktif, yaitu berpangkal dari teks.

–          Dalam keilmuan fikih menggunakan qiyas al-‘illah sementara dalam disiplin kalam menggunakan qiyas al-dalalah.

–          Selain itu, corak berpikir bayani cenderung mengeluarkan makna yang bertolak dari lafadz, baik yang bersifat ‘am, khas, mushtarak, haqiqah, majaz, muhkam, mufassar, zahir, khafi, musykil, mujmal, dan mutasyabih.

  • Metode pengembangan corak berpikir ini adalah dengan cara ijtihadiyah dan qiyas. Yang termasuk proses berpikir ijtihadiyah adalah istinbatiyah, istintajiyah, dan istidlaliyah, sementara yang dimaksud qiyas adalah qiyas al-ghayb ‘ala al-ghayb.
  • Fungsi Akal

–          Akal berfungsi sebagai pengekang atau pengatur hawa nafsu.

–          Akal cenderung menjalankan fungsi justifikatif, repetitif, dan taqlidi.

–          Otoritas ada pada teks, sehingga hasil pemikiran apa pun tidak boleh bertentangan dengan teks. Karena itu, dalam penalaran ini jenis argumen yang dibuat lebih bersifat dialektik (jadaliyah) dan al-‘uqul al-mutanasifah, sehingga cenderung defensif, apologetik, polemik, dan dogmatik.

–          Yang dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran ilmu model bayani adalah adanya keserupaan atau kedekatan antara teks atau nash dengan realitas.

Untuk lebih jelas dan mudah dipahami, berikut ini telah penulis sertakan tabel yang membedakan antara trilogi kerangka berpikir di dalam Islam, mulai dari sumber, metode, pendekatan, tema sentral, validitas kebenaran, dab pendukung. Berikut sketsa tabelnya:

Perbandingan Epistemologi dalam Islam[8]

Bayani

Irfani

Burhani

Sumber

Teks Keagamaan/ Nash

Ilham/ Intuisi

Rasio

Metode

Istinbat dan Istidlal

Kasyf (experience)

Tahlili (analitik) dan Diskursus

Pendekatan

Linguistik/ Dilâlat al-Lughawiyah

Psikho-Gnostik

Logika

Tema Sentral

Ashl – Furu`

Kata – Makna

Zahir – Batin

Wilayah – Nubuwah

Essensi – Aksistensi

Bahasa – Logika

Validitas Kebenaran

Koresponedensi

Intersubjektif

Koherensi

Konsistensi

Pendukung

Kaum Teolog, ahli Fiqh dan ahli Bahasa

Kaum Sufi

Para Filosof

IV. KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI ”BAYANI”

“Peradaban Islam adalah peradaban teks” demikian ungkapan Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir asal Mesir yang pernah dikritik ”habis-habisan” dengan statmentnya bahwa ”Al Quran sebagai produk budaya”. Pernyataan Abu Zayd ini memang sebuah realitas yang sulit untuk dibantah. Hal ini dapat dilihat dari produk pemikiran Islam dari abad ke abad yang tiada henti terus merujuk pada teks. Tidak sedikit dari para ulama dahulu dan masih berjalan hingga sekarang yang ’seakan-akan’ menganggap bahwa kebenaran adalah dengan hanya merujuk teks (Al Quran). Kitab-kitab fiqih, dapat dikatakan sebagai bentuk penjabaran dari peradaban teks tersebut. Banyak sekali para ulama Muslim yang mensakralkan kitab-kitab fiqh tersebut. Di lain sisi, peradaban Barat sering disebut peradaban konsep. Peradaban yang penuh dengan kematangan metode dan pendekatan. Berbeda dengan Islam, meksipun peradaban Islam juga berasas pada konsep, tapi -lagi-lagi- merujuk teks. Artinya, peradaban Islam selalu memosisikan teks sebagai poros utama. Teks adalah segala-galanya dan menjadi tempat pijakan yang utama

Dengan penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa sebenarnya teks tak bisa dilepaskan dari gerak peradaban umat Islam. Namun persoalannya adalah teks yang diartikan secara literal. Maksudnya, teks yang (sesungguhnya) merupakan produk sejarah –dan oleh karena itu ia adalah profan- dalam prakteknya dipandang bertuah, sakral, dan melampaui sejarah. Maka terjadilah kesenjangan antara teks dan realitas kemanusiaan. Kesenjangan itu bisa berbentuk ketidaktahuan akan modernitas, sehingga menimbulkan rasa terasing, sikap anti Barat, serta upaya menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam yang dianggap “murni”: sebagaimana yang dikandung teks Al-Quran dan Sunnah. Upaya menggapai yang “murni” ini, memunculkan gerakan pemurnian (puritanisasi) atas hal-hal yang dianggap bukan asli Islam.[9]

Sebagaimana digambarkan oleh Amin Abdullah bahwa posisi teks menjadi amat menentukan dalam proses menuju keemasaan peradaban Arab-Islam. Namun pada saat yang sama, peran dan pemosisian teks itu pula yang mendorong peradaban Arab-Islam berada pada titik terendahnya. Peran dan posisi teks menjadi amat dominan dalam struktur nalar Arab-Islam oleh karena topangan sosial-politik yang amat kuat.

Tanpa harus meninggalkan teks, seharusnya kita dapat menggunakan tawaran metodologi  dari beberapa intelektual Muslim untuk mempertahankan eksistensi keberagamaan kita saat ini. Sementara itu, persoalan besar akan selalu mengikuti kelompok yang melakukan gerakan ”pemurnian” (puritan), utamanya ketika mereka meniscayakan ketundukan atas Al-Qur’an dalam bentuknya yang tekstual. Ketika teks diposisikan sebagai barang transenden, tidak terpengaruh hiruk-pikuk soal kemanusiaan, maka ia akan mati. Teks, oleh mereka diposisikan monointerpretatif: Ditafsirkan sekali untuk berlaku selamanya. Makna yang dikandung teks, bagi mereka identik dan permanen dengan teks. Padahal teks adalah produk budaya. Al-Qur’an sebagai firman Allah yang direkam dalam bentuk teks, diproduksi oleh sebab dan peristiwa yang biasa dikenal sebagai asbab al nuzul.[10]

Terdapat beberapa kelemahan di dalam epistemologi bayani ini, dantaranya adalah; pertama, ketika berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain, biasanya, corak berpikir ini cenderung bersifat dogmatik, defensif, apologetis, dan polemis dengan semboyan kurang lebih “right or wrong is my country.” Kedua, hal ini terjadi karena fungsi akal hanya untuk mengukuhkan dan membenarkan otoritas teks. Padahal, dalam realitasnya, seringkali terjadi ada jurang antara yang terdapat dalam teks dengan pelaksanaannya, sebab akan sangat bergantung pada kualitas pemikiran, pengalaman dan lingkungan sosial tempat teks tersebut dipahami dan ditafsirkan.

Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa karena bayani hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Wallahu a’lam bi al shawab.

V. KESIMPULAN

Dari penjabaran diatas jelaslah bahwa epistemologi bayani adalah kerangka berfikir yang cenderung menggunakan teks sebagai poros utama. Teks adalah nomor satu dan yang lainnya adalah penguat, termasuk akal. Sehingga tidak heran bila disebut sebagai tekstual-epistemologi. Otoritas tekslah yang bekerja dan manusia ”dipaksa” tunduk pada teks yang bisu.

Sebagaimana sudah disebutkan diatas bahwa karena bayani hanya mendasarkan segalanya pada teks, maka ia tidak atau kurang mampu untuk dinamis mengikuti sejarah dan sosial masyarakat yang terus berkembang dari waktu ke waktu dengan sangat cepat. Hal ini terbukti dengan masih banyak pemikiran intelektual Muslim yang didominasi oleh epistemologi ini yang tidak mampu mengimbangi perkembangan peradaban dunia.

Terakhir, saran konstruktif teman-teman sangat berarti bagi penulis, karena untuk perbaikan makalah ini menjadi lebih baik dan sempurna. Dan sekali lagi ucapan terimakasih saya kepada Bapak Dosen dan teman-teman atas segala bantuannya. Wallahu a’lam bi al shawab. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adonis. Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam. Terj. Khairon Nahdiyyin. Yogyakarta: LkiS, 2007.

Ainuurofiq (ed,). Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushulul Fiqh Kontemporer. Yogyakarta: Ar-ruzz Press, 2002.

Al Jabiri, Muhammad Abed. Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius. Terj. Iman Khoiri. Yogyakarta: IRCiSoD, 2003.

Basya, Hilaly. ”Quran Tak Turun Diruang Hampadalam http://islamlib.com.

Hakim, Lexi Zulkarnaen. ”Al Jabiri dan Kritik Nalar Arab” dalam http://kommabogor.wordpress.com.

Mu’allim, Amir dan Yusdani. Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam. Yogyakarta: UII Press, 2001.

Muqowwim. “Rumpun Bayani dalam Islam” dalam http://muqowim.blogspot.com.

Mustaqim, Abdul. Pergeseran Epistemologi Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Sholeh, Khudari. ”Model-Model Epistemologi Islam” dalam http://khudarisholeh. blogspot.com.

_________________. ”Epistemologi Bayani” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com.

Zuhri, Muhammad. ”Dari Al Jabiri Tentang Nalar Etika Islam”, Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman, Vol 8, No. 1, Januari 2008.


[1] Ainurrofiq, ”Menawarkan Epistemologi Jama’i Sebagai Epistemologi Ushulul Fiqh” dalam Ainuurofiq (ed,), Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushulul Fiqh Kontemporer (Yogyakarta: Ar-ruzz Press, 2002), hlm. 40-41.

[2]Ainurrofiq, ”Menawarkan Epistemologi Jama’i Sebagai Epistemologi Ushulul Fiqh” dalam Ainuurofiq (ed.), Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushulul Fiqh Kontemporer, hlm. 36-37. Lihat juga Khudhari Sholeh, ”Epitemologi Bayani” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com dikutip dari al-Jabiri, Bunyah al-Aql al-Arabi, (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1991), hlm. 35.

[3] Khudhari Sholeh, ”Epitemologi Bayani” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com, lihat juga ”Model-Model Epistemologi Islam” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com, diakses tanggal 15 Maret 2009.

[4] M. Zuhri, ”Dari Al Jabiri Tentang Nalar Etika Islam”, Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman, Vol 8, No. 1, Januari 2008, hlm. 56.

[5] Khudhari Sholeh, ”Model-Model Epistemologi Islam” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com, diakses tanggal 15 Maret 2009.

[6] Ainurrofiq, ”Menawarkan Epistemologi Jama’i Sebagai Epistemologi Ushulul Fiqh” dalam Ainuurofiq (ed.), Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushulul Fiqh Kontemporer, hlm. 41.

[7]Muqowwim, “Rumpun Bayani dalam Islam” dalam http://muqowim.blogspot.com, diakses pada tanggal 15 Maret 2009.

[8]Khudari Sholeh, ”Model-Model Epistemologi Islam” dalam http://khudarisholeh.blogspot.com, diakses tanggal 15 Maret 2009.

[9]Hilay Basya, ”Quran Tak Turun Diruang Hampa” dalam http://islamlib.com, diakses pada tanggal 15 Maret 2009.

[10]Ini merupakan hasil catatan yang dirangkum dari mata kuliah Hermeneutika dan Ulumul Quran.  

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Fachruddin Faiz, dikumpulkan pada Senin, 30 Maret 2009.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: