Posted by: alimtiaz | March 15, 2012

OBROLAN SINGKAT BERSAMA PAK BENSON…

Tulisan ini bermula ketika aku sedang duduk santai menunggu bus Pahala Kencana dengan tujuan Bandung-Yogyakarta pada hari kamis, 29 Januari 2009 pada pukul 18.00 WIB. Pada saat itu duduk di sebelahku seorang pria yang berumur kira-kira 45 tahunan. Dari penampilannya, ia bukanlah penduduk asli Bandung. Badannya besar, wajahnya kelihatan kasar, dan gayanya tidak neko-neko. Ia lebih mirip dengan orang-orang Sumatra. Tapi tidak tahu pasti Sumatranya dimana. Eitz… aku juga tidak tahu apakah ia muslim ataupun non muslim. Aku tidak melihat tanda-tanda bahwa ia adalah seorang non-muslim.

Tetapi tak sengaja aku mendengarkan obrolannya dengan seseorang melalui Hp. Entah apa yang diobrolkan, aku tidak tahu pasti. Tetapi yang sempat menjadi perhatianku adalah ketika obrolan tersebut ditutup dengan kata-kata “semoga Tuhan memberkati”. Di dalam hati aku langsung berkata, “wah, ternyata beliau bukan seorang muslim”. Dan pembicaraannya pun tidak ditutup dengan salam. Ini mempeerkuat alasan ku. Walaupun sekarang ini banyak kalangan muslim yang juga sering tidak menggunakan salam. Setelah obrolannya selesai, aku sedikit kaget karena ia menyapa ku dan menanyakan tujuan dan bus yang akan ku tumpangi. Sapaan ini kemudian berlanjut pada pengenalan dirinya. “Nama saya Benson. Saya beragama protestan. Saya sekarang mengajar di Unversitas Kristen Satya Wacana, Salatiga” (benar dugaanku bahwa ia adalah non-muslim). Ini adalah awal dari pembicaraan kami tentang beberapa problem Islam yang muncul di tengah-tengah masyarakat yang terjadi di Indonesia pada akhir-akhir ini.

Awalnya, ia menanyakan dimana aku kuliah dan apa jurusanku. Dengan sederhana aku menjawab “em… aku kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan jurusanku Ushuluddin Pak”. Spontan ia menjawab, “oo… jurusan yang “menacari Tuhan ya”. Saya punya banyak teman di UIN Gunung Jati Bandung. Terutama dosen-dosen Ushuluddin. Ushuluddin tu yang belajar filsafat-filsafat gitu kan”? Tanpa ingin memperpanjang permasalahan Ushuluddin aku langsung meng-iya-kan.

Ia mulai mengangkat beberapa permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim. Mulanya, ia mengatakan kejadian atau isu tentang adanya pemurtadan yang terjadi di UIN, khususnya fakultas Ushuluddin. Sebagai contoh ia menggambarkan tentang kasus yang terjadi di UIN Bandung, yaitu “maaf” lafaz Anjinghu Akbar. Ini adalah masalah besar yang dapat menimbulkan klaim-klaim yang tidak enak didengar. Tapi apa boleh dikata, klaim ini sudah muncul dan bahkan dalam bentuk buku. Salah satu klaim yang sempat membooming adalah adanya pemurtadan di IAIN/UIN. Klaim ini juga sudah menjadi judul sebuah buku yang sangat menggelitik telinga pendengar, khususnya para pemerhati agama/kalangan akademis karena isinya yang kontroversial.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dalam perkara ini, terjadi salah paham (miss-uderstanding) diantara pendengarnya (baca: muslim). Sebagian besar mengatakan anjinghu akbar merupakan salah satu ajaran sesat yang ada di UIN Bandung. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa memang ada ajaran-ajaran yang tidak susuai dengan prinsip keimanan Islam. Ditambah lagi dengan beberapa mata kuliah yang menurut beberapa kalangan tidak cocok dengan ilmu keislaman, diantaranya Hermeneutika dan Orientalisme. Cukuplah alasan bagi beberapa gelintir orang untuk untuk mengecap adanya pemurtadan di IAIN/UIN.

Nah, menurut pak Benson, ada kesalampahaman tentang anjinhu akbar. Ungkapan ini bukan ajaran di UIN tetapi muncul ketika perpeloncoan. Memang ada beberapa panitia yang mengucapkan kata ini (baca: anjinghu akbar)  tapi dalam koridor joking (bercanda). Artinya bahwa penyampaiannya bukan sebagai sebuah ajaran, tidak dalam keseriusan,  akan tetapi lebih merupakan sebuah ungkapan yang sifatnya menghibur. Ia mengatakan bila yang terjadi seperti ini, kenapa harus menjadi permasalah besar. Wong itu cuman sebuah joking, bukan ajaran. “Perploncoan kan ajang perkenalan, lebih banyak main-mainnya. So, sangat wajar jika ada hal-hal yang begitu”. Ungkapnya.

Di satu sisi saya sepakat bila memang ada terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat. Artinya bahwa isu-isu tentang adanya pemurtadan di IAIN/UIN perlu diper tanyakan kembali keabsahannya. Apakah anjinghu akbar merupakan sebuah ajaran atau hanya berupa penyampaian dalam ajang perploncoan dengan maksud sebagai joking, bukan ajaran. Tapi di sisi yang lain, saya tidak sejalan dengan penyampaian pak Benson. Walaupun kata anjinghu akbar hanya sebagai joking, akan tetapi secara tidak langsung kita menduakan Tuhan (syirik). Disamping itu, ungkapan ini berada di luar etika Islam. Terlalu “kotor” dan tidak enak didengar karena hanya Tuhanlah yang Maha Besar. Dan mengapa harus menggunakan kata tersebut, apakah tidak ada kata lain yang lebih indah didengar.

Setelah mamparkan hal diatas dengan sedikit memojokkan muslim, kemudian ia menyinggung masalah aliran sesat. “Kenapa kok di Islam banyak sekali aliran-aliran? Bahkan sampai-sampai banyak yang dikalaim sesat”. Tanya pak Benson kepadaku. Aku sedikit kebingungan untuk menjawab apa. Karena Islam sekarang lagi heboh dengan aliran-aliran sesat. Sehingga tidak realistis bila aku mengatakan “tidak”. Memang harus diakui bahwa umat muslim sedang dalam kebingunan. Tapi satu hal yang perlu diketahui dan diperhatikan bahwa fenomena ini tidak menunjukkan akan kekeliruan agama Islam, umat muslimlah yang perlu diperhatikan. (Bersambung…)


Responses

  1. salam kenal masbro…
    sepakat dg pendapat njenengan, dlm konteks apapun kata2 “anjinghu akbar” adl tidak dapat diterima. bagaimanapun jg itu adl sebuah penghinaan terhadap Islam. orang2 non-muslim emang pinter membolak-balik fakta.
    oh ya, skrng ni ucapan salam “assalamualaikum”, dan “alhamdulillah” dah bersifat nasional lho,..umat agama apapun seringkali menggunakannya… jd skrng ni sulit menilai agama seseorang hanya dr penggunaan 2 kata tersebut…CMIIW…^_^

    • salam kenal juga mas.. terimaksih komentarnya.
      Iya kita memang harus lebih cerdas dan cerdik dalam memahami sebuah problem. aplagi kepada mereka yang tidak senang dengan Islam.. jngan sampai mslah rumah kita dpt dimanfaatkan tetangga untuk mengobrak-abri rumah kita.
      iya benar skali… bbrpa ungkapan memang sudah me-nasional. jadi kita pinter2 lah melhat lawan bicara kita…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: