ISRAILIYAT: SEBUAH PENGENALAN

Posted: November 8, 2012 in Qur'anic Studies

 

Dalam sejarah perkembangan tafsir dikenal sebuah istilah yang dalam pandangan penulis merupakan term yang tidak asing bagi pengkaji tafsir terutama pengkaji sejarah tafsir. Istilah yang dimaksud adalah israiliyat. Pada awal perkembangan Islam (baca: tafsir), terjadi persentuhan-persentuhan dengan para non-muslim. Ada informasi-informasi yang masuk ke dalam Islam  melalu mereka –kalangan Yahudi dan Nasrani- baik setelah maupun sebelum masuk Islam.

Kata Israil mulanya merupakan laqab atau gelar Nabi Ya’kub as, yang artinya ialah pemimpin yang berjuang bersama Allah. Kemudian kata ini digunakan untuk sebutan semua anak cucunya samapi sekarang, bahkan untuk nama negaranya.[1] Adapun yang dimaksud dengan israiliyat disini adalah berita-berita yang berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang diterima oleh sebagian mufassir dan memasukkannya ke dalam tafsirnya.

Hal ini –israiliyyat- dapat masuk ke dalam tafsir melalui dua cara. Pertama, dari kaum muslim sendiri. Mereka ingin tahu banyak tentang asal kejadian alam, manusia dan berbagai peristiwa masa lalu mengenai pribadi, bangsa, negeri dan sebagainya. Mereka lalu bertanya kepada ahlul kitab yang dipandang lebih tahu tentang kisah-kisah zaman dahulu. Karena yang dikisahkan bukan mengenai hukum, maka mereka menerimanya saja. Kemudian datang ahli-ahli tafsir berikutnya yang juga menukilkan riwayat ini.[2] Kedua, dari tokoh atau pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam. Setelah menjadi muslim mereka banyak menjadi alim dan pandai membaca al Quran dan Hadist. Akan tetapi mereka masih membawa pengetahuan keagamaan mereka berupa cerita dan kisah-kisah keagamaan. Sehingga ketika membaca al Quran, terkadang mereka memaparkan berdasarkan pengetahuan mereka dahulu. Hal inilah yang menjadi jalan masuknya israiliyyat di dalam kitab-kitab tafsir.[3]

Sebenarnya para sahabat tidak mengambil dari ahli kitab berita-berita yang terperici untuk menafsirkan al Quran kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi ketika masa tabi’in ahli ikitab semakin banyak memeluk Islam, maka tabi’in banyak megambil berita dari mereka. Masa tabi’ al tabi’in, perhatian para mufassir semakin banyak kepada israiliyyat. Ibnu Khaldun pernah melukiskan hal ini, “apabila mereka ingin mengetahui sesuatu yang dirindukan jiwa manusia, yaitu mengenai hukum kausalitas kosmos, permulaanmakhluk dan misteri alam, mereka menanyakannya kepada ahli kitab (yahudi dan nasrani)…, dengan demikian kitab tafsir penuh dengan nukilan-nukilan dari mereka…”.[4]

Pada dasarnya israiliyyat ini telah masuk dalam tafsir sejak mas asahabat. Hal ini karena banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani telah masuk Islam, bahkan terdapar diantara mereka yang bestatus pendeta. Setelah mereka memeluk Islamlalu mempersoalkan masalah agamanya yang dahulu itu di dalam Islam, bahkan memasukkannya ke dalam Islam, terutama tentang kisah-kisah para Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad yang disebutkan di dalam kitab mereka, yakni Taurat dan Ijil.

Kemudian pada masa tabi’in kosah-kisah israiliyyat ini semakin banyak dan tersebar di kalangan msasyarakat Islam, apalagi jumlah mereka yang masuk Islam makin bertambah banyak, dan mereka hidup bebasr tersebar dimana-mana, seperti di Syiria, Baghdad, Kufah, Basrah, dan beberapa tem[at lainnya. Diantara merekaada yang menjadi penyamak kulit, pencelup warna, tukag roti dan buruh kasar, bahkan adapula yang menjadi hartawan. Sementara orang-orang Kristen banyak yang enajdi tabib di istana-istana Baghdad, disamping sebgai penerjemah buku-buku filsafat Yunanai ke dalam bahasa arab.

Al Quran dalam mengemukakan suatu kisah biasanya mengutarakan secara mujmal atau garis besar, terutama yang menyangkut nabi-nabi terdahulu. Hal ini karenma memang tujuannya hanyalahsekedar menggugah akal supaya terpikir dan mengambil pelajaran, idsamping mengetuk hati sanubari supaya tergerak untuk berbuat baik dan menjauhkan diri dari yang buruk dan merugikan. Selain daripada itu juga utnuk memberikan petunjuk dan pelajaran kepada orang yang beriman supaya makin bertambah kuat imannya kepada kebenaran risalah yang dibawa Muhammad.

Sebagai contoh perhatikan ksiah Nabi Adam as dalam QS al Baqarah/2: 35, QS al A’raf/7: 19-22, QS al Isra/17: 61, dan QS Thaha/20: 115-123. Dalam ayat-ayat tersebut tidak disebutkan secara terperinci tentang letaknya surga, jenis pohon larangan, hewan yang menyamar menjadi setan untuk menggoda Adam dan Hawa, tidak pula disebutkan secara terurai dialog antara Allah dan Adam dan tidak pula disebutkan tempat dan hari diturunkan dari surga.

Sedangkan Taurat menyebutkan bahwa surga tempat Adam dan Hawa adalah di sebelah Timur Aden, pohon larangan itu tumbuhnya di tengah surga namanya syajarah al hayat, hewan yang menggoda Adam dan Hawa ialah seekor ular, yang digoda pertama kali adalah Hawa (iastri Adam), kemudian ikut mempengaruhi Adam (suami Hawa). Maka sebagai hukuman kepada Hawa, Tuhan membebani wanita tugas yang cukup berat, yaitu mengandung dan melahirkan, sedangkan sebagai kutukan kapada ular ditakdirkan hidupnya merayap di tanah. (Kitab Kejadian, bab 2 ayat 8-8 dan bab 3, ayat 2-16).

Dengan adanya keterangan yang dianggap lebih terperinci itu dirasakan dapat memberikan jawaban dari sebagian pertanyaan yang timbul dari pemahaman ayat-ayat berkaitan dengan kisah (apapun) yang mujmal. Para mufassir telah menukilkan kisah Adam dan Iblis diatas di dalam tafsir mereka, demikina dengan beberapa kisah lainnya.

Mereka (mufassir pada masa awal) menganggap israiliyat semacam ini, yaitu yang yang tdaik jelas bagi kita benar atau bohongnya dan tidak ada keterangan lain di tengah kita. Bisa menjelaskan firman Allah yang mujmal itu. Mereka berpegang kepada sabda Rasulullah:

Sampaikan dariku walaupun satu ayat, dan beritakan kepada kaum Bani Israil, dan perbuatan yang demikian tidak mengapa”. (HR Bukhari).

Hadist ini memberikan rukhsah kepada muslimin untuk mengambil informasi dari Yahudi (pun Nasrani) sebagai sumber seadanya. Hal ini bertujuan untuk mengambil i’tibar, pelajaran dan peringatan atas peristiwa yang telah dialami mereka.

Sehubungan dengan masuknya israiliyat ini ke dalam tafsir, maka timbullah beberapa pendapat di kalangan ulama. Diantaranya ialah Ibnu Katsir mengatakan bahwa apabila kisah itu masuk akal maka boleh kita terima, sedangkan yang mustahil dan tidak masuk akal, tidak sah dan mengandung kebohongan maka tidak boleh.[5]

Al Tufi menyatakan bahwa diatara para mufassir yang menukilkan israiliyat di dalam tafsirnya, beranggapan bahwa hal itu ada manfaatnya sebagai penjelasan terhadap ayat yang mujmal. Adapun benar tidaknya itu terserah kepada kritikus dan ulama yangd atang kemudian.[6]

Namun terlepas dari adanya perbedaan pednapat diatara para ulama tentang boleh atau tidaknya penggunaan israiliyat, yang terpenting bagi kita adalah berusaha sebijak mungkin mengambil informasi dari israiliyat. Semampu mungkin diadakan pemimilhan diantara informasi-informasi yang ada. Wallahu a’lam bi al shawab.

 


[1] A. Chaerudi Abd. Chalik, Ulumul Quran, (Jakarta: Diadit Media, 2007),  hlm. 245

[2] A. Chaerudi Abd. Chalik, Ulumul Quran, hlm. 251.

[3] Manna’ al Qaththan, Mabahith Fi Ulum al Quran, (t.t.p: Mansyurat al ahsr al hadis, t.t.h), hlm. 355.

[4] Muhammad Husain al Dzahabi,  Al Tafsir wa al Mufassirun I, (Beirut: Dar al Fikr, 1974), hlm. 177.

[5] A. Chaerudi Abd. Chalik, Ulumul Quran, hlm. 252

[6] A. Chaerudi Abd. Chalik, Ulumul Quran, hlm. 252

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s