Posted by: alimtiaz | March 4, 2012

My GrandFa… The Real Teacher

Pria itu bernama Abubakar Bangkit. Iya benar sekali, beliaulah kakekku, ayah dari ayahku. Beliau menghabiskan sebahagian besar waktunya di Takengon, Aceh Tengah. Mengenai identitas pribadinya, tidak di ada catatan atau apapun yang dapat dijadikan rujukan. Tempat, tanggal, dan tahun kelahiran, semuanya ga ada yang tahu secara pasti. Maklum, zaman dahulu memang ga pake catatan-catatan. Tetapi berdasarkan pengakuan beliau, sepertinya umur beliau sekarang sudah mencapai 90 tahun lebih. Ia menyebutkan bahwa ketika di Indonesia terjadi gerhana matahari, beliau sudah seumuran dengan anak sekolah. Pada saat itu beliau sudah bisa menjaga ternak, yakni lembu/sapi. Jika kita membaca sejarah, kalau aku ga salah sih, gerhana matahari terjadi di Indonesia antara tahun 1922 atau 1923. So, bila diasumsikan pada tahun 1922/23 kakekku sudah seumuran anak sekolah, yakni antara 6-8 tahun, maka tahun kelahiran kakekku antara tahun 1915 atau 1916 atau 1917. Selama ini sih, aku dan keluarga meyakini kakekku lahir pada tahun 1916. Sepertinya itulah pilihan yang paling mendekati keakuratan. Sehingga dengan demikian kakekku saat ini berumur sekitar 96 tahun. Umur yang panjang. Alhamdulillah puji syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kesehatan kepada kakekku sampai detik ini…

Ada banyak hal yang bisa ku pelajari dari kakekku. Dan tidak hanya aku, semua orang yang pernah berinteraksi dengan beliau pun mengatakan hal yang sama. Menurutku di antara yang paling penting dan paling menonjol dari beliau adalah perhatian beliau terhadap pendidikan dan kedisiplinan dalam berbuat. Dua hal ini selalu menghiasi percakapan dan perbuatannya. Baginya dengan pendidikan kita bisa mencapai “segalanya”. Orang itu harus berilmu. Dan itu baru dapat dicapai dengan sekolah. Aku masih ingat sekali ucapan beliau kepada orang-orang yang bertemu dengan beliau, “Orang kalau sudah ada ilmunya, apa saja bisa. Ia akan pandai mencari rezeki. Ia tidak akan mudah ditipu. Dia akan tahu dimana bisa mencari rezeki.” Dan dengan ilmu orang akan hidup sejahtera di dunia dan di akhirat.

Semangat beliau mendidik memang sudah tumbuh sejak beliau masih kecil. Beliau adalah satu-satunya orang di desanya yang mendapatkan pendidikan formal pada waktu itu. Iya punya keyakinan bahwa dengan pendidikan kita dapat keluar dari lingkar ekonomi yang kurang baik. Dan keyakinan itu masih terus menancap tajam di hatinya. Beliau berusaha menyakinkan setiap orang yang bertemu dengannya, bahwa pendidikan itu sangat penting. Setiap kali ada famili yang datang, pasti yang ditanyakan tentang pendidikan. “Kamu sekolahnya apa?” atau “Anak kamu sudah sekolah kelas berapa?”. Tidak hanya itu, beliau juga selalu mengapresiasi anak-anak dan cucu-cucunya yang berprestasi. Sampai saat ini, sampai si anak atau cucu tidak lagi bestatus single atau sudah bekerja. Aku masih ingat ketika dulu aku di MI, MTs, dan MA. Dan bahkan sekarang juga beliau masih terus memberikan reward. Dulu setiap kali selesai pembagian raport, aku mesti lapor sama kakek kalau aku dapat juara kelas. Dengan harapan beliau akan memberikan selembar uang, jumlahnya sesuai dengan rangking yang diperoleh. (Sebenarnya sih beliau sudah pasti akan memberikan uang itu, tetapi karena sangat senang, harapan itu muncul dan sangat besar). Biasalah, anak kecil kan senengnya dikasih uang. Kadang-kadang nominal tidak terlalu urgen. Yang penting bagi anak-anak adalah bahwa ia diberi hadiah/reward atas keberhasilannya. Iyaaa… itulah yang ku alami. Sewaktu masih kecil dulu. Kira-kira sekarang masih kayak gitu ga yaaa?

Menurutku beliau sudah berhasil dengan misinya ini, memberikan pedidikan kepada setiap orang. Semua anak-anaknya sekarang sudah mendapatkan kehidupan yang “nyaman” dibandingkan ketika dahulu masih kanak-kanak. Yang perempuan mendapat suami yang sudah “mapan”, sedangkan yang laki-laki mendapatkan istri yang baik dan perhatian. Menurut pengkuan beliau, ada 7 orang anak yang didiknya secara khusus di rumah. Mereka terdiri dari dua anak kandung dan lima anak angkat (mereka adalah anak-anak dari adik-adik kakekku yang diajak untuk sekolah). Dari ke tujuh orang ini, 1 orang sudah menjadi guru besar, 1 orang sudah doktor, 1 tengah menyelesaikan program doktoral, dan yang lainnya adalah sarjana. Kecuali 1 orang yang memang setamat sekolah menengah atas, meminta untuk dinikahkan. Semuanya sudah berhasil, baik dalam pekerjaan maupun keluarga.

Dalam mendidik, satu prinsip beliau yang sampai sekarang masih dipegangnya yakni disiplin. Semuanya harus dilakukan dengan disiplin. Ia sering mengatakan, “Orang kalau ga bisa disiplin ga bakalan jadi (sukses). Beliau memang dikenal oleh murid-muridnya sebagai sosok yang sangat disiplin. Dan disipilin ini berlaku untuk semuanya, baik itu anak kandung, anak angkat, murid-murid, dan bahkan guru-guru. Salah satu yang pernah menjadi murid beliau adalah ibuku. Ibuku sering cerita kepadaku tentang bagaimana kakekku mengajar. “Kakek kamu adalah kepada sekolah ibu”. Beliau itu dikenal “kejam” dan “menakutkan (mungkin klu bahasa sekarang kita kenal dengan istilah guru killer). Kalau ada murid yang masuk kelas tidak tepat waktu atau terlambat, maka tidak dibolehkan masuk kelas. Disuruh pulang atau disuruh masuk pada jam selanjutnya dengan syarat ada hukuman. Pun di dalam kelas, jika ada murid yang bercanda atau tidak mengerjakan tugas, maka akan dihukum. Demikian juga dengan guru yang melanggar peraturan dan tidak disiplin. Tidak jarang ada guru yang disuruh pulang ke rumah karena terlambat datang ke sekolah. Atau guru yang dihukum karena tidak bisa melaksanakan disiplin. Kelihatan kejam dan menakutkan memang. Tetapi  beliau, dalam hal disiplin, juga selalu mengapresiasi siapa saja yang bisa berhasil melaksanakan tugas. Beliau pasti memberikan hadiah bagi siapa saja yang mendapatkan hasil yang bagus dan menjadi juara kelas. Menurutku beliau sudah mempraktekkan konsep “reward N punishment” dengan sangat baik. Sampai saat ini aku tidak pernah mendengar ada dari murid-murid beliau yang menyesali perlakuan beliau. Semuanya mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada beliau.

Sampai sekarang pun, ketika beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur karena umur yang sudah sangat tua, semangat untuk mengajar dan mendidik itu pun masih menggebu-gebu. Beliau merasa masih seperti dahulu, sewaktu masih bisa bergerak bebas kemana-mana. Padahal beliau saat ini untuk jalan saja sudah tidak bisa. Dan bahkan sekedar membalikkan badan saja tidak bisa lagi. Tetapi beliau tetap semangat. Beliau memiliki sebuah “pesantren siswa” yang sudah beberapa tahun ini ditinggalkannya karena harus menetap di rumah anaknya (ayahku) di Banda Aceh. Memang keadaan (kesahatan) beliau tidak memungkin lagi untuk tinggal di rumah sendiri. Beliau harus ada yang jaga 24 jam. Tetapi kerap kali beliau meminta pulang ke rumahnya di Tekengon, berjarak sekitar 300 km dari Banda Aceh, dengan alasan ingin mengajar kembali santri-santrinya. Ia mengatakan, “rugi sekali kalau mereka para santri di sana tidak ada yang mendidik. Saya ingin pulang saja ke sana, biar saya bisa mendidik mereka”.  Tetapi karena alasan kesehatan yang tidak mungkin, maka sampai sekarang niat itu belum kesampaian. Dan memang dengan umur beliau yang sudah mencapai 90 tahun, semestinya tidak lagi mengurus hal-hal yang demikian. Beliau harus dirawat, dijaga, dan diperhatikan. Bukan malah sebaliknya.

Semangat beliau seringkali membuatku, dan saudara-saudaraku yang masih muda, semangat untuk terus menuntut ilmu. Dan semangat ini akan terus kami tularkan kepada anak dan cucu kami nanti. Kakek, terimakasih atas semua yang telah engkau berikan kepada kami, cucu-cucumu. Engkau telah mengubah nasih keturunanmu. Semangat juangmu sungguh tak terbalaskan. Semoga Allah selalu memberikan kesahatan kepadamu… My GarandFa.. You are the real teacher I have seen! We love U full…


Responses

  1. kakekku…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: