Posted by: alimtiaz | February 27, 2012

Rindu…

RINDU… sebuah kata yang hampir setiap orang pernah merasakannya. Siapa sih yang ga pernah merindu, kepada siapa saja. Memang rindu itu rada aneh. Kadang-kadang ia datang dengan sendirinya tanpa diundang. Begitu juga ketika ia pergi, sangat sulit untuk diusir. Klu diusir, ia tambah menjadi. Biasanya sih, ia pergi sendiri ga perlu diusir. So, rindu itu datang tak diundang, pergi ga perlu diantar (diusir). Hm, kayak jelangkung aja…

Álal fikrah, sebenarnya rindu itu apa sih? Kok kayaknya “seram” gitu. Hm, menurut KBBI, kitab sucinya orang Indonesia, rindu itu ada 2 arti. Pertama, sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Kedua, merasa ingin sekali hendak bertemu. Bila ditarik titik temu antara dua pengertian ini, rindu itu semacam rasa keinginan yang kuat di dalam hati. Entah itu berupa pertemuan, harapan menjadi kenyataan, dan lain-lain. Jadi sebenarnya, rindu itu ga ribet N ga serem sih. Tapi kenapa banyak orang bersikap tidak biasa ketika dilanda rindu. Termasuk aku sih… Kadang2 ia memang bikin susah. Susah tidur lah, susah makan lah, susah BAB lah (ah masa’ sih), dan susah-susah lainnya.

So, masalahnya dimana sih?

Saat ini aku memang tengah merindu kepada seseorang. Aku dilanda badai rindu yang sangat besar. alaaaayy… Aku juga heran, kenapa ia bisa datang. Tiba-tiba ia masuk ke dalam hatiku dan menembus batas-batas terdalam yang ada dalam perasaanku. Ga ada angin, ga ada hujan, eh dia malah udah nongkrong aja di sisi terdalam perasaanku. Ga ganas sih, tapi efeknya cukup mematikan. Bagaimana tidak, hampir tidak ada satu pun teori yang bisa secara gamblang memetakan bagaimana ia adanya dan bagaimana ia hidup dan berkembang pada seseorang, kapan ia datang dan kapan ia pergi. Semuanya terjadi secara natural dan tanpa prediksi. Aku juga ga tau sih, gejala awal rindu tu apa dan bagaimana. Ga bisa dijelasi. Barangkali ia cuma bisa dirasakan kali yak? Aneh memang..  Orang-orang yang baru jatuh cinta, mesti bawaannya pengen ketemu ma sang pujaan hati. (suit… suit…) Kalau ga ketemu, rasa rasanya gimnaaaaa gitu. Atau seseorang orang yang berada jauh dari ibunya, pada saat tertentu pasti ia ingin bertemu dan bercengkrama dengan ibunya. Keinginan semacam inilah yang sering disebut dengan rindu.

Salah satu efek yang muncul karena makhluk yang namanya rindu adalah keinginan bertemu. Biasanya sih orang yang lagi rindu itu pasti bawaannya pengen ketemu sama yang orang yang dirindukannya. Ketika kita merindukan seseorang, pasti rasa ingin bertemu itu muncul. Hal ini tidak terlalu bermasalah bagi mereka sering bertemu, tidak dipisahkan oleh jarak. Tapi bagi mereka yang dipisahkan oleh jarak, rasa rindu itu kadang-kadang menjadi sesuatu yang sulit ditaklukkan. Ia harus berjibaku dengan perasaannya, yang kata orang-orang hanya dapat hilang bila bertemu dengan orang dirindukan. Bukankah itu sesuatu yang rumit?

Tapi bener ga sih, obat rindu itu adalah pertemuan?

Hm, berdasarkan pengalamanku sih (ya elaaah.., gayamu Taz) kalau lagi rindu itu ga harus ketemu sih. Karena terkadang pertemuan akan membuat rasa rindu itu tambah besar, akan menjadi ketergantungan, dan bisa membuat sedih. Biasanya sih yang kayak gini dialami sama orang-orang yang lagi kasmaran, pacaran, atau jatuh cinta. Dikit-dikit ketemu, dikit-dikit ketemu. Hehehehe….  Kalau kita harus nurutin rasa rindu dengan ritual-ritual pertemuan, menurutku sih tidak terlalu baik juga. Dan mungkin kurang menarik juga. Bagiku pertemuan itu akan sangat menarik bila rasa rindu itu sudah menumpuk-numpuk.. setinggi gunung. Nah ketika itu, barulah kita bertemu untuk melepas semuanya. Serasa gimanaaaaa gitu. Susah untuk diungkapkan di sini. Coba aja dirasain senidiri.. Di samping itu, sebenarnya mengobati rasa rindu itu juga bisa sekedar menanyakan kabar media elektronik, media online dan lain-lain. Pokoknya rindu itu ga harus ketemu deh… Jadi sebenarnya arti rindu itu “merasa ingin sekali hendak bertemu”, tidak harus dipahami bahwa bertemu adalah satu-satunya cara melepas rindu itu sendiri.

Lalu, bagaimana hukumnya “siapa merindu siapa”? Apakah kita hanya boleh merindu kepada orang-orang terdekat kita? Setahuku sih belum ada regulasi yang melarang seseorang untuk merindukan siapa dan apapun yang diinginkannya. Kita berhak merindukan siapapun yang kita inginkan. Entah itu si A, si B, si C, dan seterusnya. Demikian juga dengan orang lain. Tapi biasanya sih, lagi-lagi belajar dari pengalaman dan cerita-cerita orang, seseorang yang merindukan orang lain pernah memiliki “masa lalu” yang menurutnya bernilai dan memiliki kenangan. so swee…t. Ada kekaguman, simpatik, dan lain-lain. Ketika ia mengingat peristiwa tersebut, maka pikirannya menerawang dan ingin kembali memanggil peristiwa itu hadir di hadapannya. Untuk sekedar melepas rindu… Tapi kadang-kadang rasa rindu itu tidak berada pada tempat yang semestinya. Ia bukan menjadi kekuatan positif melainkan menjadi kekuatan negatif yang amat menyiksa dan tidak bermanfaat. Bahkan tidak jarang, karena salah memperlakukan rasa rindu, seseorang dapat terperosok dalam perilaku yang tidak normal.

Aku sendiri “tidak jarang” merindukan seseorang, untuk tidak mengatakan “sering”. Dan memang semua yang ku rindukan itu memiliki “masa lalu” yang menurutku bernilai dan berharga. Entah itu karena nilai persahabatan, cinta yang ga kesampaian (hahaha.. kasian deh lho), keilmuan, dan lain-lain. Yang paling berat adalah rindu karena urusan cinta. Apalagi cinta yang ga kesampaian. Yah… kurang lebih samalah seperti yang teman-teman pembaca alami selama ini. Hanya saja, Alhamdulillah, sampai saat ini aku masih kebal, masih mampu memperlakukannya secara profesional dan proposional. Aku masih bisa mengatasinya tanpa harus melibatkan orang lain. Tanpa harus bertemu. Inspirasi dari menulis “risalah ringan” ini sendiri karena saat ini aku tengah dimabuk rindu. (waw…) Dan sebagai salah satu usahaku meredam rasa rindu itu sehingga ia tidak ganas dan meyeramkan.

Well, rindu memang makhluk yang misterius. Ia dapat hinggap dimana dan kapan saja. Pertemuan tidak selamanya menjadi solusi yang soluitf untuk melepas rindu. Tidak ada regulasi yang melarang kita untuk merindukan siapa dan apapun yang kita inginkan. Ia dapat memberikan energi positif dan juga energi negatif. Untuk itu, perlakukanlah rindu itu secara baik dan beradab. Perlakukanlah ia secara professional dan proporsional. Jangan biarkan diri kita terlarut dalam rindu yang “gila-gilaan”. Sehingga pada akhirnya, jika memperlakukannya denga tepat, kita akan merasakan rindu yang berkualitas dan memiliki taste yang high value serta menyenagkan. Ku sampaikan salam rindu untuk seseorang yang ada di sana..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: