PERIODISASI SEJARAH (ALIRAN) ISLAM – INDONESIA

Posted: Juni 19, 2012 in Qur'anic Studies

Pendahuluan

Keberadaan  beberapa aliran dalam sejarah perkembangan Islam, baik secara global maupun lokal tidak bisa terlepas dari fenomena sejarah yang melatarbelakanginya. Hal ini, setidaknya disebabkan oleh faktor kondisi yang sangat berpengaruh pada kelahiran maupun keberlangsungan suatu aliran.

Sejauh ini, kronologi sejarah Islam secara global mengalami metamorfosa yang cukup fluktuatif. Masa klasik sebagai cikal bakal perkembangan Islam ditandai dengan upaya pembangunan peradaban yang dimotori oleh Rasulullah hingga raja-raja Abbasiyah. Upaya yang memakan waktu tidak sebentar ini sempat `dihentikan` oleh serangan Holago Khan di Baghdad yang menjadi tanda dimulainya zaman pertengahan. Sebagian sejarawan lebih suka menamai periode ini dengan masa kemunduran yang kemudian dilanjutkan dengan masa kebangkitan kembali pada awal abad 20.

Di Indonesia, Islam baru masuk serta tumbuh sekitar abad ke-7. Kendati begitu, hal ini bukanlah suatu halangan berarti bagi perkembangan Islam. Buktinya hingga saat ini, perkembangan Islam di Indonesia mengalami progresivitas yang cukup signifikan. Sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk, Islam `dianggap` mampu untuk mengubah paradigma berpikir masyarakat Indonesia melalui beberapa tahapan.

Lalu seberapa eratkah relevansi antar fenomena sejarah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam? Benarkah ilmu pengetahuan Islam benar-benar terpuruk ketika dalam masa pertengahan?Periodisasi Sejarah Islam Global

Sebagai agama yang melingkupi seluruh dimensi kehidupan manusia, dinamika dan progresifitas menjadi suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Awal perjalanan sejarah Islam dimulai di kota Mekkah yang saat itu menjadi pusat dakwah Nabi Muhammad saw. Beberapa peristiwa yang bergulir setelah itu, bahkan hingga saat ini menunjukkan suatu fluktuasi yang cukup signifikan. Karena itulah, sejarawan kemudian mengkonsep sebuah periodisasi yang mengklasifikasi sejarah umat Islam.

Periodisasi menjadi suatu hal yang penting mengingat perjalanan sejarah Islam telah mengalami beragam proses dan waktu yang cukup panjang. Untuk itu, klasifikasi sejarah Islam dibutuhkan agar ia dapat difahami dengan cara singkat serta dapat memudahkan pemahaman awal para pemerhati sejarah. Hal ini selanjutnya akan memudahkan pemahaman terhadap sejarah Islam secara keseluruhan.

Periodisasi sejarah umat Islam ini disusun berdasarkan keadaan (politik, sosia, ekonomi, serta ilmu pengetahuan) umat Islam secara umum dan beberapa peristiwa yang berpengaruh cukup luas terhadap dunia Islam secara keseluruhan. Akan tetapi karena kajian ini lebih terkhusus pada ranah aliran (keilmuan), maka aspek yang paling banyak disoroti adalah aspek keilmuan (aliran).

Secara umum, ada tiga periode dalam periodisasi yang diakui sejarawan, yakni masa klasik, pertengahan, serta modern. Berikut penjabarannya secara lebih spesifik.

  •  Islam Masa Klasik (650-1250)

Masa ini merupakan masa awal pertumbuhan serta perkembangan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai pemimpin agama, saat itu Rasulullah masih berada dalam masa dakwah dan penyebarluasan agama Islam. Karena dakwah di Mekkah mendapat tantangan yang cukup berarti, maka Nabi Muhammad saat itu `banting setir` dan hijrah ke Yastrib (Madinah).

Pada masa ini, Nabi Muhammad tidak lagi hanya menjadi pemimpin dan pemuka agama, akan tetapi juga memangku jabatan sebagai pemimpin politik atau pemerintahan. Di sinilah peran Nabi Muhammad menjadi semakin luas karena beliau juga menangani masalah ekonomi, sosial, serta ilmu pengetahuan umat. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad kerap kali berkumpul dalam suatu majlis untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan sesama muslim. Metode ini diakui sebagai metode paling efektif dalam upaya internalisasi ilmu pengetahuan Islam.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 634 M, tampuk kekuasaan dipegang oleh Khulafa` Rasyidin. Bisa dikatakan, akar-akar ilmu pengetahuan yang diajarkan Rasulullah masih tertanam erat di kalangan muslimin karena masih banyak para sahabat yang mendapatkan pelajaran langsung dari Nabi Muhammad. Dengan demikian, sandi-sandi Islam yang diajarkan Rasulullah secara umum masih `survive` di kalangan umat Islam.

Penentu kejayaan Islam selanjutnya dipegang oleh Bani Umayyah. Perpindahan tampuk kekuasaan ini diawali oleh peristiwa tahkim antar kubu Ali dan Muawiyah yang menimbulkan perpecahan besar-besaran dalam umat Islam. Disintegrasi ini tidak banyak berengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Umayah. Bahkan bias dibilang, perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini mengalami suatu pencerahan dan pembaharuan besar.

Jika pada masa sebelumnya, yakni masa pemerintahan Nabi Muhammad hingga Khulafa` Rasyidin bidang kajian Islam hanya terbatas pada bidang penafsiran al-Qur`an dan Hadist, maka pada masa ini bidang kajian umat Islam sudah meluas pada ranah eksak, kedokteran, sejarah, bahasa, serta filsafat. Kendati begitu, hal yang perlu menjadi catatan adalah bahwa kemajuan bidang ilmu lain tidak seketika menyurutkan semangat muslim untuk terus mengkaji bidang keIslaman, khususnya al-Qur`an dan Hadist.

Perkembangan ilmu pengetahuan dunia Islam yang cukup diakui dunia (bahkan disebut golden age) terjadi pada masa pemerinatahan daulah Bani Abbasiyah. Musyrifah Sunanto menggambarkan bahwa penerjemahan pada masa ini sudah mulai digalakkan. Sebelumnya pada masa Umayah, penerjemahan konon pertama kali dilakukan untuk memahami buku-buku kedokteran.  Literatur yang diterjemah umumnya merupakan literatur yang berasal dari Yunani . Selain itu ia juga menegaskan bahwa selain perkembangan yang cukup masif dalam bidang ilmu aqli (pengetahuan yang berdasarkan logika, akal), perkembangan ilmu naqli juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. [1]

Bukti kesuksesan daulah Umayah dalam bidang ilmu pengetahuan adalah lahirnya beberapa ilmuwan yang berpengaruh besar terhadap ilmu pengetahuan dunia, khususnya ilmu kedokteran, astronomi, eksakta, ilmu bumi, dan ilmu filsafat. Beberapa ilmuwan tersebut di antaranya adalah ar-Razi, al-Fazari, al-Khawarizmi, al-Idrisy.serta al-Ghazali. Hal yang menarik dari masa ini adalah kemajuan dalam bidang keilmuan justru terjadi ketika suhu politik Abbasiyah mulai memanas. Ini menunjukkan bahwa ilmuwan pada masa itu memiliki konsistensi yang tinggi terhadap komitmen keilmuan mereka.

Lahirnya beberapa ilmuwan dalam disiplin ilmu yang bermacam-macam ini cukup membuktikan adanya insentifitas yang cukup intens dari pihak pemerintah guna memacu umat Islam untuk serius mempelajari ilmu, misalnya dengan tingginya apresiasi terhadap karya dan penemuan maupun pembenahan fasilitas perpustakaan. Bisa dipastikan, tata letak kota secara fisik juga terbenahi seiring konstruksi keilmuan masyarakat yang mulai menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarawan tidak sembarangan memberi nama masa ini dengan masa klasik, yakni masa lampau yang memberi pengaruh yang cukup berarti pada masa selanjutnya. Sendi-sendi Islam dalam segala aspek mulai dibangun serta diperbaiki dalam masa ini. Dan hasilnya, dalam kurun waktu …abad, Islam mampu menjadi agama yang terkemuka di hadapan dunia.

  • Islam Pertengahan (1250-1800)

Setelah beberapa abad umat Islam mengusai dunia, di awal abad ke tiga belas kekuasaan Islam mulai terguncang. Banyak kerajaan-kerajaan kecil yang mulai berani melakukan serangan-serangan karena merasa tidak lagi diperhatikan dan juga ingin bebas dari kekuasaan kekhalifahan pada saat itu. Dan puncak dari keruntuhan kekhalifahan Islam pada masa itu adalah kehancuran Bagdad sebagai pusat pemerintahan oleh serangan Hulaghu khan (cucu Jengis Khan). Ia adalah pemimpin bangsa Mongol yang disegani pada saat itu. Perpustakaan Islam dibakar dan buku-buku banyak yang dilarikan ke perpustakaan mereka. Sehingga banyak karya-karya cendikia muslim yang tak dapat lagi ditemukan jejaknya.

Periode ini terbagi menjadi dua fase, yaitu fase kemunduran (1250-1500) dan fase tiga kerajaan yang dimulai dengan kemajuan (1500-1700)  lalu kemunduran (1700-1800). Pada fase pertama, disentralisasi dan disintegrasi mulai meningkat. Perbedaan antara sekte pun meningkat terutama antara Sunni dan Syi’ah, demikian juga antara Arab dan Persia bertambah nyata dan kelihatan. Dunia Islam pada saat itu terbagi dua yakni bagian Arab yang terdiri dari Arabia, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Afrika Utara dengan Mesir; serta bagian Persia yang terdiri dari Balkan, Asia kecil, Persia, dan Asia tengah dengan Iran sebagai pusat. Kebudayaan Persia mengambil bentuk internasional dan dengan demikian mendesak lapangan kebudayaan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup makin meluas di kalangan umat islam. Demikian juga tarekat dengan pengaruh negatifnya. Perhatian pada ilmu pengetahuan kurang sekali. Umat islam di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar daerah itu.

Pada fase kedua -tiga kerajaan-, dimulai dengan kemajuan. Yang dimaksud dengan tiga kerajaan disini adalah kerajaan Usmani (ottoman empire) di Turki, kerajaan Safawi di persia, dan kerajaan Mughal di India. Di masa kemajuan, ketiga kerajaan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur dan arsitek. Mesjid-mesjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, di Tibriz, Isfahan serta kota-kota lain di Iran dan di Delhi. Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan kemajuan di periode klasik. Perhatian pada ilmu pengetahuan masih kurang sekali.

Perlu ditegaskan bahwa pada masa ini sudah muncul usaha pembaharuan, terutama di kerajaan Usmani. Ini berawal ketika kerajaan Usmani mengalami beberapa kekalahan dalam peperangan melawan Negara-negara Eropa. Sehingga para raja merasa gelisah dan takut akan keruntuhan kekuasaannya. Hal inilah yang mendorong mereka untuk meyelidiki sebab-sebab kekalahan dan mulai memperhatikan kemajuan Eropa, terutama Perancis yang pada saat itu berada pada puncak kejayaan. Pengiriman duta-duta pun mulai dilakukan. Mereka yang dikirim sebagai duta bertugas mengunjungi dan menyelidiki pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan institusi institusi dari dekat lalu kemudian memberikan laporan. Laporan-laporan yang diberikan menarik perhatian sultan untuk melakukan pembaharuan. Karena Eropa sudah mencapai kejayaan dan bahkan suatu saat nanti dapat menguasai dunia.

Pengiriman duta ke Eropa ditanggapi positif. Para ahli-ahli Eropa pun mulai berkunjung ke daerah-daerah kekuasaan Islam dan melatih para tentara muslim. Sampai-sampai ada dari mereka yang masuk Islam dan bergabung bersama pasukan muslim. Tidak hanya dalam bidang militer, dalam bidang non-militer pun ada usaha pembaharuan yang dilakukan para sarjana muslim. Barbagai macam cabang ilmu dipelajari lalu kemudian ditulis dalam bentuk buku dan selajutnya dijadikan bahan bacaan di Turki. Penerjemahan buku barat pun mulai digalakkan. Terdapat beberapa tempat penerjemahaan yang dibangun pada masa ini. Namun demikian usaha-usaha ini belum membawa hasil yang dikehendaki. Ada beberapa faktor diataranya, adanya sultan-sultan yang lemah dan mudah ditaklukan oleh musuh dan adanya penentangan dari pihak ulama-ulama tradisional. Mereka menentang segala sesuatu yang berasal dari barat. Inilah sedikit gambaran bagaimana usaha pembaharuan yang dilakukan pada zaman ini. Walaupun pada akhirnya tidak membawa hasil yang diharapkan, tapi sudah ada usaha yang gigih untuk mencapai kembali kejayaan islam di masa lampau.

Pada masa kemunduran, kerajaan Usmani terpukul di Eropa, kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangan-searngan suku bangsa Afghan, dan daerah kekuasaan kerajaan Mughal dipekecil oleh pukulan-pukulan raja-raja India. Kekuatan militer dan kekuatan politik umat isalam berkurang dan mengalami penurunan. Umat isalam dalam keadaan statis dan mundur. Dalam pada itu, Eropa dengan kekayaannya yang diambil dari Amerika dan Timur jauh, bertambah kaya dan maju. Penetrasi barat yang kekuatannya meningkat ke dunia Islam, yang kekuatannya menurun, kian mendalam dan kian meluas. Yang pada akhirnya pada tahun 1798 Napoleon dapat menduduki mesir sebagai salah satu pusat isalm yang terpenting.

  • Periode Modern (1800-sekarang)

Periode ini merupakan zaman kebangkitan umat islam. Jatuhnya mesir ke tangan barat menginsafkan dunia islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat islam bahwa di barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaaman bagi bagi islam.

Ekspedisi Napoleon di Mesir yang memperkenalkan ide-ide baru seperti system Negara republic yang kepala negaranya dipilih untuk jangka waktu tertentu, persamaan (egalitarian), dan kebangsaan (nation) membuat kalangan Cendikia muslim gelisah. Raja-raja dan pemuka Islam mulai memikirkan mutu dan kekuatan Islam kembali. Mereka berusaha untuk mengembalikan balance of power yang membahayakan Islam. Maka dari itu, pada periode inilah muncul ide-ide pembaharuan dalam islam sebagai suatu usaha untuk kembali pada kejayaan.

Munsullah gerakan pembaharuan yang dilakukan di berbagai Negara, terutama Turki Usmani dan Mesir. Para pembaharu di Turki melahirkan berbagai aliran pembaharuan, seperti Usmani Muda yang di pelopori oleh Ziya pasha (1825-1880) dan Namik Kemal (1840-1888), Turki Muda yang dimotori oleh  Ahmed Reza (1859-1931), Mahmed Murad (1853-1912), dan Sabahuddin (1877-1948). Dari Mesir juga ada beberapa pembaharu diantaranya Muhammad Ali Pasha, Al Tahawi (1801-1873), Jamaluddin Al Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), dan muridnya Rasyid Ridha (1865-1935). Dari Pakistan juga dikenal Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah.

Masing-masing mereka melakukan pembaharuan dan bergerak pada bidang yang berbeda-beda. Ada yang melakukan gerakan pembaharuan dalam bidang teologis dan ada juga yang masuk dalam bidang perpolitikan dan pemerintahan. Sehingga usaha pembaharuan dilakukan dalam berbagai aspek.

Demikian sejarah Islam singkat yang pada kontak Islam dan Barat menampilkan keunggulan peradaban Islam atas Barat. Sedangkan pada kontak selanjutnya, menampilkan keunggulan peradaban Barat atas Islam  dan samapi sekarang peradaban Islam masih tertinggal. Akan tetapi usaha-usaha untuk mencapai kembali kejayaan peradaban Islam masih berlangsung sampai sekarang.

Islam Indonesia (Mitos, Ideologi, dan Ilmu)

Membincang sejarah Islam di Indonesia tak dapat dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan yang berlangsung selama 3,5 abad. Lamanya waktu ini mau tidak mau membekas dalam kerangka pikir masyarakat pribumi secara luas. Apalagi, bangsa kolonial yang menjajah Indonesia memiliki tujuan yang lebih kompleks, yakni gold (uang, harta), glory (mahkota, kekuasaan), serta gospel (mahkota, kekuasaan).

Sejarah mencatat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. Saat itu, menurut catatan beberapa sejarawan, Islam diinternalisasikan melalui berbagai jalur, seperti lewat pelajaran, kesenian, dakwah, serta perkawinan.

Hal ini menjadi logis karena dalam keberadaaannya sebagai agama baru di tengah masyarakat yang telah memiliki kepercayaan agama, Islam dituntut untuk bisa berdialektika dengan adat dan kebiasaan setempat selama hal yang demikian tidak mengotori sendi-sendi Islam. Salah satu upaya dialektika ini adalah kesenian wayang yang dijadikan daya tarik kepada masyrakat pribumi dengan menjadikan pembacaan syahadat sebagai tiket masuk pertunjukan seni wayang tersebut.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika kerangka berpikir maupun kepercayaan masyarakat Indonesia mengalami metamorfosa yang cukup berliku.

Hasil dari proses panjang ini pun tidaklah mengecewakan. Paling tidak secara kasat mata, Indonesia hingga saat ini masih tercatat sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak sedunia.

Berikut dijabarkan secara lebih spesifik mengenai metamorfosa kerangka berpikir masyarakat Indonesia yang berpengaruh secara langsung terhadap kerangka dasar suatu aliran atau organisasi.

  • Masa Mitos

Kuntowijoyo mengemukakan bahwa ciri utama dari masa ini adalah cara berpikir pralogis (mistik) berbentuk magi. [2] Hal ini agaknya merupakan suatu warisan nenek moyang yang turun-temurun hingga masa itu. Sebelum mengenal Hindu-Budha, Nenek moyang bangsa Indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kendati kepercayaan yang demikian tidak lagi dapat `survive` di Indonesia, akan tetapi ia tetap memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pola pikir masyarakat Indonesia, seperti yang tampak pada mengakarnya kepercayaan terhadap hal-hal magis.

Pola pikir yang demikian tampak dalam semua tingkah laku masyarakat pribumi yang saat itu tengah menghadai penjajahan kolonialisme Belanda yang tak kunjung usai. Kendatipun bangsa Indonesia menyadari bahwa mereka harus segera bangkit dan menghentikan penjajahan, akan tetapi tindakan tersebut hanya terbatas pada perlawanan yang bersifat fisik, tidak mencapai ranah diplomatis.

Bangsa Indonesia masih mengandalkan `kekuatan di luar diri` tanpa berupaya untuk mencari alternatif terbaik menyingkirkan Belanda. Pemberontakan di mana-mana terus saja meletup dengan senjata dan prajurit yang tidak seimbang. Tidak ada upaya untuk membenahi SDM maupun perlengakapn tempur.

  • Masa Ideologi

Sebelumnya telah dijelaskan masa mitos dimana masyarakat banyak yang mempercayai hal-hal yang berbau mistik dan ghaib. Pada masa berikutnya masyarakat berpindah menjadi masa ideologi yang cara berfikirnya bersifat nonlogis dan bentuknya abtrak/apriori. Periode ini ditandai dengan berdirinya organisasi politik massa Serikat Islam (SI). Organisasi ini pada awalnya bernama SDI (Serikat Dagang Islam). Namun oleh HOS Tjokrominoto diubah menjadi SI dan memperluas ruang geraknya yang pada awalnya hanya berkisar di wilayah Bogor.

Pada tahun-tahun berikutnya organisasi-organisasi dengan ideologi yang berbeda-beda pun mulai berdiri. Dari tubuh SI sendiri, setelah beberapa puluh tahun berjalan, terpecah menjadi dua yaitu ideologi islam dan komunis. Dan terdapat satu ideologi lagi yaitu ideologi nasionalis yang yang dibentuk oleh lulusan sekolah Belanda.

Yang menjadi ciri organisai-organisasi ini adalah cara berpikir yang nonlogis dan berbentuk pengetahuan apriori tentang nilai-nilai abstrak, solidaritas organis, perkumpulan nasional, dan kepemimpinan intelektual. Metode pergerakan organisasi ini tidak lagi menggunakan penyerangan dan pemberontakan terhadap colonial, akan tetapi lebih mengarah pada tujuan-tujuan perdamaian.

Pada masa ini sudah dijalankan hubungan diplomatis antara pemerintahan kolonial dan para pengerak organisasi. Pada masa ini juga sudah sering diadakan rapat-rapat, aksi-aksi solidaritas, penerbitan, pemogokan, dan gerakan ekonomi.

Reaksi kolonial ketika itu adalah membatasi pergerakan dengan hanya mengizinkan berdirinya organisasi SI. Kalangan kolonial juga sering menolak ajakan dialog dari kalangan SI sehingga rencana-rencana yang telah diatur sering gagal dan tidak menemui titik penyelesaian.

  • Masa Ilmu

Masa ini dimulai pada tahun 1985 yang ditandai dengan perubahan orsospol. Pada masa ini deislamisasi juga mulai kelihatan. Seolah-olah Islam sudah terhapus jejaknya dari perpolitikan Islam. Islam dianggap sudah mandek dan tidak dapat mengatasi persoalan bangsa. Banyak orang yang mengira bahwa Islam hanya dapat diterjemahkan dalam bentuk ideologi. Tapi sebenarnya tidak, ini hanya asumsi dari orang-orang yang putus asa dan nalarnya pendek. Ini terjadi karena Islam mulai memasuki masa baru yaitu masa Ilmu.

Masa Ilmu ini memiliki ciri tersendiri. Cirinya adalah cara berpikir yang logis dan berbentuk konkret (empiris). Sehingga diharapkan tidak akan terjadi kesalah pahaman di kalangan birokrasi dan umat. Kesempatan untuk menciptakan objektifitas pada saat ini sangat terbuka. Karena objektifitas memerlukan cara berpikir yang logis dan sesuai dengan fakta-fakta yang konkret.

Sejak inilah Islam mulai mendapat sorotan kembali. Di harapkan dengan perubahan dari masa Ideologi menjadi masa Ilmu ini dapat menjadikan Negara dan bangsa menjadi lebih baik dan terkendali. Dan Islamlah yang berperan di dalamnya.

Penutup

Setelah membentuk periodesi sejarah Islam (aliran) yang terbagi pada tiga yaitu periode klasik, pertengahan, dan modern, dapat dilihat bagaimana perkembangan peradaban Islam khususnya dalam beidang ilmu pengetahuan. Puncak kejayaan Islam terjadi sebelum abad ke tiga belas. Namun setelah itu, ketika Baghdad hancur akibat serangan Hulagu Khan maka runtuhlah peradaban Islam. Sejak ini pula periode pertengahan dimulai hingga abad ke delapan belas. Dalam periode ini pada masa awalnya terjadi kemajuan. Namun pada abad ke tujuh belas kembali jatuh hingga abad ke delapan belas. Dan kemudian bermuncullah para pembaharu untuk mengembalikan kekuatan Islam seperti zaman dahulu. Zaman ini dikenal dengan periode modern yang berlangsung hingga saat ini.

Di Indonesia juga dibentuk periodesasi perkembangan sejarah Islam. Periode ini dimulai dengan masa Mitos yang corak berpikirnya adalah pralogis (mistik) dan berbentuk ghaib. Pada tahap berikutnya berubah menjadi masa ideologi. Pada masa ini cara berpikir yang digunakan adalah nonlogis dan berbentuk apriori/abstak. Pada masa ini juga mulai berpunculan organisasi-organisasi masa. Periode selanjutnya adalah masa Ilmu dimana cara berpikirnya logis dan berbentuk konkret/empiris.


DAFTAR PUSTAKA

Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), Jakarta: Prenada Media, 2003


[1] Lih. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. 78-89.

[2] Lih. Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).

NB: tugas bersama dengan saudari Masyithah Mardhatillah S.Th.I dalam mata kuliah Aliran Modern Dalam Islam yang diampu oleh Bapak Prof. Dr. Siswanto Masruri, MA / Dian Nur Anna, M.Hum pada semester II, 2008.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s