Posted by: alimtiaz | February 4, 2012

NIKAH BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF M. ABDUH: PEMBACAAN ATAS QS AL BAQARAH/2: 221 DAN AL MAIDAH/5: 5

ABSTRACT

Artikel ini akan mengeksplor tentang pandangan Muhammad Abduh tentang Nikah Beda Agama (NBA). Abduh yang dikenal sebagai seorang yang lebih cenderung menggunakan rasional dalam menafsirkan Al Quran memiliki daya tarik tersendiri, terutama tentang Nikah Beda Agama. Terdapat dua term yang akan menjadi penekanan dalam atikel ini, yaitu musyrik dan ahli kitab. Kedua terminologi ini merupakan perwakilan dari QS Al Baqarah/2: 221 dan Al Maidah/5: 5 yang merupakan ayat-ayat yang berbicara tentang pernikahan beda agama. Musyrik dan ahli kitab adalah dua istilah yang memiliki makna yang berbeda dan dimensi yang berbeda pula dalam kaitannya dengan nikah beda agama. Sehingga sangat penting untuk memetakannya agar tidak terjebak dalam pemahaman yang kurang tepat. Di samping itu, kedua kata ini sering dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa NBA haram ataupun halal. Kedua istilah diatas akan dilihat dan disajikan dalam bingkai perspektif Abduh yang merupakan representasi dari para pembaharu Islam.

Key word: Abduh, Ahli kitab, Musyrik, Nikah Beda Agama

I. PENDAHULUAN          

Nikah beda agama -selanjutnya disingkat menjadi NBA- bukanlah hal yang baru dalam kajian Islam. Pembahasan ini sudah dimulai sejak masa Rasulullah dan juga para sabahat. Nabi Muhammad sendiri pernah menikahi Maria Qibtiyah, perempuan Kristen Mesir dan Sophia yang Yahudi. Dan Nabi tidak mensyaratkan mereka untuk masuk dan memeluk Islam. Disamping itu bahwa para sahabat dan tabi’in juga melakukan hal yang serupa. Usman bin Affan menikah dengan Nailah binti Quraqashah Al-Kalbiyah yang Nasrani, Huzaifah kawin dengan perempuan Yahudi di Madian, dan Thalhah bin Ubaidillah dengan perempuan Yahudi di Damaskus. Nah, fakta historis diatas menunjukkan bahwa NBA sudah ada pada masa Rasulullah dan sampai sekarang pembahasan ini pun masih tetap hangat diperdebatkan dengan konteks yang mungkin sedikit berbeda.

Perdebatan tentang boleh atau tidaknya NBA ini tidak terlepas dari penafsiran para mufassir terhadap QS Al Baqarah/2: 221 dan Al Maidah/5: 5. Secara lebih spesifik, hal yang menjadi debatable adalah penafsiran terhadap musyrik dan ahli kitab yang hingga saat ini pun belum menemukan titik temu yang terang. Dari penafsiran-penafsiran yang berkembang, setidaknya ada tiga kelompok, yaitu mereka yang mengharamkan NBA secara mutlak tanpa pengecualian, mereka yang mengharamkan NBA kecuali dengan ahli kitab, dan mereka yang menghalalkan NBA sepenuhnya tanpa ada batasan. Masing-masing dari kelompok ini memiliki argumen-argumen dan alasan-alasan berbeda-beda yang merupakan hasil dari penafsiran terhadap Al Quran.

Di tengah-tengah peliknya masalah NBA, hadir seorang pembaharu Islam yang berasal dari Mesir yaitu Muhammad Abduh. Ia dikenal sebagai seorang penafsir yang cenderung menggunakan rasio dalam menafsirkan ayat-ayat Al Quran. Abduh adalah seorang pemikit Islam yang memiliki tingkat intelegensi yang amat tinggi. Ia adalah, meminjam istilah M. Nur Khalis, pemikir progresif. Artinya bahwa ia mencoba memberi penafsiran baru kepada Islam agar ia lebih sesuai dan selaras dengan tuntutan kemajuan dan dan kemoderenan saat ini. Tafsir Al Manar yang merupakan hasil buah karya miliknya, yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Rasyid Rihda, sangat masyhur dan tersebar luas ke seluruh pelosok dunia Islam. Bagi peminat studi Al Quran, kitab tafsir ini memilikiki peranan yang tidak kecil dalam pencerahan pemikiran serta penyuluhan.

Terkait dengan tulisan ini, penulis akan sedikit memaparkan pandangan Muhammad Abduh tentang NBA yang lebih terspesifikasi dalam tafsirnya ”Al Manar” dalam QS Al Baqarah/2: 221 dan Al Maidah/5: 5. Bagaimana konsepsi Abduh tentang NBA dan bentuk metodologis yang dibangunnya yang kemudian dijadikan pijakan dalam penafsiran terhadap Al Quran. Dan tentunya tulisan ini sebatas pembacaan dan pengetahuan yang dimiliki penulis.

II. SEJARAH INTELEKTUAL ABDUH DAN KARYANYA

            Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah yang dikenal dengan nama M. Abduh dilahirkan pada tahun 1265 Hijriah yang bertepatan dengan tahun 1849 Masehi di sebuah desa bernama Mahallat Nashr yang berada di kawasan Al-Buhairah, Mesir. Dia berasal dari keluarga yang tidak tergolong kaya dan bukan pula keturunan bangsawan. Ia hidup di lingkungan para petani di pedesaan.[1]

Setelah mulai menginjak usia remaja, Abduh dikirim oleh ayahnya ke Masjid Al-Ahmadi Thantha, sekitar 80 km dari Kairo, untuk belajar Tajwid al-Qur’an dengan Syaikh Mujahid yang terkenal dengan seni bacaan tajwidnya. Namun setelah beberapa saat ia belajar di sana, ia merasa bahwa metode pengajaran yang diterapkan cukup menjengkelkan dan tidak bisa ia pahami. Setelah 2 tahun, Abduh memutuskan untuk kembali ke desanya. Nah, ketika ia sudah kembali ke desanya, ia justru dinikahkan oleh orang tuanya dalam usia 16 tahun.[2]

Karena terus dipaksa oleh ayahnya untuk belajar di Al-Ahmadi, Abduh akhirnya melarikan diri ke Syibral Khit, desa yang banyak ditempati oleh keluarga ayahnya. Dan di sinilah dia bertemu dengan syeikh Darwisy Khidr, salah seorang pamannya sendiri yang mempunyai pengetahuan mengenai al-Qur’an dan penganut thariqah asy-Syadziliah. Ia berhasil mengubah pandangan Abduh dari yang membenci ilmu pengetahuan menjadi orang yang menggemarinya.

Berawal dari pertemuan dengan pamannya inilah Abduh mulai menemukan pencerahan akan hakikat ilmu pengetahuan dan kembali mendapat semangat untuk menimba ilmu di Mesjid Al Ahmadi Thantha. Usai dari sana, beliau melanjutkan studinya di al-Azhar, yaitu pada bulan Februari 1866. Di al-Azhar Muhammad Abduh melemparkan kritikannya tentang metode pengajaran yang diterapkan. “Kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama’ terdahulu, tanpa mengantarkan mereka kepada usaha penelitian, perbandingan dan penarjihan”.

Pada tahun 1871 Masehi, ketika Jamaluddin al-Afghani tiba di Mesir, Abduh sering menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang digelar oleh Syeikh Jamaluddin. Disamping itu dia juga sering mengikuti halaqah-halaqah non-formal dan mendengarkan pelajaran langsung di rumah al-Afghani. Maka secara alami, Abduh juga ikut terpengaruh dan menyebarkan corak pemikiran Afghani. Dari kedekatannya inilah Jamaluddin al-Afghani berhasil mengubah Abduh dari tasawwuf -dalam arti sempit dan tata cara berpakaian dan zikir- kepada tasawuf dalam arti lain, yaitu perjuangan untuk perbaikan masyarakat dan membimbing mereka untuk maju serta membela ajaran-ajaran Islam.

Setelah dua tahun pertemuannya dengan Jamaluddin Al Afghani, tepatnya pada usia yang ke-26 tahun, terjadi perubahan yang signifikan dalam kepribadiannya. Ia sudah mulai menulis secara mendalam tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam dan tasawwuf serta mengkritik pendapat-pendapat yang dianggapnya salah. Selain itu, Abduh juga menulis artikel-artikel pembaruan di surat kabar Al-Ahram. Banyak dari pengajar Al Azhar yang tidak menyukai tulisan-tulisannya yang sifatnya mengkritik dan ”menjatuhkan”.[3]

Namun kerena kemampuan ilmiahnya dan pembelanya yang amat kuat, Abduh dinyatakan lulus dengan peringkat tertinggi dalam usia 28 tahun (1877 M) oleh Syeikh Muhammad Al-Mahdi Al-Abbasi, Syeikh al-Azhar pada saat itu. Setelah itu ia mengabdi di Al Azhar dengan mengajar beberapa mata kuliah seperti manthiq dan ilmu kalam. Ia juga mengajar dalam pertemuan-pertemuan non-formal seperti di rumah dan masjid.

Pada tahun 1879 Jamaluddin Al-Afghani diusir oleh pemerintah Mesir atas hasutan pemerintah Inggris yang pada saat itu sangat berpengaruh di Mesir. Sedangkan Abduh sendiri diasingkan di desa kelahirannya. Dan setelah kurang lebih  satu tahun, akhirnya ia pun menyusul al-Afghani ke Paris. Di sana mereka menerbitkan Jurnal Islam “al-Urwah al-Wutsqa” yang bertujuan menentang penjajahan barat, khususnya Inggris.

Tahun 1885, Abduh meninggalkan Paris menuju Beirut (Libanon) dan mengajar disana sembari mengarang beberapa kitab. Hasil karyanya antara lain adalah Risalah Al Tauhid (dalam bidang teologi), Syarh Nahjul Balaghah (komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib), menerjemahkan karangan al-Afghani: Al Raddu ‘ala Al Dahriyyin (bantahan terhadap orang-orang yang tidak percaya eksistensi Tuhan), dan Syarah Maqamat Badi’ Al Zaman Al Hamazani (kitab yang menyangkut tentang bahasa dan sastra).

Beberapa karya M. Abduh dalam bidang tafsir:[4]

–          Tafsir Juz Amma, yang dikarangnya untuk menjadi pegangan para guru mengaji di Maroko pada tahun 1321 Hijriah.

–          Tafsir surah wal ’ashr, karya ini berasal dari kuliah atau pengajian-pengajian yang disampaikannya di hadapan ulama dan pemuka-pemuka masyarakat Al Jazair.

–          Tafsir ayat-ayat al nisa ayat 77 dan 87, al hajj ayat 52, 53, dan 54, dan al ahzab ayat 37. karya ini dimaksudkan untuk membantah tanggapan-tanggapan negatif terhadap Islam dan Nabinya.

–          Tafsir Al Quran bermula dari Al Fatihah sampai dengan ayat 129 dari surah Al Nisa yang disamp[aikannya di dalam masjid Al Azhar, Kairo, sejak awal Muharram 1317 H sampai dengan pertengahan Muharram 1332 H. Walaupun penafsiran ayat-ayat tersebut tidak ditulis langsung oleh Abduh, namun itu dapat dikatan sebagai karyanya karena muridnya -Rasyid Ridha- selalu menunjukkan artikelnya tersebut dan tekadang Abduh mempern\baikinya dengan penambahan dan pebgurangan satu atau beberapa kalimat, sebelum kemudian disebarluaskan dalam majalah Al Manar.

Pada 11 Juli 1905, pada masa puncak aktivitasnya membina umat, Muhammad Abduh menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya, Muhammad Bek Raban, di Ramel Iskandariyah, Mesir. Ia meninggalkan karya besar, yaitu tafsir ”Al Manar”, walaupun kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh muridnya, Rasyid Ridha. Disamping itu, ia juga meninggalkan jejak-jejak perjuangan yang amat berharga bagi intelektual Muslim.

III. METODOLOGI PENAFSIRAN ABDUH

Menurut Abduh, mempelajari dan menggali tafsir al-Qur’an secara mendalam bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan ia termasuk bidang yang paling sulit namun sangat penting. Titik kesulitan tersebut menurutnya karena disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah karena Al-Qur’an merupakan “kalam samawi” atau “sabda langit” yang diturunkan Tuhan semesta alam kepada hati penutup para nabi, Muhammad SAW, dan ia mengandung begitu banyak pelajaran dan ilmu pengetahuan yang agung. Maka tidak akan mungkin bisa menemukan mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya, kecuali orang-orang yang mempunyai hati bersih dan akal yang cemerlang.

Meskipun demikian, dalam hal ini Muhammad Abduh adalah satu-satunya ulama’, diantara sekian banyak ulama’ al-Azhar, yang secara terang-terangan menyerukan dakwahnya kepada pembaharuan dan pembebasan diri dari belenggu taqlid. Maka ia menggunakan kebebasan akalnya dalam setiap tulisan-tulisannya maupun penelitiannya. Abduh tidak menempuh dan mengikuti terhadap sesuatu yang ia anggap baku dan kaku dari pemikiran serta statemen-statemen para pendahulunya. Sehingga dari situ muncullah gagasan-gagasan serta ide Abduh yang dianggap kontroversial dan sangat kontras dengan pemikiran para ulama’ sebelumnya. Banyak dari kalangan ulama’ Mesir yang marah dan geram dengan sikap Abduh tersebut. Namun tidak sedikit pula para pengikut dan muridnya yang telah banyak mengikuti jejaknya.

Di dalam pemikirannya, ada dua persoalan yangmenjadi fokus dan penekanan oleh Abduh.[5] Pertama, membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana halnya salaf al ummah (ulama sebelum abad ketiga Hijriah), sebelum timbulnya perpecahan, yakni memahami langsung dari sumber pokonya, yaitu Al Quran. Kedua, mempebaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah, maupun dalam tulisan-tulisan di media massa, penerjemahan atau korespondensi.

Kemerdekaan akal dan revolusi Abduh terhadap pola pemikiran lama ini memberikan pengaruh yang besar terhadap berbagai macam metode yang ia terapkan, terutama dalam bidang tafsir. Diantara beberapa aspek yang membedakan Abduh dengan kebanyakan mufassirin sebelum dan sezamannya adalah karena ia telah mengambil dasar tersendiri yang ia jadikan sebagai landasan dan alat bedah dalam menafsirkan al-Qur’an. Landasan Abduh dalam penafsirannya adalah bagaimana mendapatkan pemahaman terhadap al-Qur’an, yang merupakan pondasi dasar agama, dengan berbagai macam kandungannya yang dapat mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebab menurut Abduh, inilah tujuan tertinggi dari al-Qur’an. Adapun pembahasan-pembahasan lain yang menyertainya merupakan konsekuensi atau aksi lanjutan dan jalan untuk mencapai tujuan itu.[6]

Setelah Abduh menetapkan landasan dasar ini dalam ranah penafsirannya, ia beranjak mengkritik kelalaian para mufassirin dari tujuan utama ini. Yaitu tentang apa yang ada dalam al-Qur’an -dari petunjuk dan bimbingan- lalu mereka perluas pembahasan tafsir mereka kepada bentuk lain dari segi balaghah, nahwu, perbedaan-perbedaan dalam hukum fikih, dan berbagai macam maqashid yang dinilai oleh Abduh; dengan itu justru dapat menghamburkan maksud asli dari kitab suci, sekaligus mengarah kepada egoisme dan fanatisme terhadap kepentingan madzhab masing-masing. Akibat dari dominasi nafsu kepentingan tersebut dikhawatirkan akan membuat mereka lupa akan makna yang hakiki dari al-Qur’an.

Corak Khusus Penafsiran Muhammad Abduh

Bukan hanya seorang mufassir, bahkan setiap orang pun (yang mengetahui bahasa arab) ketika membaca Al-Qur’an, maka maknanya akan jelas di hadapannya. Namun tatkala ia membacanya sekali lagi, tidak menutup kemungkinan ia akan mendapati makna lain yang berbeda dari makna pertamanya. Demikian seterusnya hingga Abdullah Darraz mengatakan dalam An-Naba’ Al-Adzim sebagai berikut: “Ayat-ayat al-Qur’an bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari sudut yang lainnya. Dan tidak mustahil ketika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan mendapatkan yang lebih banyak dari apa yang kita lihat”.

Oleh karena itu, setiap penafsir akan menghasilkan corak penafsiran yang berbeda tergantung latar belakang keilmuan, kondisi sosial kemasyarakatan, aliran kalam, madzhab fikih, dan kecenderungan sufisme mufassir itu sendiri, sehingga akan menghasilkan berbagai macam corak dan warna penafsiran al-qur’an. beberapa corak yang muncul antara lain corak sastra bahasa, corak filsafat dan teologi, corak penafsiran ilmiah, corak fikih, corak tasawuf, dan corak sastra budaya kemasyarakatan.

Adapun corak yang terakhir inilah (corak sastra budaya kemasyarakatan) yang digagas dan didengungkan pertama kali oleh Syeikh Muhammad Abduh. Melalui corak ini Abduh ingin menguak dan menjelaskan petunjuk-petunjuk dari ayat al-Qur’an yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, usaha-usaha untuk menanggulangi berbagai macam penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk-petunjuk ayat, dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti, namun enak didengar.[7]

IV. NIKAH BEDA AGAMA (NBA) MENURUT ABDUH

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS Al Baqarah/2: 221)

Para ahli tafsir, dalam menjelaskan kata musyrik selalu mencontohkan dengan agama majusi (penyembah api) dan watsani (penyembah berhala). Ada juga sebagai mufassir yang mendefinisikan musyrik dengan “semua orang kafir yang tidak bergama Islam”. Dengan pengertian ini maka umat Yahudi dan Nasrani tergolong musyrik. Hal ini dikarenakan kalangan Yahudi menganggap bahwa Uzair adalah anak Tuhan, sedang orang-orang Nasrani menganggap bahwa Al Masih sebagai anak Tuhan.[8]

Sebagaimana sebuah riwayat yang juga diyakini sebagai asbab al nuzul dari ayat diatas, bahwa ”Seorang sahabat bernama Murtsid bin Abi Murtsid pernah didatangi bekas orang yang pernah dicintainya dulu waktu di zaman jahiliyah. Wanita itu lalu minta untuk dizinahi. Murtsid segera menjawab: Wah, itu tidak mungkin, sebab saya sudah masuk Islam, dan Islam telah menjadi penghalang di antara kita. Lalu wanita itu minta agar dinikahi saja. Murtsid berkata: kalau begitu saya akan menemui Rasulullah dulu. Lalu turunlah ayat di atas.

Hal yang menjadi perdebatan tentang NBA terkait dengan ayat diatas ialah pembatasan pemaknaan dari musyrik dan juga apakah asbab al nuzul diatas yang terbatas pada musyrik Mekkah saja atau seluruh musyrik di dunia. Permasalahan NBA ini akan tampak lebih jelas bila melihat ayat berikutnya tentang ahli kitab yang tedapat dalam QS Al Maidah/5: 5:

“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.” (QS Al Maidah/5: 5).

            Pembicaraan tentang NBA sampai sekarang masih terus hangat dibicarakan dan didiskusikan. Hal ini dikarenakan adanya pihak-pihak yang menginginkan agar Islam tidak menjadi agama yang tertutup dan menerima pluralitas agama. Adalah Abduh yang mencoba memberikan solusi dalam penafsiran tentang ayat-ayat diatas. Sedikit melihat konteks keindonesiaan, pendapat Abduh sudah mulai didengungkan, yang dalam hal ini adalah paramadi yang menjadi representasi. Sehingga apa yang disuarakan paramadina adalah tidak terlalu berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Abduh.

Sebelum masuk pada kajian tentang NBA, penulis sedikit ingin menyebutkan beberapa makna kufr di dalam Al Quran. Karena perbebatan masalah kufr selalu hangat diperbincangkan oleh para teolog yang saling mengkafirkan dan untuk membela argumennya. Kata kufr terulang 525 kali dalam Al Quran dengan berbagai macam maknanya. Secara sederhana kufr berarti menutupi kebenaran Tuhan dan Rasul, ingkar nikmat dan lain-lain.

Seperti keimanan yang dimiliki oleh setiap orang beriman tidak sama tingkatannya antara satu dari yang lainnya, demikian juga kekafiran. Diantara jenis kekafiran yang disebutkan di dalam Al Quran adalah kufr ingkar (pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan dan Rasul serta ajarannya), kufr juhud (tidak jauh berbeda dengan kufr ingkar), kufr munafiq (mengakui Tuhan dan Rasul sebatas lisan, tidak dengan hati), kufr syirik (menyekutukan Tuhan), kufr nikmat (tidak mensyukuri nikmat Tuhan), kufr murtad (keluar dari Islam), dan kufr ahli kitab (non Muslim yang percaya kepada nabi dan kitab suci yang diwahyukan Tuhan melalui nabi kepada mereka).[9] Sehingga dapat dilihat bahwa kufr syirk dan kufr ahli kitab berbeda dan memiliki makna yang berbeda.

Abduh secara jelas mengatakan bahwa musyrik yang dimaksud di dalam QS Al Baqarah adalah musyrik arab. Apakah masih ada sampai sekarang orang-orang musyrik Arab itu? Kalau ada, maka hukum tetap berlaku. Tetapi apabila tidak ada, maka dengan sendirinya tidak ada satu kepercayaan dan agama pun  yang menjadi kendala dalam melakukan perkawinan.[10]

Berikut kutipan dari tafsir Al Manar yang ditulis oleh M. Abduh dan muridnya Rasyid Ridha berkenaan dengan kata musyrik di dalam QS Al Baqarah/2: 221:

 ملخص هذه الفتوي أن المشركات اللاتي حرم الله نكاحهن في أية البقرة هن مشركات العرب وهو المختار الذ رجحه شيخ المفسرين ابن جرير الطبري و إن المجوس و الصابئين ووثني الهند و الصين و امثالهم كاليابانيين اهل كتب مشتملة علي التوحيد إلي الأن و الظاهر من التاريخ و من بيان القرأن أن جميع الأمم بعث فيها رسل وإن كتبهم  سماوية طرأ عليها التحريف كما طرأ عل كتب اليهود و النصاري التي هى احدث عهدا في التا ريخ. (تفسير المنار المجلد السادس, صفحة 193)

“Kesimpulan tentang fatwa NBA adalah bahwa laki-laki Muslim yang diharamkan oleh Allah menikah dengan wanita-wanita musyrik dalam QS Al Baqarah/2:221 adalah wanita-wanita musyrik Arab. Itulah pilihan yang dikuatkan oleh Mahaguru Ibnu Jarir Al Thabari, dan bahwa orang-orang Majusi, Al Shabi’in, penyembah berhala di India, Cina dan semacam mereka seperti oarang-oranh Jepang adalah ahli kitab yang (kitab mereka) mereka mengandung Tauhid sampai sekarang. Dan hal ini jelas sebagaimana sejarah dan dikatakan Al Quran bahwa bahwa setiap umat diutuslah seorang Nabi dan kitab-kitab mereka adalah samawi dan kemudian terjadi penyimpangan seperti kitab Yahudi dan Nashara yang tertulis di dalam sejarah”.[11]

Abduh yang dianggap sebagai ulama modern menegaskan bahwa Mujusi, Sabian, Hindu, Budha, Konghuchu, Shinto dan agama-agama lain dapat dikatagorikan sebagai ahli kitab. Agama diatas pada mulanya berpaham monotheisme dan memiliki kitab suci. Akan tetapi karena perjalanan waktu yang begitu panjang, agama tersebut kerasukan faham-faham syirik, kitab-kitab suci mereka, kalau masih bertahan dan tidak ditelan oleh zaman, telah mengalami intervensi manusia sehingga isinya pun menyimpang jauh dari aslinya. Namun demikian, para pengikutnya  tidak disebut musyrik sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al Baqarah/2: 221.[12]

Tidak disebutnya agama-agama diatas, kecuali Majusi dan Sabian, di dalam Al Quran adalah karena orang-orangArab sebagai komunitas pertama yang didatangi A L Quran sama sekali tidak mengenal agama-agama itu. Hal ini diperkuat bahwa sebagaimana diterangkan didalam Al Quran bahwa setiap umat pasti diutus seorang Rasul untuk memberikan peringatan.

 V. KESIMPULAN

            Adalah Abduh yang dianggap sebagai penafsir yang lebih menggunakan rasio dalam penafsiran sudah mencoba memberikan tawaran baru tentang NBA. Ia secara tegas menyatakan bahwa NBA adalah sah untuk dilakukan dan tidak ada larangannya. Hal ini merupakan hasil penafsirannya terhadap QS Al Baqarah/2:221 dan Al Maidah/5: 5. Hal ini perlu diapresiasi mengingat usahanya mencari wajah baru Islam dan untuk tidak selalu tergantung pada penafsiran klasik (taqlid).     Wallahu a’lam bi al shawab.             

DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad. dan M. Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar (Dar Al Ma’rifah: Kairo, t.th).

Karsayuda, Muhammad. Perkawinan Beda Agama: Menakar Nilai-Nilai Keadilan Kompilasi Hukum Islam. Yogyakarta: Total Media, 2006.

Nurcholis, Ahmad. Memoar Cintaku: Pengalaman Empiris Pernikahan Beda Agama. Yogyakarta: Lkis, 2004.

 _______________. Kado Cinta Bagi Pasangan Beda Agama. Jakarta. Gramedia. 2008.

Nasution, Harun. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah. Jakarta: UI-Press. 2006.

Setiawan, M. Nur Khalis. Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al Qur’an. Yogyakarta: Elsaq Press, 2008.

Sirry, A. Mun’im (ed.). Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. Jakarta: Paramadina, 2005.

Shihab, M. Quraish. Rasionalitas Al Quran: Studi Kritis atas Tafsir Al Manar. Tangerang: Lentera Hati, 2007.

_________________. Wawasan Al Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2007. 


[1] Nasution, Harun, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah ( Jakarta: UI-Press, 2006) hlm. 11.

[2]M. Quraish Shihab, Rasionalitas Al Quran: Studi Kritis atas Tafsir Al Manar (Tangerang: Lentera Hati, 2007), hlm. 6.

[3] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (Jakarta: UI-Press, 2006), hlm. 13.

[4] M. Quraish Shihab, Rasionalitas Al Quran: Studi Kritis atas Tafsir Al Manar, hlm. 18.

[5]M. Quraish Shihab, Rasionalitas Al Quran: Studi Kritis atas Tafsir Al Manar, hlm. 16.

[6]Ahmad Nurcholis, Memoar Cintaku: Pengalaman Empiris Pernikahan Beda Agama (Yogyakarta: Lkis, 2004), hlm. 140.

[7] M. Nur Khalis Setiawan, Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al Qur’an (Yogyakarta: Elsaq Press, 2008), hlm. 43.

[8] Ahmad Nurcholis, Cinta Bagi Pasangan Beda Agama. (Jakarta, Gramedia, 2008), hlm. 99.

[9]A. Mun’im Sirry (ed.), Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis (Jakarta: Paramadina, 2005), hlm. 157.

[10]M. Abduh dan M. Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar (Dar Al Ma’rifah: Kairo, t.th), hlm. 193

[11]M. Abduh dan M. Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar, hlm. 193. lihat juga M. Quraish Shihab, Wawasan Al Quran (Bandung: Mizan, 2007), hlm 487.

[12]M. Abduh dan M. Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar, hlm. 194.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: