Sejarah Animisme dan Dinamisme (Pagan)

Posted: Juni 14, 2012 in Qur'anic Studies

Pendahuluan

Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah sudah diperkenalkan dengan sebuah agama yang menuntut penyerahdirian manusia kepadaNya. Berbagai aspek agama tersebut pada perkembangannya mengalami evolusi yang cukup signifikan hingga pada masa penyempurnaannya, yakni pada masa nabi terakhir, Muhammad saw.

Perjalanan waktu yang mengandaikan berbedanya tempat, latar belakang budaya serta sosial masyrakat dan melahirkan perbedaan yang cukup beragam secara tidak langsung menyebabkan keragaman agama yang sampai saat ini masih ada yang survive dan ada yang tenggelam.

Di antara evolusi tersebut, agama pagan, yang juga disinggung dalam al-Qur`an, dianggap sebagai agama masyarakat primitif, bahkan sebelum kehadiran agama Hindu dan Buddha. Meski masih sulit untuk mencari titik temu antara masyrakat primitif dan paganisme, namun indikasi ke arah tersebut dapat diketahui dengan membandingkan ciri-ciri animisme-dinamisme yang dianggap sebagian dari bagian dari agama primitif dengan kebiasaan masyarakat primitif yang cenderung menghormati dan mengkeramatkan benda.

Hal yang menarik dari pembahasan ini adalah adanya konsep yang kurang lebih sama dengan sejarah Ibrahim dalam mencari Tuhan. Agaknya, ada titik temu antara Islam (atau hanif), agama yang menjadi akhir perjalanan panjang Ibrahim dengan  kepercayaan yang diyakininya sebelum memperoleh jawaban dari semua kebingungan yang menderanya. Ini tentunya akan menjadi penelusuran menarik. Selain itu, agama primitif  yang secara periodisasi sejarah berada di masa sebelum kelahiran agama-agama lain lazimnya menyisakan hal-hal yang masih berakar kuat hingga saat ini.

Apa sajakah hal-hal tersebut? Dan jika memang ada, apakah titik temu antara Islam dan paganisme? Bagaimana al-Qur`an menyikapi keberadaan agama pagan?

Asal-Usul

Asal usul kelahiran agama pagan tidak disebutkan secara eksplisit di dalam beberapa referensi. Dari deskripsi yang ada, dapat disimpulkan bahwa kelahiran agama pagan ditimbukan oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal kemunculan agama ini adalah adanya naluri agama yang dimiliki setiap manusia, utamanya sebagai homo religious. Manusia memiliki kesadaran bahwa betatapun hebatnya ia, ada satu dzat yang memegang kendali pada seluruh kejadian di alam semesta yang didiaminya.

Naluri itu kemudian direpresentasikan dalam suatu kepercayaan yang masih sangat terkontaminasi oleh pola pikir umum yang berlaku di masyarakat tertentu.[1] Dalam hal ini manusia primitif, yang dalam Ensyclopedia of Religion and Ethic (ERE) disebut sebagai noncivilized people cenderung mengkeramatkan benda. Mereka beranggapan bahwa benda yang dapat memberi arti dalam hidup dan  membantu mereka menyelesaikan pekerjaan sehari-hari memiliki daya. Ada kekuatan dan sesuatu yang tersembunyi di balik benda tersebut.  Karena itulah benda-benda tertentu kemudian dikeramatkan, dihormati, dan pada perkembangannya, benda (maupun pribadi di balik benda) tersebut dinggap sebagai tuhan. [2]

Akan tetapi pada perkembangannya, agama pagan memiliki beberapa macam sempalan yang masih saling berhubungan satu sama lain. Secara garis besar, ada tiga agama besar yang dapat digolongkan sebagai agama pagan, yakni politheisme, pantheisme, dan animisme serta dinamisme. Politheisme adalah kepercayaan yang meyakini ada banyak tuhan, pantheisme menganggap semua realitas yang ada di dunia sebagai tuhan, sedangkan animisme dan dinamisme adalah kepercayaan pada roh atau benda. Penganut animisme dan dinamisme mengganggap bahwa roh atau benda memiliki pribadi. Artinya bahwa roh atau benda memiliki kekuatan dan kehendak serta dapat menjalankan kehendak tersebut.

Meski demikian, pada intinya manusia primitif sangatlah menghormati benda dan pribadi yang berada di balik benda tersebut. Pola pikir yang demikian baru didobrak dan dianggap sesat setelah datangnya agama Kristen yang salah satu ajarannya adalah untuk mengeksploitasi alam, tidak lagi menghormati dan mengkeramatkan alam. [3]

Sedangkan faktor eksternal yang cukup berpengaruh, sebatas prediksi penyusun, adalah belum masuknya dakwah dari berbagai agama lain. Dengan demikian, masyarakat primitif hanya memiliki satu referensi untuk mengekspresikan naluri keagamaannya, yakni dengan mengkeramatkan –lalu menuhankan benda dan pribadi di balik benda. Kalaunpun ada dakwah, seperti yang diceritakan dalam surat Nuh, komitmen mereka untuk mengikuti agama nenek moyang agaknya masih kuat sehingga mereka sulit menerima dakwah agama lain.

Terkait dengan nama animisme dan dinamisme, penyusun sependapat dengan Honig bahwa nama tersebut baru dicetuskan oleh ilmuwan yang berada pada kurun sejarah sesudahnya. Ilmuwan hanya berusaha mensintesiskan fenomena kebergamaan saat itu dan kemudian menamaknnya dengan istilah yang demikian. Masyarakat primitif tidak pernah memberikan nama pada kepercayaan yang dianutnya. Mereka hanya meyakininya dengan sepenuh hati serta menjalankan ajaran-ajaran yang digariskan dalam kepercayaan tersebut.

Jadi, ada dua perbedaan besar dalam keyakinan manusia primitif, yakni animisme dan dinamisme. Secara umum, animisme dapat diartikan kepercayaan pada nyawa (ruh). Animisme berasal dari bahasa latin, yaitu anima yang berarti ‘ruh’. Tylor menegaskan bahwa animisme adalah kepercayaan terhadap adanya mahluk-mahluk spiritual yang erat sekai hubungannya dengan tubuh atau jasad. Mahluk spiritual tersebutlah yang yang kemudian membentuk jiwa dan kepribadian. [4]

Sedangkan dinamisme berasal dari kata dinamos yang berarti daya atau kekuatan, sehingga dinamisme adalah kepercayaan yang mengandaikan barang atau mahluk tertentu sebagai tuhan. Kepercayaan ini juga disebut preanimisme. [5] Dalam hal ini Harun Nasuition mengemukakan bahawa dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan misterius.[6] Kekuatan misterius batiniyah tersebutlah yang menjadi orientasi dari penghormatan benda-benda tertentu.

Inilah mengapa Honig mengatakan bahwa animisme dan dinamisme merupakan dua entitas yang tak dapat dipisahkan. Hal ini disebabkan kepercayaan animisme dan dinamisme memiliki ketumpangtindihan yang sangat berkaitan. Karena pada intinya, keduanya menyembah hal yang tersembunyi, yakni ruh atau kekuatan spiritual.[7] Bedanya, animisme menyembah ruh tersebut secara langsung sedangkan dinamisme masih menggunakan perantara benda untuk menyembah ruh-ruh yang dianggap memiliki daya.

Ketumpangtindihan, dalam hemat penyusun, terjadi pada benda yang menjadi objek penyembahan. Secara umum, animisme adalah faham yang  menyembah ruh, akan tetapi pada perkembangannya masyarakat primitif juga menyembah ruh yang tersimpan di balik benda, seperti pada pengkultusan tumbuhan padi yang terjadi di  Malaka.

Secara khusus, kemunculan dinamisme adalah karena adanya nisbah yang kuat antara manusia sebagai subjek dan barang sebagai objek. Namun, hubungan subjek dan objek ini tidak sama seperti relasi subjek-objek seperti biasa. Hal ini karena pada konteks dinamisme, subjek dan objek sangat berdekatan, bahkan bisa dikatakan, baik manusia maupun benda sama-sama merupakan subjek. Pada taraf ini sebenarnya masyarakat primitif telah menyadari bahwa manusia dan barang memiliki keterikatan pragmatik.  Pola pikir manusia primitif berbeda dengan manusia modern. Jika manusia modern menganggap alam sebagai objek dan dirinya sebagai subjek yang dapat mengubah serta mengekslpoitasi alam, maka manusia primitif memiliki pemahaman yang berbeda. Artinya,  dalam pandangan masyarakat primitf, manusia berposisi sebagai subjek sedang alam semesta berposisi sebagai objek. Akan tetapi karena mereka mengkeramatkan benda dan menganggap benda sebagai dzat yang berpribadi, maka pada saat itu alam semesta otomatis dianggap sebagai subjek yang juga bisa berposisi sebagai ‘esensi’ yang bisa menyebabkan perubahan pada kehidupan manusia (tidak hanya pasif seperti pemahaman manusia moderan, namun juga aktif).

Sedangkah kemunculan animisme, dalam ERE disebutkan, bahwa pada awalnya adalah keberadaan sebuah usaha rasional yang dilakukan untuk menjelaskan fakta yang terjadi di dunia. [8] Penulis beranggapan bahwa hal ini sama halnya dengan naluri kegamaan. Akan tetapi mengenai alasan memilih mahluk yang berpribadi (seperti ruh atau nyawa) sebagai pengontrol alam semesta yang kemudian menjadi tuhan adalah sama dengan alasan pada kemunculan dinamisme. Ada kepercayaan yang begitu kuat bahwa ruh atau nyawa (dari mahluk yang berpribadi) merupakan sesuatu yang mengatur alam dan seluruh kehidupan manusia.

Tak dapat dipungkiri, penulis mengalami kesulitan untuk mencari titik temu antara paganisme dan  hubungannya dengan animisme. Secara umum, pengertian paganisme adalah aliran yang menyemba berhala,[9] sedangkan dinamisme menyembah barang dan animisme menyembah ruh. Namun, hal ini bisa saja dipertemukan jika mengamati bagian dari kepercayaan tersebut, yakni adanya kepercayaan terhadap dewa yang terkadang direpresentasikan dengan berhala.

Ajaran Pokok

Ajaran pokok dalam dua agama tersebut, secara umum dapat dikatakan sama. Selain karena karena kepercayaan yang sama namun berbeda, ritual kegamaan mereka hanya dibedakan dengan objek yang disembah. Berikut disajikan beberapa ajaran pokok yang tertuang dalam pola pikir dan ritual masyarakat prmitif.

  • Sikap Hidup Keagamaan

Masyarakat primitif tergolong masyarkat yang sarat dengan nilai-nilai religius. Karenanya, hampir setiap kejadian yang dianggap penting selalu menjadi sebab terselenggaranya sebuah upacara. Misalnya ketika terjadi kelahiran, kematian, awal bercocok tanam, dan kejadian penting lain akan diiringi dengan sebuah ritual berupa upacara. Sikap dan tindakan hidup sehari-hari pun diorientasikan untuk bidang keagamaan. Ini membuktikan bahwa masyarakat primitif merupakan suatu komunitas yang memegang teguh ajaran agama yang diyakininya. Pada kejadian ini, bisa diprediksikan bahwa benih-benih sekularisme belum ada sama sekali

  • Pengulangan Kejadian

Masyarakat primitif meyakini bahwa semua kejadian yang bergulir merupakan ulangan dari kejadian yang pernah terjadi pada zaman azali. Dengan demikian, penulis beranggapan bahwa masyarakat primitif cenderung eksklusif dan mengembalikan semuanya pada cerita dan risalah yang mereka yakini berasal dari nenek moyang mereka. Mereka tidak memiliki keinginan untuk berinovasi dan mencari hal baru dalam setiap kejadian yang dialami.

  • Mana dan Magi

Di dalam kedua agama tersebut juga dikenal istilah yang disebut mana. Mana adalah kekuatan atau kekuasaan yang terdapat di dalam dinamisme maupun animisme. Mana ini merupakan kekuatan  atau kekuasan yang keramat dan tidak berpribadi, yang dianggap halus maupun berjasad. Sesuatu itu disebut ’mana’ jika memberi efek atau hasil. Jika tidak maka tidaklah disebut mana. Sedangkan kepercayaan terhadap kekuatan atau daya tersebut disebut magi. Misalnya, orang Jerman primitif melemparkan mantra yang tertulis dalam kayu ketika mereka menghadapi badai saat berlayar. Mereka meyakini bahwa tindakan tersebut dapat menyelamatkan mereka. Jadi dalam hal ini, kekuatan yang diyakini ada dalam tindakan tersebut dinamakan mana, sedang kepercayaan terhadap hal yang demikian disebut magi. [10]

  • Mite

Ada empat ciri yang dapat memberi pengertian mite, yakni, pertama, mite terjadi pada zaman permulaan atau zaman azali. Kedua, kejadian alam tertentu dianggap sebagai suatu tanda adanya kejadian penitng, misalnya kelahiran, kematian, dan sebagianya. Ketiga, mite mengandung kekuasaan. Dalam artian, ketika seseorang memberi nama terhadap sebuah daya, maka daya tersebut menjadi penguasa terhadap diri orang yang memberi nama tadi. Masyrakat primitf sangat memercayai mite karena mite merupakan titik temu dari beberapa ajaran pokok dalam masyarakat primitif. [11]

Ayat al-Quran tentang Paganisme

Keberadaan agama pagan sebagai agama tertua di dunia juga dikuatkan dalam beberapa ayat al-Qur`an, seperti yang dalam dua surat di bawah ini, yakni surat Nuh dan an-Najm.

(#qä9$s%ur  Ÿw ¨bâ‘x‹s? ö/ä3tGygÏ9#uä Ÿwur ¨bâ‘x‹s? #tŠur Ÿwur %Yæ#uqߙ Ÿwur šWqäótƒ s-qãètƒur #ZŽô£nSur ÇËÌÈ ô‰s%ur (#q=|Êr& #ZŽÏWx. ( Ÿwur ϊ̓s? tûüÏHÍ>»©à9$# žwÎ) Wx»n=|Ê ÇËÍÈ

Artinya: Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. (Surat An Nuh 23-24)

Kaum nabi Nuh tidak mau menerima ajaran dakwah Islam karena mereka tidak dapat melepaskan agama yang sudah mengakar dan dianut oleh nenek moyang mereka. Kepercayaan tersebut adalah kepercayaan yang menyembah berhala dan menganggapnya sebagai tuhan. Ada beberapa berhala yang dijadikan sesembahan oleh kaum Nuh. Lima di antara beberapa berhala yang dianggap sebagai pembesar adalah Wadd, Suwwa’, Yaghust, Ya`uq, dan Nasr. Berhala-berhala maupun nama tersebut merupakan hasil kreasi nenek moyang mereka seutuhnya.  

Setidaknya, ayat ini menginidikasikan bahwa agama pagan adalah agama masyarakat primitif. Kaum nabi Nuh yang saat itu masih memegang kuat kepercayaan nenek moyang dapat digolongkan memiliki salah satu kriteria masyarakat primitif. Masyarakat primitif umumnya adalah masyarakat yang tidak mau menerima perubahan, sehingga mereka jauh dari peradaban.

ãLäê÷ƒuätsùr& |M»¯=9$# 3“¨“ãèø9$#ur ÇÊÒÈ no4quZtBur spsWÏ9$¨W9$# #“t÷zW{$# ÇËÉÈ

 

Maka apakah patut kamu (ha orang-orang musyrik) menganggap AL Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? An-  Najm, ayat 19-20.

Orang Arab Jahiliyah meyakini bahwa tuhan memiliki tiga anak perempuan yang berbentuk berhala, yakni Al Lata, Al Uzza, dan Manah. Dua ayat ini juga menunjukkan bahwa yang dimaksud di dalamnya adalah agama pagan yang tergolong politheisme, karena menuhankan banyak hal. Dalam sisi lain, dua ayat ini juga menunjukkan agama dinamisme karena menuhankan barang, yakni berhala.

Analisis: Pandangan Islam dan Barat

Ada banyak ayat yang menyebutkan agama pagan, namun hanya disajikan dua ayat karena alasan efektifitas dan asumsi bahwa ketiganya, secara umum  sudah bisa mewakili ayat-ayat lainnya. Pandangan Islam, yang dalam hal ini tertuang dalam al-Qur`an mengeni agama pagan mengindikasikan bahwa kepercayaan ini adalah kepercayaan kaum terdahulu yang sifatnya turun temurun dan merupakan warisan dari leluhur mereka.

Kisah Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan patut menjadi perenungan awal yang cukup menarik sekaligus menggelitik. Bagaimana ia tidak puas ketika ditemukannya titik kelemahan pada setiap benda yang diyakininya sebagai Tuhan. Benda-benda itulah yang oleh masyarakat primitif dijadikan Tuhan. Akhirnya,  ia meyakini bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang mengatur semua benda yang sebelumnya dianggap Tuhan.benda-benda tersebut.

Dalam kutipan surat An Nuh, agaknya al-Qur`an tengah memosisikan dirinya sebagai suatu catatan sejarah teologi masyarakat primitif. Ini erat kaitannya dengan signifikansi Sejarah Agama-Agama pada aspek antropologis, yakni memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang barang-barang yang dianggap suci oleh masyarakat primitif. Al-Qur`an, sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya melukiskan bagaimana keercayaan masyarakat Nuh kala itu yang menuhankan beberapa dewa tersebut. Kepercayaan tersebut tidak mudah tercerabut dan digantikan dengan agama lain mengingat posisinya sebagi warisa sejarah yang sangat sulit untuk dikikis.

Adanya informasi mengenai nama-nama dewa ini setidaknya dapat memberikan nuansa lain dalam ayat al-Qur`an, karena pada akhir ayat ada pertanyaan yang agaknya cukup menjudge bahwa kepercayaan tersebut merupakan kepercayaan yang salah dan menyesatkan. Ayat pada surat An Najm agaknya juga senada dengan ayat pada surat Nuh, karena selain memaparkan sindiran atau tuntutan pengingkaran (lewat bentuk istifham), ayat ini juga memberikan informasi mengenai nama-nama dewa yang dianggap tuhan oleh bangsa Jahiliyah.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang cukup signifikan antara pandangan Islam dan sebagian antropolog mengenai keberadaan agama pagan. Islam, dalam hal ini al-Qur`an, sebagaimana yang ditegaskan  Al Faruqi dengan konsep dinul fitrahnya berpandangan bahwa Islam (monotheisme) adalah agama tertua dan kelahirannya muncul sebelum adanya agama politheisme, yakni pada masa Nabi Adam sebagai manusia pertama. Dalam perkembangannya, agama ini melahirkan beberapa religio naturalis, sebelum ataupun sesudah disempurnakannya dinul fitrah tersebut dengan ajaran Muhammad.

Sedangkan antropolog berpandangan bahwa agama pagan (politheisme, dalam artian dinamisme dan animisme) merupakan agama yang muncul sebelum kelahiran agama monotheisme (termasuk Islam).  Hal ini misalnya terjadi di beberapa tempat, seperti India, Mesir, China, dan Yunani.

Penulis tidak menemukan bahan bacaan yang membahas secara khusus mengenai pandangan barat mengenai agama pagan. Namun Honig menyebutkan beberapa contoh yang juga berasal dari Jerman, Amerika utara, dan Amerika Latin. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara barat pada awalnya juga menganut paham dinamisme dan animisme. Bahkan menurut salah satu sumber, hal tersebut masih tersisa.[12] Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah faktor yang paling dominan yang menyebabkan kepercayaan ini mulai terkikis. Kalangan mulai memepertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan dinamisme-animisme yang menurut mereka tidak rasional dan sangat kolot.

Penutup

Pada akhir bagian ini, ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan. Pertama, bahwa agama pagan (dinamisme dan animisme) adalah sebuah nama ilmiah yang dilekatkan pada gejala-gejala dan sistem keagamaan yang memiliki kesamaan di beberapa daerah oleh para ilmuwan. Kedua, ada beberapa ajaran yang menjadi bahan perbincangan, yaitu sikap hidup keagamaan, pengulangan kejadian, mana dan magi, dan mite. Ketiga, bahwa kepercayaan seperti dinamisme dan dinamisme masih ada sampai sekarang, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Selanjutnya, jika melihat ayat-ayat al Quran yang berkenaan dengan ajaran dinamisme dan animisme, maka penulis beranggapan bahwa keduanya sangatlah bertentangan dengan al-Qur`an, dalam hal ini Islam. Asumsi bahwa benda dan ruh dapat memberi pertolongan sangat tidak mungkin. Ini dibuktikan dengan pengalaman dan proses rasionalisasi nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.

Inilah akhir dari penulisan makalah ini. Semoga saran kontruktif teman-teman menjadikan makalah ini lebih sempurna. Dan kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wallahu a’lam bi al shawab.

DAFTAR PUSTAKA 

Agus, Bustanuddin.  Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: PT.Grafindo Persada, 2006.

A.G Honig,  Ilmu Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Daya, Burhanuddin. Agama Dialogis; Merenda Dialektika Realita Hubungan Antaragama. Yogyarakarta: Minang Lintas Budaya, 2004

Hasting, James (ed).  Ensyclopedia of Religion anda Ethic. New York : Charles Scribner`s Sons, vol. I.

http://islam-penamuda.blogspot.com/2007/11/kepercayaan-animisme-dan-dinamisme.html

Hartanto, Puis A. dan M. Dahlan al-Bary, Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola, 1994.

Nasution, Harun. Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1974

Tylor, Primitive Culture. New York: Harper Toechbook, 1973


[1]Lih. Burhanuddin Daya, Agama Dialogis; Merenda Dialektika Realita Hubungan Antaragama, (Yogyarakarta: Minang Lintas Budaya, 2004), hlm. 13

[2] Lih. James Hasting (ed),  Ensyclopedia of Religion anda Ethic,  (New York: Charles Scribner`s Sons), vol. I  hlm. 535.

[3] Lih. A.G Honig, Ilmu Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 63

[4]Lih. Tylor, Primitive Culture, (New York: Harper Toechbook, 1973), hlm. 46.

[6]Lih. Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 23

[7]Lih. A.G. Honiq,  Op. Cit., hlm. 51

[8] Lih. James Hangstin (ed), Op. Cit,  hlm. 535

[9]Lih. Pius A. Hartanto dan M. Dahlan al-Bary, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 558

[10] Lih.Bustanuddin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: PT.Grafindo Persada, 2006), hlm. 49.

[11]Lih. AG..Honiq, Op.Cit, hlm. 64

[12]Lih.http://islam-penamuda.blogspot.com/2007/11/kepercayaan-animisme-dan-dinamisme.html Diakses pada 10 Oktober, 2008.

NB: Makalah bersama dengan saudari Masyithah Mardhatillah S.Th.I dalam mata kulian Sejarah Agama-Agama yang diampu oleh Bapak Ustdzi Hamzah, M.Ag pada semerter III, 2008.

Komentar
  1. wine ayu amanda mengatakan:

    sekedar kritik aja, animisme – dinamisme bukan agama pagan looh. paganisme baru muncul setelah logika manusia maju dari memuja benda jadi memuja patung. makasih :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s